Sejarah Yerusalem di abad ke-11 dan ke-12 diwarnai oleh drama peperangan besar yang dikenal sebagai Perang Salib. Peristiwa ini dipicu oleh berbagai faktor, di antaranya adalah kebijakan kontroversial penguasa Syiah Fatimiyah, Hakim Biamrillah, yang menghancurkan Gereja Makam Kudus, serta kekalahan besar Romawi Bizantium dari Turki Seljuk dalam Perang Manzikert pada tahun 1071. Propaganda di Eropa kemudian membumbui kenyataan dengan kabar bahwa peziarah Kristen dipersulit dan dikenakan tarif tinggi oleh Turki Seljuk saat memasuki Yerusalem.
Klimaks dari ketegangan ini terjadi pada 15 Juli 1099, yang dikenal sebagai “Juli Berdarah”. Pasukan Salib di bawah pimpinan Godfrey de Bouillon berhasil menembus pertahanan Yerusalem setelah pengepungan selama satu bulan. Jatuhnya kota suci ini diikuti oleh pembantaian massal yang sangat brutal; catatan sejarah menyebutkan darah kaum Muslim menggenangi jalanan hingga setinggi lutut kuda pasukan Salib. Ironisnya, kekalahan ini juga dipicu oleh perpecahan internal umat Islam, di mana Daulah Syiah Fatimiyah justru merebut Yerusalem dari tangan Daulah Salajiqah (Sunni) tepat saat pasukan Salib sedang bergerak mendekat.
Pasca jatuhnya Yerusalem, dunia Islam tidak langsung bangkit secara militer, melainkan melalui pendidikan dan ideologi. Madrasah Nizamiyah yang didirikan oleh Perdana Menteri Nizamul Muluk memainkan peran krusial dalam mencetak ulama-ulama besar seperti Imam Al-Ghazali dan Syekh Abdul Qadir Al-Jilani. Mereka menanamkan konsep Wihdatul Ummah (Persatuan Umat) dan pentingnya kepemimpinan yang tangguh. Tanpa persatuan dan kepemimpinan yang adil, pembebasan Baitul Maqdis dianggap mustahil.
Estafet perjuangan militer dimulai dari Imaduddin Zanki dan dilanjutkan oleh putranya, Nuruddin Mahmud Zanki. Nuruddin merancang strategi brilian untuk “mencekik” kekuatan tentara Salib di Palestina dengan menyatukan dua kekuatan besar: Damaskus di Suriah dan Kairo di Mesir. Misi ini kemudian dituntaskan oleh muridnya, Salahuddin al-Ayyubi (Saladin). Setelah berhasil menghapus kekuasaan Syiah Fatimiyah di Mesir dan menyatukannya dengan kekuatan Syam di bawah naungan Khilafah Abbasiyah, Salahuddin memiliki kekuatan yang setara untuk menghadapi pasukan Salib.
Puncak dari perjuangan Salahuddin adalah Perang Hattin pada Juli 1187, di mana puluhan ribu pasukan Muslim berhasil mengalahkan ratusan ribu tentara Salib. Tak lama setelah itu, pada 2 Oktober 1187, Yerusalem berhasil dibebaskan. Berbeda dengan pembantaian brutal pasukan Salib 88 tahun sebelumnya, Salahuddin memasuki Yerusalem dengan kedamaian dan kemuliaan. Beliau menjamin keamanan penduduk Kristen dan membiarkan mereka meninggalkan kota tanpa pertumpahan darah, membuktikan bahwa Islam adalah agama yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan bahkan dalam situasi perang.
Kisah ini memberikan pelajaran penting bahwa pembebasan Baitul Maqdis memerlukan tiga prasyarat utama: pemimpin yang tangguh, persatuan umat, dan bimbingan ulama yang tak henti menyuarakan kebenaran.[]
Disarikan dari kajian dengan tema tersebut di NSTV:



























