NSnews Network by Ngaji Shubuh - Nutrisi Ruh di Setiap Shubuh | Saksikan tayangan livestreaming setiap hari dan nantikan artikel-artikel menarik dari kami. | Bergabung bersama puluhan ribu anggota, dapatkan informasi bermanfaat setiap harinya, dapatkan pula softcopy kajian yang bermanfaat untuk anda, dan bagikan kebaikan ini ke seluruh keluarga serta sahabat anda.

Maternal Instinct: Fitrah yang Perlu Dirawat di Tengah Fenomena Childfree

Belakangan ini, narasi mengenai pilihan untuk tidak memiliki anak atau childfree semakin mengemuka, bahkan diperingati secara internasional setiap tanggal 1 Agustus. Fenomena ini dilandasi oleh alasan ketidaksiapan menjadi orangtua atau klaim tidak memiliki maternal instinct (naluri keibuan). Banyak perempuan merasa khawatir akan menzalimi anak atau tidak mampu menjadi ibu yang baik karena tidak merasakan adanya dorongan alami untuk menyayangi anak kecil.

Tren childfree ini berbanding lurus dengan penurunan angka pernikahan dan kelahiran di Indonesia. Jika terus berlanjut, hal ini diprediksi akan membawa dampak negatif bagi keberlangsungan bangsa, seperti berkurangnya tenaga kerja muda, proporsi penduduk yang menua (beban negara meningkat), serta lesunya ekonomi akibat menurunnya tingkat konsumsi rumah tangga. Selain itu, inovasi dan kreativitas masyarakat terancam mandek karena generasi muda yang jumlahnya sedikit cenderung kalah dominan dibanding generasi tua yang konservatif.

Dalam sudut pandang Islam, maternal instinct atau gharizah al-ummiyah adalah potensi fitrah yang diberikan Allah kepada setiap perempuan. Naluri ini bukan sesuatu yang otomatis muncul secara sempurna sejak lahir layaknya DNA statis, tapi sebuah benih potensi yang harus dirangsang, dibentuk, dan dirawat melalui ilmu, keimanan, serta lingkungan yang mendukung. Seringnya, naluri ini baru akan muncul dan menguat ketika seseorang benar-benar mempraktikkannya dalam proses pengasuhan.

Pudarnya naluri ini di era modern disebabkan oleh beberapa faktor sistemik:

  1. Adanya tuntutan kemandirian ekstrem dan glorifikasi karier yang membuat peran domestik dianggap tidak keren atau membebani.
  2. Kurikulum pendidikan saat ini cenderung hanya berorientasi mencetak tenaga kerja publik dan mengabaikan kesiapan untuk peran rumah tangga.
  3. Standar hidup yang tinggi serta ketakutan finansial membuat entitas keluarga dipandang sebagai ancaman, bukan tempat bernaung.
  4. Luka pengasuhan masa kecil (inner child) yang tidak terobati menimbulkan kecemasan untuk mengulangi kesalahan yang sama.

 

***

Islam memandang pernikahan dan memiliki keturunan bukan sekadar pilihan gaya hidup (lifestyle choice), melainkan bagian dari misi kekhalifahan dan ketaatan kepada Sang Pencipta. Jika paham liberal mengedepankan kebebasan tanpa tanggung jawab, Islam menekankan bahwa peran ibu adalah amanah agung yang bernilai pahala jihad dan tabungan surga.

Tugas pengasuhan tidak boleh dibebankan kepada ibu sendirian. Islam mewajibkan suami untuk menjadi pemimpim (qawwam) yang melindungi, mencukupi kebutuhan, dan bekerja sama dalam mendidik anak. Selain itu, negara harus hadir memberikan dukungan sistemik, seperti penyediaan lapangan kerja bagi suami dan fasilitas kesehatan serta kebutuhan pokok yang terjangkau bagi keluarga, agar para ibu tidak mengalami kelelahan mental (burnout) dalam menjalankan perannya.

Menolak tanggung jawab dengan dalih tidak punya naluri hanyalah bentuk pelarian; sebaliknya, dengan menghadapi peran tersebut dengan kesadaran dan ilmu, trauma masa lalu justru dapat disembuhkan dan fitrah keibuan akan terpancar sebagai cahaya iman.[]

Disarikan dari kajian dengan tema tersebut di NSTV:

0Shares

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU 🔥