NgajiShubuh.or.id — Polisi mengungkap sejumlah faktor yang diduga menjadi pemicu dokter Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Anestesi, Alex Cristo Loris (30), mengakhiri hidup di Kabupaten Siak, Riau. Kesimpulan tersebut diperoleh setelah Satreskrim Polres Siak melakukan penyelidikan atas kematian dokter residen RSUD Tengku Rafian Siak tersebut.
Kasatreskrim Polres Siak AKP Raja Kosmos Parmulais mengatakan, hasil pemeriksaan psikologi forensik menunjukkan korban diduga mengalami tekanan psikologis akibat akumulasi berbagai persoalan. Biaya Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) jalur reguler universitas berkisar antara Rp15-40 juta per semester untuk UKT/SPP, dengan total dana mandiri hingga ratusan juta rupiah. Wajar saja jika pelaku sangat tertekan dan terjebak pinjol.
Stres
Menyoroti fakta di atas ada beberapa yang patut dikritisi. Patut diduga ada faktor yang membuat stres dan depresi korban hingga memutuskan bunuh diri. Pertama, beban biaya PPDS. Kedua, beban kuliah kedokteran spesialis. Ketiga, beban pinjaman online. Sungguh pelaku bunuh diri benar-benar berada di pusaran tekanan karena pilihan hidupnya sendiri.
Kuliah kedokteran spesialis itu memang harus pintar dan wajib punya uang. Ketika dia tidak punya biaya lalu terjebak pinjol ini sama saja menyelesaikan masalah dengan masalah yang lebih besar. Akhirnya apa? Bunuh diri karena ia berpikir tidak ada jalan lain kecuali bunuh diri. Padahal bunuh diri ini juga masalah yang akan membebani hidupnya di akhirat. Nyawa yang memberi Allah Swt. dan hanya Allah Swt. yang berhak mencabut nyawa hamba-Nya.
Rusak
Sistem kehidupan hari ini sangat rusak, sudah beban hidup makin besar, tapi solusi yang ditawarkan malah pinjaman online (pinjol) atau judi online (judol). Anehnya, pinjol ini subur di negeri ini, bahkan mendapatkan legitimasi. Siapa pun bisa mengakses dengan mudah pinjol ini, tapi beban bunga yang tinggi terus mengintai mereka yang sudah terlanjur pinjol.
Membayar biaya PPDS dengan pinjol itu bagaikan menabur luka dengan duri. Hal itu akan menghancurkan pelaku itu sendiri. Hal itulah yang dilakukan pelaku hingga ia memilih untuk mengakhiri hidupnya. Sistem pendidikan tinggi hari ini telah dikapitalisasi, dampaknya biaya kuliah sangat mahal. Padahal menyelenggarakan pendidikan murah hingga gratis adalah tanggung jawab negara, tapi negara lepas tangan. Walhasil biaya pendidikan tinggi hari ini sangat mahal. Inilah yang membebani mahasiswa hingga ia melakukan apa saja demi melanjutkan kuliahnya.
Sadar
Sudah selayaknya kita sadar, sistem kehidupan yang diatur dengan mengabaikan syariat Islam yakni sistem kapitalisme sekuler, maka yang diciptakan adalah lingkaran setan yang menyeret siapa pun yang hidup di dalamnya untuk terus berkubang dalam kemaksiatan dan kemungkaran. Hidup sudah susah, tapi malah melakukan pinjol (riba). Padahal riba yang dilakukan ini yang membuat siapa pun itu terus berada dalam lingkaran setan, sehingga solusi praktis seperti bunuh diri, merampok, menipu, dan sebagainya terus dilakukan karena jebakan utang riba tersebut.
Memang hidup itu penuh masalah, sudah tahu banyak masalah seharusnya tetap berpegang teguh kepada tuntutan syariat Islam yang dititipkan kepada Nabi Muhammad SAW, bukan malah abai dengan solusi yang Rasulullah SAW bawa. Sudah saatnya semua sadar untuk kembali kepada Allah Swt. yakni menerapkan aturan Allah Swt. secara kaffah atau totalitas. Ketaatan kepada Allah Swt. tidak hanya dilakukan dalam aspek individu, tapi juga masyarakat dan negara. Sehingga terwujud ketakwaan yang menyeluruh dalam segala aspek kehidupan.[] Ika Mawarningtyas



























