Fenomena pernikahan di era media sosial kerap memunculkan standar ideal baru yang sangat bertumpu pada materi dan penampilan fisik. Suami sering kali dinilai semata-mata dari kemampuan finansialnya atau dikenal sebagai sosok penyedia materi mutlak. Dalam pandangan yang sempit ini, suami hanya diposisikan sebagai mesin pencari uang yang mengabaikan peran penting lainnya seperti kedekatan emosional dan keterlibatan langsung dalam mengasuh anak. Sebaliknya, istri diposisikan sebagai simbol status sosial atau hiasan visual yang merefleksikan kesuksesan sang suami. Fokus utama istri bergeser pada upaya menjaga penampilan agar selalu tampak sempurna dan glamor di ruang publik, sementara peran domestik serta kontribusi intelektualnya dikesampingkan.
Hubungan yang dibangun di atas fondasi tersebut menciptakan relasi yang sangat transaksional. Kasih sayang yang tulus serta ikatan batin yang dalam menjadi hilang karena interaksi hanya didasarkan pada hitungan untung dan rugi secara materi. Pernikahan seperti ini menjadi sangat rapuh dan mudah retak. Ketika suami mengalami kegagalan finansial, istri cenderung kehilangan rasa hormat atau bahkan memilih untuk pergi. Sebaliknya, ketika istri mulai menua dan mengalami perubahan fisik, suami dapat kehilangan ketertarikan dan mencari pengganti yang baru. Selain kerapuhan hubungan, standar ini juga menimbulkan tekanan mental yang luar biasa bagi kedua belah pihak. Suami rentan mengalami stres finansial akibat tuntutan gaya hidup yang terus meningkat demi menjaga pencitraan, sedangkan istri hidup dalam kecemasan konstan akan penuaan dan ketidaksempurnaan fisik. Anak-anak yang tumbuh dalam lingkungan ini pun kehilangan keteladanan tentang kehangatan keluarga sejati dan kerja sama yang tulus karena diasuh dengan nilai-nilai yang serbamaterialistis.
Jika ditarik dari sejarahnya, pembagian peran yang timpang ini bukan sekadar tren masa kini. Fenomena tersebut adalah produk dari perubahan sistem ekonomi. Pada masa agraris, keluarga bekerja sama di ladang sebagai unit ekonomi yang saling mendukung tanpa menonjolkan satu pencari nafkah tunggal. Revolusi industri kemudian mengubah pola ini dengan menarik laki-laki bekerja ke pabrik dan membatasi perempuan di ranah domestik. Memasuki abad ke-20, ketika perempuan mulai bekerja dan memiliki penghasilan sendiri, budaya konsumerisme merangsang kebutuhan gaya hidup mewah yang jauh melampaui kebutuhan pokok. Sejarah mencatat bahwa istilah istri sebagai lambang status sosial mulai populer di akhir dekade delapan puluhan, menggambarkan bagaimana pria yang mapan secara ekonomi cenderung meninggalkan istri pertama yang menemani mereka dari nol demi mencari pasangan baru yang lebih muda sebagai penunjang gengsi.
Pandangan hidup yang materialistis ini jelas sangat mereduksi hakikat kemanusiaan dan spiritualitas pernikahan. Menghadapi tantangan ini, sangat penting untuk mengembalikan konsep rumah tangga kepada nilai-nilai ketakwaan. Kepemimpinan suami tidak boleh diukur dari tebalnya isi dompet, melainkan dari tanggung jawabnya dalam melindungi, membimbing, dan menjadi teladan kesalehan bagi keluarganya. Nafkah yang diberikan pun harus disesuaikan secara realistis dengan kemampuan ekonomi, bukan demi memaksakan gaya hidup di luar batas. Di sisi lain, kehormatan seorang istri terletak pada peran strategisnya sebagai pendidik generasi pertama serta mitra diskusi yang sejajar bagi suami, bukan sebagai pajangan belaka. Pernikahan pada hakikatnya adalah ibadah panjang yang membutuhkan pengorbanan, kerja sama yang tulus, serta kesiapan untuk menghadapi suka dan duka bersama demi mencapai keberkahan hidup.[]
Simak kajian lengkapnya secara mendetail di NSTV:


























