NSnews Network by Ngaji Shubuh - Nutrisi Ruh di Setiap Shubuh | Saksikan tayangan livestreaming setiap hari dan nantikan artikel-artikel menarik dari kami. | Bergabung bersama puluhan ribu anggota, dapatkan informasi bermanfaat setiap harinya, dapatkan pula softcopy kajian yang bermanfaat untuk anda, dan bagikan kebaikan ini ke seluruh keluarga serta sahabat anda.

Awal Mula Penjajahan di Nusantara

Sejarah penjajahan di Nusantara tidak lepas dari peristiwa besar pada 8 Juli 1497, saat Vasco da Gama memulai pelayaran pertamanya dari Portugal menuju dunia timur. Perjalanan ini merupakan tindak lanjut dari Traktat Tordesillas (1494), sebuah kesepakatan yang dimediasi oleh Paus Alexander VI untuk membagi dunia menjadi dua wilayah kekuasaan: Spanyol di belahan barat dan Portugal di belahan timur. Ambisi kolonial ini didorong oleh misi 3G: Gold (kekayaan), Glory (kejayaan), dan Gospel (penyebaran agama).

Pelayaran ekspedisi ini didanai oleh kelompok elit global yang memiliki akar sejarah pasca-Perang Salib, termasuk kelompok yang diidentifikasi sebagai Ksatria Templar dan kaum Mason. Para penjelajah ini sering bertindak seperti bajak laut yang menjarah kota-kota pelabuhan dan membegal kapal-kapal jemaah haji dari Nusantara. Puncaknya, pada tahun 1511, Alfonso de Albuquerque berhasil menaklukkan Malaka, pusat perdagangan paling strategis di timur, dengan tujuan utama memonopoli rempah-rempah serta menghentikan dakwah Islam.

Perlawanan terhadap penjajahan Portugis muncul dari aliansi kesultanan-kesultanan Islam di Nusantara yang didukung oleh Kekhalifahan Utsmaniyah. Sultan-sultan Utsmaniyah, seperti Sultan Selim I dan Sulaiman Al-Qanuni, menyatakan “Jihadul Akbar” untuk melawan kezaliman Portugis di laut timur. Dukungan militer berupa meriam dan tenaga ahli dikirim ke berbagai wilayah, termasuk Aceh, Demak, dan Ternate. Salah satu kemenangan krusial adalah direbutnya pelabuhan Sunda Kelapa oleh Fatahillah (Fadilah Azmatkan) pada 22 Juni 1527, yang kemudian namanya diubah menjadi Jayakarta (Jakarta) sebagai simbol kemenangan.

Memasuki abad ke-17, dominasi Portugis mulai digantikan oleh Belanda melalui VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie) yang didirikan pada tahun 1602. Belanda awalnya dilarang berdagang di Lisabon akibat konflik Uni Iberia, sehingga mereka mencari jalur langsung ke sumber rempah-rempah dengan bantuan peta navigasi Portugis yang bocor. Di bawah pimpinan Jan Pieterszoon Coen, VOC merebut Jayakarta pada tahun 1619 dan mendirikan Batavia sebagai pusat kekuasaan kolonial mereka. VOC tercatat sebagai perusahaan dagang paling menguntungkan sepanjang sejarah melalui eksploitasi kekayaan Nusantara.

Penjajahan terus berlanjut melalui pembentukan pemerintah kolonial Hindia Belanda pada tahun 1800 setelah VOC dibubarkan. Untuk memulihkan keuangan pasca-pemberontakan besar seperti Perang Diponegoro, Belanda menerapkan sistem tanam paksa (Cultuurstelsel) yang sangat menyengsarakan rakyat. Selain itu, kendali atas Nusantara juga diperkuat melalui jalur finansial dengan berdirinya De Javasche Bank pada 1828, yang kemudian menjadi cikal bakal Bank Indonesia setelah kemerdekaan. Hal ini menimbulkan refleksi yang dalam mengenai apakah kemerdekaan sebuah bangsa benar-benar penuh jika sistem ekonomi dan politiknya masih dipengaruhi oleh struktur yang dibangun oleh para pemenang perang dan elit global masa lalu.[]

Disarikan dari kajian dengan tema tersebut di NSTV:

0Shares

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU 🔥