NSnews Network by Ngaji Shubuh - Nutrisi Ruh di Setiap Shubuh | Saksikan tayangan livestreaming setiap hari dan nantikan artikel-artikel menarik dari kami. | Bergabung bersama puluhan ribu anggota, dapatkan informasi bermanfaat setiap harinya, dapatkan pula softcopy kajian yang bermanfaat untuk anda, dan bagikan kebaikan ini ke seluruh keluarga serta sahabat anda.

Harga Telur Babak Belur, Jangan Auto Menyalahkan MBG Libur

NgajiShubuh.or.id — Harga telur ayam ras di tingkat peternak sedang anjlok drastis hingga menyentuh kisaran Rp18.500 sampai Rp23.000 per kilogram di berbagai wilayah Indonesia. Kondisi yang disebut “babak belur” ini membuat para peternak rakyat merugi besar. Hal itu terjadi karena harga jual saat ini berada jauh di bawah Harga Acuan Pembelian (HAP) pemerintah sebesar Rp26.500 per kilogram, serta tidak mampu menutup biaya produksi (HPP) yang mencapai Rp23.000–Rp24.000 per kilogram.

Tetiba banyak orang yang menyalahkan karena program Makan Bergizi Gratis libur, sehingga terjadi over supply. Padahal memang sebelumnya harga telur segitu, justru karena MBG harga telur naik drastis dan tidak mau turun. Menyorot babak belurnya harga telur, seharusnya negara berperan di sini. Bagaimana ketika ada MBG harga telur tidak naik, begitu pun ketika MBG libur harga telur tidak turun drastis. Seandainya jika keberadaan MBG tidak membuat harga pangan naik, tentunya ketika mereka libur, juga tidak akan memengaruhi harga.

Namun, inilah yang terjadi di negeri ini, seolah-olah harga telur anjlok karena tidak ada MBG padahal program ini berpotensi terjadi korupsi dan pemborosan anggaran negara. Dampaknya, negara melakukan efisiensi anggaran demi tetap memuluskan program MBG. Rakyat lagi jadi korban efisiensi anggaran. Sekarang masalahnya adalah, di mana komitmen negara menyeimbangkan harga pasar dan menyelamatkan harga-harga para peternak dan petani yang hancur ketika terjadi seperti ini?

Sepertinya peternak maupun petani dibiarkan bertarung sendiri menghadapi harga pasar. Padahal seharusnya pemerintah bisa membeli telur-telur tersebut agar para peternak tidak rugi, lalu didistribusikan kepada masyarakat dengan harga murah. Sehingga para peternak dan petani selamat dari ancaman kebangkrutan. Lalu di mana peran Koperasi Desa Merah Putih jika terjadi seperti ini? Katanya koperasi ini untuk menyejahterakan para petani maupun peternak?

Peternak telur menghadapi dilema, ketika harus memberi pakan ayam petelur yang mahal yakni mereka beli kepada kapitalis besar tapi harga telurnya anjlok di pasaran. Hal itu juga sama yang dirasakan petani ketika harus beli pupuk mahal, dan harganya hancur ketika panen. Beginilah gambaran betapa kacaunya negeri ini karena sistem kapitalisme sekuler. Sistem ini memutuskan kebijakan-keebijakan yang lebih menguntungkan para kapitalis. Kebijakan tidak diputuskan berdasarkan asas keadilan tapi berdasarkan kepentingan para kapitalis. Wajar saja jika rakyat ambyar karena jadi korban keserakahan para kapitalis. Sudah saatnya hijrah ke sistem Islam yang adil dan sempurna yakni sistem yang sudah diturunkan Yang Maha Pencipta kepada Rasulullah saw.[] Ika Mawar

0Shares

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU 🔥