NSnews Network by Ngaji Shubuh - Nutrisi Ruh di Setiap Shubuh | Saksikan tayangan livestreaming setiap hari dan nantikan artikel-artikel menarik dari kami. | Bergabung bersama puluhan ribu anggota, dapatkan informasi bermanfaat setiap harinya, dapatkan pula softcopy kajian yang bermanfaat untuk anda, dan bagikan kebaikan ini ke seluruh keluarga serta sahabat anda.

Karhutla yang Membakar Masa Depan dan Menghancurkan Zamrud Khatulistiwa

NgajiShubuh.or.id — Kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di daerah Sumatra maupun Kalimantan telah meluas dan mengorbankan kesehatan penduduk yang ada di sekitarnya. Diduga kuat kebakaran hutan ini bukan bencana akibat musim kemarau. Justru musim kemarau yang dimanfaatkan untuk memuluskan pembukaan lahan dengan cara pembakaran hutan.

Pembukaan lahan dengan cara manual membutuhkan biaya dan tenaga yang banyak. Satu-satunya cara yang praktis dan mudah adalah dengan melakukan pembakaran hutan. Hanya bermodal korek api bisa membuat kebakaran yang menggila dan cepat tersebar, apalagi didukung dengan musim kemarau.

Sampai saat ini, belum ada tindakan tegas mencegah kebakaran hutan terulang kembali. Pemerintah lebih tampak pada upaya memadamkan api dan mengobati keluarga yang terdampak infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) atau mengevakuasi korban yang rumahnya diserang si jago merah. Pengusutan pelaku pun sulit dilakukan karena memang diduga kuat dalangnya adalah korporasi besar yang bisa memesan undang-undang untuk memuluskan segala kepentingannya.

Kapitalisme

Sistem kapitalisme telah memporak-porandakan kehidupan. Sistem ini memproduksi kebijakan dan undang-undang yang memuluskan kepentingan korporasi, tetapi menzalimi masyarakat secara keseluruhan.

Bayangkan, negara yang seharusnya mengurusi urusan umat dari Sabang hingga Marauke, tetapi mereka hanya menjadi pelayan para korporat/kapitalis dengan menginjak-injak kepentingan publik. Hutan tidak boleh diserahkan konsensi pengelolaanya kepada individu/swasta/asing. Negara harus mengelolanya demi kepentingan publik, bukan demi segelintir korporasi.

Sebagaimana soal bencana kebakaran yang diundang untuk menghancurkan hutan di Indonesia. Bagaimana bisa, hutan di Indonesia sebagai jantung kehidupan dirusak demi kepentingan korporasi untuk menanam sawit? Mereka menghancurkan berbagai ekosistem yang ada di hutan demi keserakahan para kapitalis.

Walhasil, rakyat yang menjadi tumbalnya, seperti terkena ISPA, rumahnya ikut dilahap si jago merah, ruang hidupnya rusak, dan sebagainya. Ini bukan bencana biasa, tapi bencana yang tersistem dan terstruktur yang dilakukan kapitalisme-demokrasi.

Membakar Masa Depan

Jangan dikira hanya hutan yang terbakar, tetapi masa depan negeri ini mendapatkan kondisi alam yang sehat dan sejahtera ikut suram. Kebakaran hutan yang meluas telah menghancurkan zamrud khatulistiwa. Padahal, Indonesia negeri kaya yang memiliki sumber daya alam, kekayaan hayati, dan bahari.

Seharusnya pemerintah menjaga dan melestarikan hutan tropis yang ada di negeri ini, bukan malah eksploitasi kekayaan alam dan sumber daya alam demi kepentingan korporasi. Terlebih hutan yang rusak mengundang rentetan bencana, seperti banjir, tanah longsor, dan sebagainya. Kondisi hutan yang kaya akan fauna dan flora dipaksa menjadi hutan homogen yakni hutan sawit.

Pembukaan lahan demi hutan sawit bukan karena permintaan pasar dalam negeri, tapi luar negeri. Mereka negara asing juga punya hutan, tapi hutan mereka jaga, cukup hutan di Indonesia saja yang berubah menjadi hutan sawit. Walhasil, banyak satwa yang terancam punah dan kondisi hutan yang rusak karena diubah menjadi sawit.

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia. (Melalui hal itu) Allah membuat mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (TQS. Ar-Rum: 41)

Rasulullah SAW bersabda, “Demi Allah yang jiwaku berada di tangan-Nya, kalian benar-benar harus melakukan amar makruf dan nahi mungkar, atau jika tidak, Allah hampir-hampir menimpakan azab dari-Nya kepada kalian, kemudian kalian berdoa kepada-Nya namun Dia tidak mengabulkan doa kalian.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi)

Kerusakan alam yang terjadi hari ini akibat dari ulah tangan manusia. Seharusnya, negara sadar dan segera berbenah yakni kembali mengatur urusan umat dengan aturan Islam. Namun, jika manusia tetap sombong, artinya mereka sedang mengundang bencana yang lebih besar lagi. Apalagi jika mereka tidak melakukan dakwah dan muhasabah lil hukam (mengoreksi penguasa) maka bencana akan menimpa semuanya.[] Ika Mawarningtyas

0Shares

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU 🔥