Rubrik Fikih Islam ini diasuh oleh Ust. Robi Muharram

Pendapat yang mu’tamad dalam mazhab Syafi’i: air yang kurang dari dua qullah (±216 L), ketika kejatuhan najis, walaupun sifat airnya tidak berubah (warna, bau, dan rasa), airnya berubah menjadi air mutanajis.
Dalil yang dijadikan dasar oleh mazhab Syafi’i adalah:
فعن ابن عمر عن أبيه أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: إذا بلغ الماء قلتين لم ينجسه شيء. أخرجه ابن ماجه بهذا اللفظ، ورواه الترمذي والنسائي وأبو داود بلفظ: إذا كان الماء قلتين لم يحمل الخبث. والحديث المذكور صحيح
“Air, apabila mencapai dua qullah, tidak akan ternajisi oleh sesuatu apapun.”
Hadis ini secara mafhum mukhalafah menunjukkan jika air kurang dari dua qullah, otomatis menjadi najis.
Mafhum ini pun didukung oleh hadis riwayat Muslim:
إذَا اسْتَيْقَظَ أَحَدُكُمْ مِنْ نَومِهِ فَلاَ يَغْمِسْ يَدَهُ في الإنَاءِ حَتَّى يَغْسلها ثَلاَثاً فَإنَّهُ لاَ يدْرِي أَيْنَ بَاَتت يدُهُ
“Apabila salah seorang di antara kalian bangun dari tidurnya, janganlah memasukan tangannya ke dalam wadah (air) sampai ia membasuh tangannya tiga kali. Karena ia tidak tahu di mana tangannya ketika malam hari.”
Hadis ini menunjukkan Rasulullah melarang untuk memasukkan tangan ke dalam wadah air yg sedikit. Larangan tersebut karena khawatir akan merusak air, yaitu dengan menajisinya.
Namun kebanyakan para ulama Syafi’iyah mengambil pendapat lain, yaitu pendapatnya mazhab Malik. Bahwa air kalau tidak berubah sifatnya, maka ia tetap air suci mensucikan. Sebagaimana disebutkan oleh Imam Al-Malibari dalam Fath al-Muin:
واختار كثيرون من أئمتنا مذهب مالك: أن الماء لا ينجس مطلقا إلا بالتغير والجاري كراكد.
——–
فتح المعين بشرح قرة العين بمهمات الدين – المجلد 1 – الصفحة 44 – جامع الكتب الإسلامية
أحمد بن عبد العزيز بن زين الدين بن علي بن أحمد المعبري المليباري الهندي، فتح المعين بشرح قرة العين بمهمات الدين، مجلد 1، صفحة 40، دار بن حزم، الأولى
Pendapat ini sangat boleh untuk diamalkan, apalagi di dearah yang susah air.



























