NSnews Network by Ngaji Shubuh - Nutrisi Ruh di Setiap Shubuh | Saksikan tayangan livestreaming setiap hari dan nantikan artikel-artikel menarik dari kami. | Bergabung bersama puluhan ribu anggota, dapatkan informasi bermanfaat setiap harinya, dapatkan pula softcopy kajian yang bermanfaat untuk anda, dan bagikan kebaikan ini ke seluruh keluarga serta sahabat anda.

Paradoks Doa Lintas Agama

NgajiShubuh.or.id — Ketika perayaan hari ulang tahun atau hari jadi sebuah kota atau negara, ada kegiatan yang cukup menggelitik dilakukan, yakni doa lintas agama. Mereka diundang duduk bersama dan bergantian berdoa nenurut keyakinan masing-masing dalam satu forum yang sama. Sungguh ini sangat paradoks! Beberapa keyakinan yang berbeda arah coba dikumpulkan dan disatukan atas nama toleransi. Sungguh ini bukan toleransi, tapi sudah kebablasan.

Dalam Islam tidak ada doa bersama lintas agama dan tidak selayaknya kaum Muslim berdoa bersama dengan keyakinan agama lain. Bayangkan, di saat yang bersamaan dipertontonkan doa masing-masing kepada Tuhan mereka masing-masing. Seolah acara doa bersama lintas agama ini membenarkan adanya banyak tuhan yang bisa disembah. Padahal dalam Islam sudah disampaikan hanyalah Islam, din yang diridai Allah Swt. Sebagai negeri mayoritas Muslim, penguasa saat ini memaksa kaum Muslim menanggalkan keyakinannya dan mengikuti tradisi agama lain. Ada beberapa hal yang perlu dikritisi terkait doa bersama lintas agama.

Pertama, doa bersama lintas agama tidak boleh dilakukan karena membawa misi pluralisme yang menyatakan semua agama benar. Padahal umat Islam diperintahkan untuk meyakini Islam sebagai agama yang benar dan mengingkari keyakinan lainnya. Oleh karena itu, sikap kaum Muslim seharusnya membiarkan ibadah mereka bukan berdiri dalam satu panggung berdoa bersama, seolah-olah ada banyak tuhan yang bisa disembah. Dalam surah Al-Maidah ayat 3 disampaikan, “Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridai Islam sebagai agamamu.”

Kedua, doa bersama lintas agama ini melecehkan keyakinan din Islam dan ajarannya karena menyejajarkan Allah Swt. dengan tuhan-tuhan lain dalam satu forum. Dalam surah An-Nisa ayat 36 difirmankan, “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun…”. Dalam Islam sangat dilarang keras untuk mempersekutukan Allah Swt. Oleh karenanya, patut dipertanyakan kepada panitia penyelenggara acara tersebut, mengapa harus menyejajarkan Islam dengan agama lain? Padahal penguasanya Muslim, seharusnya tidak patut menyelenggarakan acara tersebut.

Ketiga, memohon keselamatan kepada banyak Tuhan ini adalah tanda kesyirikan. Jika seseorang ingin meminta keselamatan seharusnya cukup meminta kepada Allah Swt. bukan kepada banyak Tuhan. Oleh karena itu, sebagai negeri mayoritas Muslim tidak perlu melakukan kegiatan yang mempertontonkan kesyirikan yang nyata seperti doa bersama lintas agama. Firman-Nya dalam TQS An-Naml ayat 62, “Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di Bumi? Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)? Amat sedikitlah kamu mengingati(Nya).”

Fenomena doa bersama lintas agama yang kerap terjadi di berbagai kota bahkan dilakukan oleh penguasa negeri ini adalah akibat dari penerapan sistem sekuler kapitalisme. Sistem ini menihilkan peran Islam dalam mengatur kehidupan, Islam tidak boleh dijadikan pengatur kehidupan secara totalitas. Pada akhirnya yang terjadi adalah mencampuradukkan yang haq dan yang batil. Hal inilah yang menyebabkan akidah kaum Muslim menjadi kabur, bahkan membawa kaum Muslim kepada kesyirikan yang dimurkai Allah Swt.

“Sesungguhnya, orang yang berbuat syirik terhadap Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolong pun.” (TQS. Al-Maidah:72)

Berharap kesejahteraan dengan doa bersama lintas agama bagaikan menegakkan benang basah. Kesejahteraan hanya mampu diwujudkan ketika sebuah negeri melaksanakan ketaatannya secara kaffah kepada Allah Swt. Hal tersebut ditunjukkan melalui pelaksanaan syariat Islam dalam segala aspek kehidupan. Bukan hanya soal ibadah, tapi dalam mengatur politik, ekonomi, pendidikan, kesehata, sosial, budaya, pertahanan, dan keamanan mengadopsi hukum Islam.

Islam adalah din yang mampu mengatur segala aspek kehidupan. Ketika Islam diterapkan, manusia memerintah berdasarkan tuntunan wahyu Ilahi yakni Al-Qur’an dan sunah, bukan berdasarkan hawa nafsunya.

“Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, niscaya Kami akan membukakan untuk mereka berbagai keberkahan dari langit dan bumi. Akan tetapi, mereka mendustakan (para rasul dan ayat-ayat Kami). Maka, Kami menyiksa mereka disebabkan oleh apa yang selalu mereka kerjakan.” (TQS. Al-Araf: 196).[] Ika Mawarningtyas

0Shares

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU 🔥