Rubrik Fikih Islam ini diasuh oleh Ust. Robi Pamungkas
Jumhur ulama empat madzhab sepakat bahwa aurat lelaki di hadapan lelaki lain adalah antara di bawah pusar dan di atas lutut. Hanya saja ada satu riwayat dari Madzhab Hanbali yang menyatakan bahwa aurat lelaki adalah hanya bagian depan dan belakang saja.
Dalilnya adalah sabda Nabi صلى الله عليه وسلم:
“Apa-apa yang ada di bawah pusar adalah aurat.” (HR. Ad-Daruqutni, Juz 1/23, dan HR. Ahmad, Juz 2 /187)
Madzhab Hanafi memandang bahwa pusar bukanlah aurat sedangkan lutut adalah termasuk ke dalam bagian aurat. Mereka berdalil dengan suatu riwayat yang menyatakan bahwa Husain bin Ali رضي الله عنه menampakan pusarnya, lalu Abu Hurairah رضي الله عنه mencium pusarnya. Dalil lutut termasuk aurat adalah sabda Nabi صلى الله عليه وسلم, beliau bersabda, “Lutut termasuk aurat.” (HR. Ad-Daruqutniy, Juz 1/231. Dari hadits Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه, kemudian beliau menyebutkan kedha’ifan salah satu perawinya.)
Sedangkan Madzhab Syafii dan Hanbali menyatakan jika pusar dan lutut adalah bukan termasuk aurat; mereka berdalil dengan riwayat yang diriwayatkan oleh Abu al-Ayyub al-Anshari رضي الله عنه, beliau berkata: Rasul صلى الله عليه وسلم bersabda, “Apa-apa yang diatas lutut adalah aurat, dan apa-apa yang di bawah pusar serta di atas lutut adalah aurat.” (HR. Ad-Daruquthniy, Juz 1/231. Hadis ini didha’ifkan sanadnya oleh Ibnu Hajar dalam at-Talkhis, juz 1/279, al-Mau’suah al-Fiqhiyah al-Kuwaitiyah, Juz 31/50)
Hanya saja dalil ini dikuatkan oleh hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, dari Abi Darda رضي الله عنه, beliau berkata: “Saya sedang duduk di sisi Nabi صلى الله عليه وسلم, tiba-tiba datang Abu Bakr sambil memegang ujung pakaiannya, sehingga lututnya tersingkap. Lalu Nabi صلى الله عليه وسلم berkata, ‘Sahabat kalian (ini) telah bersengketa,’ lalu Abu Bakr رضي الله عنه mengucapkan salam.” (HR. Bukhari, No. 3461)
Dari Abu Musa رضي الله عنه: Bahwa Nabi صلى الله عليه وسلم sedang duduk di suatu tempat yang terdapat air di dalamnya. Sungguh lutut beliau atau kedua lututnya telah tersingkap. Tatkala Utsman masuk, beliau menutupnya.” (HR. Bukhari, No. 3695)
Kedua hadits ini menunjukkan bahwa lutut bukanlah termasuk aurat, karena Nabi صلى الله عليه وسلم membiarkan sahabat Abu Bakr menyingkap lututnya, bahkan beliau sendiri membiarkan lututnya tersingkap dan dilihat oleh para sahabat. Adapun tatkala Utsman masuk, Nabi menutup lututnya, dikarenakan Nabi malu kepada Utsman sebagai sahabat yang sangat pemalu, bahkan malaikat pun malu kepadanya, sehingga Nabi takut membuat tidak nyaman Utsman (Fath al-Bari, Juz 7/55).
Adapun hadits yang menyatakan bahwa Nabi صلى الله عليه وسلم membiarkan lututnya terbuka, maka kita takwilkan bahwa yang dimaksud adalah membuka sebagian pakaiannya bukan semuanya. Hal itu karena dalam masalah ini adalah tentang kecermatan mata, maka tidak boleh menjadikannya generalisasi atau hujjah. Hadits yang dimaksud adalah riwayat Aisyah رضي الله عنها beliau berkata, “Rasul صلى الله عليه وسلم sedang terlentang di rumahnya Aisyah, dengan keadaan paha dan kedua kakinya terbuka. Abu Bakr meminta izin untuk masuk, maka Nabi mengizinkannya masuk, sedangkan Nabi dalam keadaan terbuka pahanya, lalu beliau berbicara, kemudian Utsman meminta izin masuk…”
Adapun hadits Anas رضي الله عنه, bahwa Nabi صلى الله عليه وسلم memerangi Khaibar, menyusuri lorong Khaibar, kemudian beliau menyingkapkan sarungnya dari pahanya, sehingga aku bisa melihat putihnya paha Nabi صلى الله عليه وسلم.“ (HR. Bukhari, No. 371)
Namun hadits ini dijelaskan oleh hadits lain yang diriwayatkan oleh Imam Muslim bahwa maksud Nabi menyingkap sarungya adalah bahwu sarung beliau tersingkap oleh sesuatu yang lain, bukan karena beliau menyengaja menyingkapnya (al-Majmu’ Syarh al-Muhadzab, Juz 3/ 135).
Hadits yang dimaksud adalah hadits yang diriwayatkan dari Anas رضي الله عنه:
أَنّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم غَزَا خَيْبَرَ، قَالَ: فَصَلَّيْنَا عِنْدَهَا صَلَاةَ الْغَدَاةِ بِغَلَسٍ، فَرَكِبَ نَبِيُّ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم وَرَكِبَ أَبُو طَلْحَةَ وَأَنَا رَدِيفُ أَبِي طَلْحَةَ، فَأَجْرَى نَبِيُّ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فِي زُقَاقِ خَيْبَرَ، وَإِنَّ رُكْبَتِي لَتَمَسُّ فَخِذَ نَبِيِّ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم وَانْحَسَرَ الْإِزَارُ عَنْ فَخِذِ نَبِيِّ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم وَإِنِّي لَأَرَى بَيَاضَ فَخِذه
“Bahwa Nabi صلى الله عليه وسلم memerangi Khaibar. Anas berkata, ‘Kami shalat subuh di Khaibar dengan suasana yang gelap, lalu Nabi صلى الله عليه وسلم naik kuda diikuti oleh Abu Thalhah, sedangkan aku membonceng kepada Abu Thalhah. Lalu Nabi صلى الله عليه وسلم menyusri lorong Khaibar. Sungguh kedua lututku menyentuh lututnya Nabi صلى الله عليه وسلم, maka menjadi tersingkaplah sarung beliau dari pahanya sehingga aku bisa melihat putih pahanya.” (HR. Muslim, No. 1802)
***
Kesimpulannya, jumhur ulama sepakat bahwa aurat lelaki adalah antara pusar dan lutut. Adapun pendapat paha bukan termasuk aurat adalah pendapat yang lemah, walaupun memang ada sebagian ulama yang menyatakan sebagai bukan termasuk aurat seperti tabi’in ‘Atha. Waallahua’lam.[]
Gabung di channel Tanya Fikih untuk bertanya masalah apapun seputar fikih dalam keseharian.
























