NgajiShubuh.or.id — Program Latihan Dasar Militer (Latsarmil) bagi calon manajer Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih merupakan inisiatif pemerintah untuk membangun mental tangguh, disiplin, dan jiwa kepemimpinan. Namun, program pembentukan karakter ala militer ini menjadi sorotan publik setelah menuai polemik dan insiden meninggalnya sejumlah peserta saat pelatihan. Latsarmil hingga membuat sejumlah kehilangan peserta, sebenarnya apa tujuan dari Latsarmil tersebut? Apakah kemampuan dasar militer ini digunakan untuk menjalankan amanahnya?
Ada tiga catatan kritis sebagai berikut. Pertama, meningkatkan ekonomi masyarakat dengan membangun koperasi saja itu sulit diwujudkan jika negeri ini masih diatur dengan sistem ekonomi kapitalisme sekuler. Bagaimana korelasi kesejahteraan yang dibangun koperasi jika pajak naik terus, bahan bakar minyak (BBM) naik, harga kebutuhan pokok juga ikut naik, pendidikan, dan kesehatan berkualitas menjadi barang mewah? Bagaimana bisa pembangunan koperasi berkorelasi dengan kesejahteraan? Justru yang dikhawatirkan berpotensi jadi praktik korupsi dan sebagainya.
Kedua, dasar militer digunakan untuk membangun mental manajer atau pembentukan karakter. Sungguh ini adalah konsep pembentukan karakter yang pasti gagal. Kenyataannya, latihan dasar militer tidak jauh dari perundungan dan perploncoan. Pendidikan militer cocok digunakan untuk menguatkan fisik bukan membentuk karakter. Parahnya, pendidikan militer di sistem pendidikan kapitalisme sekuler sering terjadi perundungan hingga menyebabkan kematian juga.
Lantas, apa yang harus diharapkan dari Latsarmil ini untuk membentuk karakter para manajer koperasi? Karakter yang seperti apa yang ditanamkan jika mereka ditempa dengan latihan fisik yang berpotensi cidera bahkan kematian? Lihatlah negeri ini banyak memiliki tentara maupun polisi yang memiliki fisik yang kuat dan tangguh, tapi bagaimana mereka bersikap? Bagaimana? Apakah benar sebagai pengayom rakyat dan pelindung rakyat? Selain itu, lihatlah betapa banyak kriminalitas yang begitu marak dan merajalela. Di mana peran mereka dalam menumpas kejahatan yang ada di negeri ini? Sungguh sangat tidak sinkron, jika membentuk karakter dengan latihan fisik.
Dalam Islam karakter dibentuk dengan pemikiran. Pemikiran ini yang diyakini dan dilaksanakan akan melahirkan pemahaman. Pemahaman akan kuat dengan terus ditambah dengan pemikiran. Pemikiran yang mampu mengubah manusia hina menjadi mulia adalah dengan pemikiran Islam. Pemikiran Islam yang didasarkan kepada aqidah aqliyah yakni meyakini Allah Swt. sebagai Pencipta dan Pengatur kehidupan akan mengantarkan manusia memiliki pola pikir dan pola sikap Islami. Dalam Islam segala bentuk perbuatan baik yang terlihat manusia atau tidak akan diminta pertanggungjawaban.
Oleh karena itu, faktor pendorong akidah inilah yang akan membentuk karakter baik yang diridhai Allah Swt. Akidah Islam yang kuat diimbangi dengan penerapan sistem Islam secara keseluruhan akan melahirkan generasi yang amanah dan taat. Jika manusia tidak mendapatkan pendidikan akidah Islam secara benar dan tinggal di sistem sekuler seperti hari ini, wajar saja yang lahir adalah generasi salah asuh yang serba bebas dan sulit diatur. Kepribadian yang kuat, tangguh, dan amanah hanya lahir dari sistem Islam yang mengkondisikan mereka untuk beredar di jalur ketaatan kepada Allah Swt.[] Ika Mawar


























