Bergabung dalam pemerintahan yang tidak menerapkan hukum Islam sering dibenarkan dengan alasan maslahat, seperti meningkatkan kemampuan administrasi negara, melatih kader di bidang politik, hingga menghindari konspirasi musuh. Namun, fakta di lapangan menunjukkan bahwa upaya mencari citra positif melalui cara ini justru selalu membuahkan hasil sebaliknya: munculnya contoh buruk dan hilangnya nilai-nilai Islam dari jiwa umat jika tidak dikawal oleh gerakan dan ulama yang ikhlas.
Ada beberapa risiko sistemik yang dihadapi ketika sebuah gerakan Islam memilih masuk ke dalam sistem yang ada:
- Pemimpin gerakan cenderung bersikap munafik; mengatakan hal yang menyenangkan penguasa saat bertemu mereka, namun meyakinkan umat dengan narasi berbeda agar tetap didukung. Hal ini menyebabkan pernyataan jemaah menjadi berubah-ubah dan tidak konsisten.
- Hubungan langsung dengan penguasa memungkinkan mereka mengukur kekuatan gerakan, menyingkap rahasia internal, dan memanfaatkan perselisihan antaranggota untuk memecah belah.
- Dakwah akhirnya hanya terbatas pada hukum-hukum yang tidak membahayakan sistem (favorable), sementara hukum-hukum prinsipil cenderung didiamkan. Gerakan Islam di dalam sistem bahkan bisa digunakan sebagai justifikasi bagi penguasa untuk menekan gerakan Islam lain yang berada di luar sistem.
- Demi harmoni sistem, istilah syar’i seperti “kafir dzimmi” mulai ditinggalkan atau diperhalus menjadi “warga negara” (al-muwathun), bahkan transaksi riba mulai dibenarkan. Pada akhirnya, maslahat menjadi standar perbuatan, bukan lagi keterikatan pada hukum syara.
Secara historis, upaya perubahan melalui jalur parlemen demokrasi selalu menemui jalan buntu. Contohnya di Aljazair, di mana kemenangan besar FIS dibatalkan secara sepihak, serta penggulingan Muhammad Mursi di Mesir. Oleh karena itu, perjuangan Islam seharusnya bersifat value-driven (berbasis nilai), bukan market-driven (berbasis keinginan pasar/suara pemilih).
Strategi dakwah diibaratkan seperti proses mengedukasi pasar. Sama halnya dengan air mineral yang butuh waktu bertahun-tahun untuk diterima masyarakat, dakwah juga membutuhkan waktu panjang untuk mengubah pemikiran umat agar mendukung yang benar.
Penting bagi pejuang dakwah untuk tetap istiqamah dengan metode yang benar dan selalu memiliki sikap husnuzhan (berprasangka baik) kepada Allah. Seperti kisah Nabi Musa yang memukul laut dengan tongkat atau Siti Maryam yang menggoyangkan pohon kurma, kontribusi fisik manusia mungkin kecil, namun itu adalah bentuk ikhtiar yang wajib dilakukan sementara pertolongan mutlak datang dari Allah. Perubahan sejati hanya bisa diraih dengan membangun jemaah yang benar dan mendidik umat untuk berpikir benar.[]
Disarikan dari kajian dengan tema tersebut di NSTV:


























