Banyak orangtua yang secara tidak sadar terjebak dalam pola asuh yang selalu berusaha menyingkirkan setiap hambatan di depan anak-anak mereka. Pola asuh seperti ini bertindak bagaikan mesin pembersih salju atau buldozer yang meratakan semua batu sandungan agar sang anak tidak pernah merasakan ketidaknyamanan dalam hidup. Ketika anak menghadapi sedikit masalah sosial dengan teman, lupa membawa tugas sekolah, atau bahkan ketika beranjak dewasa menghadapi kesulitan di perguruan tinggi dan dunia kerja, orangtualah yang langsung maju paling depan untuk menyelesaikannya. Padahal, kehidupan alami memang dirancang beriringan dengan kesulitan, di mana kemudahan yang sejati hanya bisa diraih dan dirasakan setelah seseorang berhasil melampaui tantangan tersebut.
Tindakan meratakan jalan hidup anak ini sebenarnya merampas ruang latihan penting yang mereka butuhkan untuk tumbuh menjadi manusia yang tangguh, resilien, dan mandiri. Tanpa adanya kesempatan untuk menghadapi tantangan sejak dini, anak-anak tidak akan memiliki kesempatan untuk melatih otot mental dan membangun keterampilan hidup yang matang. Kebiasaan mengambil alih tugas anak yang sebenarnya sudah mampu mereka lakukan sendiri sesuai usianya—hanya karena orangtua tidak tega atau tidak sabar—justru melemahkan ketahanan mental mereka. Orangtua kerap kali melakukan hal ini bukan karena tidak sayang, melainkan karena salah memaknai cinta, yang sering kali dipicu oleh luka pengasuhan masa lalu, ketakutan berlebih akan kegagalan anak, tekanan sosial, hingga rasa bersalah karena kesibukan bekerja.
Akibat jangka pendek dari pola asuh yang terlalu memanjakan ini adalah anak tidak belajar bertanggung jawab, sulit memecahkan masalah secara mandiri, kurang percaya diri, serta memiliki toleransi yang sangat rendah terhadap rasa kecewa dan kegagalan. Dalam jangka panjang, anak-anak yang dibesarkan dengan cara ini tumbuh menjadi pribadi yang rentan mengalami kecemasan, stres, dan depresi karena tidak memiliki daya juang. Ketika memasuki dunia nyata yang keras, mereka cenderung menyalahkan lingkungan ketika gagal, mudah menyerah, mengalami krisis kemandirian, dan terus-menerus bergantung pada orangtua bahkan untuk keputusan-keputusan kecil dalam hidup mereka.
Untuk melahirkan generasi yang kuat, pendekatan terbaik adalah memadukan kasih sayang yang dalam dengan pembentukan karakter yang kokoh. Kasih sayang berfungsi untuk memenuhi kebutuhan emosional anak agar mereka merasa dicintai dan diterima, namun ketegasan tetap harus ditegakkan dalam hal nilai-nilai moral, adab, dan tanggung jawab. Alih-alih bertindak sebagai buldozer yang membersihkan jalan, peran orangtua yang sebenarnya adalah sebagai penyedia tangga bantuan yang membimbing anak secara bertahap menuju kemandirian mereka.
Langkah praktis yang bisa diambil dimulai dengan mengurangi kebiasaan mengambil alih urusan anak dan menggantinya dengan pemberdayaan secara bertahap. Orangtua perlu melatih anak melakukan tugas secara mandiri, memberikan bimbingan bersama, lalu membiarkan mereka melakukannya sendiri seiring bertambahnya usia. Ketika anak menemui kesulitan, alih-alih langsung memberikan solusi instan, orangtua sebaiknya mengajukan pertanyaan-pertanyaan pemantik yang memicu anak untuk berpikir kreatif mencari jalan keluar sendiri. Membiarkan anak mengalami kegagalan-kegagalan kecil dan merasakan konsekuensi logis dari tindakan mereka juga sangat penting sebagai bentuk vaksinasi mental sebelum mereka menghadapi tantangan dunia yang jauh lebih keras di masa dewasa kelak.[]
Disarikan dari kajian dengan tema tersebut di NSTV:



























