NSnews Network by Ngaji Shubuh - Nutrisi Ruh di Setiap Shubuh | Saksikan tayangan livestreaming setiap hari dan nantikan artikel-artikel menarik dari kami. | Bergabung bersama puluhan ribu anggota, dapatkan informasi bermanfaat setiap harinya, dapatkan pula softcopy kajian yang bermanfaat untuk anda, dan bagikan kebaikan ini ke seluruh keluarga serta sahabat anda.

Ekosistem Ketakwaan di Balik Mahakarya Ilmuwan Muslim

Kejayaan peradaban Islam di masa lalu dalam melahirkan ilmuwan-ilmuwan besar tidak hanya bertumpu pada kecerdasan individu atau fasilitas pendidikan gratis dari negara, tapi juga pada sebuah ekosistem ketakwaan. Dalam ekosistem ini, ilmu pengetahuan tumbuh subur karena adanya integritas, kejujuran, dan rasa tanggung jawab sosial yang kuat di tengah masyarakat.

Salah satu tokoh besar yang lahir dari ekosistem ini adalah Muhammad Ibnu Jarir At-Thabari, seorang jenius yang dikenal sebagai ahli tafsir, sejarah, dan fikih. Meski hidup di era keemasan Khilafah Abbasiyah di mana pendidikan tidak dipungut biaya, para penuntut ilmu tetap menghadapi tantangan finansial yang besar untuk biaya perjalanan lintas negara, membeli kertas yang mahal, hingga membayar jasa penyalin kitab (warraqin). At-Thabari sendiri pernah mengalami masa-masa sulit dan kekurangan saat belajar di Makkah.

Kisah inspiratif juga terjadi ketika seorang lelaki tua bernama Abu Ghias menemukan sebuah kantong berisi 1.000 dinar (setara dengan sekitar 10 miliar rupiah saat ini) milik seorang saudagar dari Khurasan yang hilang di Makkah. Meskipun Abu Ghias hidup dalam kemiskinan ekstrem—hanya memiliki satu pakaian tua dan sembilan anggota keluarganya sering kelaparan—ia tetap teguh menjaga kejujurannya. Selama 86 tahun hidupnya, ia berkomitmen tidak membiarkan barang haram masuk ke tubuhnya dan menolak mengambil imbalan apa pun secara tidak sah.

Kejujuran luar biasa ini akhirnya menggerakkan hati sang saudagar, yang ternyata memang sedang menjalankan wasiat ayahnya untuk memberikan sepertiga hartanya kepada orang yang paling berhak. Seluruh uang 1.000 dinar tersebut akhirnya dihibahkan kepada Abu Ghias sebagai hadiah atas integritasnya.

Dari harta tersebut, Abu Ghias membaginya kepada keluarganya dan memberikan 100 dinar kepada At-Thabari. Alih-alih menggunakan uang tersebut untuk kepentingan konsumtif atau kemewahan pribadi, At-Thabari menjadikannya sebagai “beasiswa mandiri” untuk membiayai riset dan penulisan karya ilmiahnya selama dua tahun.

Hasil dari investasi ilmu tersebut adalah mahakarya yang masih menjadi rujukan dunia hingga hari ini, seperti Tafsir At-Thabari yang mencapai ribuan halaman dan kitab sejarah Tarikh Ar-Rusul wal Muluk. Uang yang bisa saja habis dikonsumsi itu diubah menjadi warisan intelektual yang pahalanya terus mengalir melintasi zaman.

***

Perlu diketahui bahwa pendidikan berkualitas memerlukan lebih dari sekadar teknologi atau akses gratis. Di tengah era modern dan kehadiran AI, tantangan utamanya adalah membangun kembali karakter generasi yang bertakwa. Keberhasilan bantuan pendidikan tidak hanya diukur dari besarnya dana, tetapi dari bagaimana penerimanya memiliki integritas untuk mengubah modal tersebut menjadi manfaat nyata bagi umat. Tanpa landasan ketakwaan, ilmu pengetahuan hanya akan menjadi alat pencari materi tanpa jiwa peradaban.[]

Disarikan dari kajian dengan tema tersebut di NSTV:

0Shares

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU 🔥