NgajiShubuh.or.id — Presiden Prabowo Subianto meminta para sivitas akademika, termasuk dekan, guru besar, dan rektor, untuk bersama-sama berkontribusi dalam menyelesaikan berbagai persoalan bangsa melalui keahlian yang dimiliki di bidang masing-masing.
Hal itu disampaikan Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi, seusai menghadiri penutupan Sarasehan Kebangsaan Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri Indonesia (KSTI) di Jakarta pada Minggu. Presiden memandang para dekan, guru besar, dan rektor sebagai individu-individu terbaik yang dimiliki bangsa karena kapasitas keilmuan dan keahliannya (viva.co.id, 28-6-2026).
Memang benar, para ilmuwan, cendekiawan, akademisi, dan ulama pun harus peduli dengan kondisi negeri. Mereka harus berani lantang untuk melakukan amar makruf nahi mungkar yakni menyeru kebaikan dan mencegah keburukan. Namun, semudah itukah memberikan masukan, kritik, solusi di negeri ini? Ternyata semuanya tidak semudah itu. Bahkan mereka yang lantang berbicara kebenaran di hadapan penguasa harus siap mendapatkan persekusi, intimidasi, hingga kriminalisasi. Lalu untuk apa orang nomor satu di negeri meminta solusi para akademi? Apakah ini hanya basa-basi politik agar para akademisi tunduk dan patuh terhadap keputusan penguasa?
Bangsa ini sedang menghadapi masalah dari segala aspek kehidupan. Hal itu tampak betapa karut marutnya negeri ini dalam mengelola aspek kehidupan. Dalam aspek politik, negeri ini dikendalikan oleh ideologi kapitalisme sekuler, yang memaksa Indonesia tunduk pada keputusan-keputusan Barat penjajah. Mereka mengeksploitasi sumber daya alam, menaikkan pajak, mencabut subsidi, melakukan kapitalisasi pendidikan-kesehatan, dan masih banyak hantaman budaya liberal yang merusak masyarakat.
Sudah sangat jelas, amburadul negeri ini karena tata kelola kapitalisme sekuler yang mengakar kuat di negeri ini. Solusi yang ditawarkan juga sangat jelas, yakni kembali kepada fitrah manusia, menentramkan jiwa, dan memuaskan akal, yakni dengan menerapkan sistem kehidupan Islam secara paripurna. Benar, hijrah kepada Islam kaffah adalah solusi fundamental negeri ini agar tidak diperbudak dan dijajah asing melalui kontrak-kontrak kerjasama dengan mereka yang membawa penjajahan di atas kertas.
Hanya saja, penguasa hari ini tidak hanya antikritik tapi juga islamofobia. Sehingga solusi Islam ditakuti dan dijauhi. Jika masih memakai sistem kapitalisme sekuler, mereka hanya sedang merencanakan kehancuran bangsanya. Sudah saatnya melek politik Islam dan memperjuangkan Islam secara keseluruhan. Hanya dengan mengambil solusi Islam, negeri ini bebas dari penjajahan sistem kapitalisme sekuler yang dikomando oleh Amerika dan sekutunya.[] Ika Mawar


























