Rubrik Fikih Islam ini diasuh oleh Ust. Robi Pamungkas

Berjamaah dalam shalat Jumat merupakan salah satu syarat sah shalat Jumat. Hal ini telah menjadi ijma’ (kesepakatan) para ulama. Pengecualian datang dari Imam Ibnu Hazm yang menyelisihi ijma’ dengan menyatakan bahwa shalat Jumat tetap sah meskipun hanya dilaksanakan oleh satu orang.
Para ulama berbeda pendapat dalam menentukan jumlah minimal jamaah yang menjadikan shalat Jumat sah.
Madzhab Hanafi, dalam pendapat yang paling shahih, berpendapat bahwa jumlah minimal jamaah adalah tiga orang selain imam. Dengan demikian, jumlah keseluruhannya menjadi empat orang.
Mereka berdalil dengan firman Allah:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِذَا نُوْدِيَ لِلصَّلٰوةِ مِنْ يَّوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا اِلٰى ذِكْرِ اللّٰهِ وَذَرُوا الْبَيْعَۗ ذٰلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ اِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ
“Wahai orang-orang yang beriman, apabila (seruan) untuk melaksanakan shalat pada hari Jumat telah dikumandangkan, maka bersegeralah mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (QS. Al-Jumu’ah: 9)
Menurut mereka, Allah menggunakan bentuk jamak dalam firman-Nya فاسعوا. Sedangkan bentuk jamak dalam bahasa Arab minimal menunjukkan tiga orang. Oleh karena itu, mereka berpendapat bahwa jumlah minimal jamaah adalah tiga orang, ditambah satu orang yang bertindak sebagai imam sekaligus khatib.
Madzhab Maliki berpendapat bahwa jumlah minimal jamaah shalat Jumat adalah dua belas orang. Mereka berdalil dengan hadits Jabir radhiyallahu ‘anhu:
أنَّ النَّبيَّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم كان يَخطُبُ قائِمًا يَومَ الجُمُعةِ، فجاءَت عيرٌ مِنَ الشَّامِ، فانفَتَلَ النَّاسُ إليها، حتَّى لَم يَبقَ إلَّا اثنا عَشَرَ رَجُلًا، فأُنزِلَت هذه الآيةُ التي في الجُمُعةِ: {وإذا رَأوا تِجارةً أو لَهوًا انفَضُّوا إليها وتَرَكوكَ قائِمًا} [الجمعة:11]. وفي روايةٍ: قال: ورَسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم يَخطُبُ، ولَم يَقُلْ: قائِمًا.
“Sesungguhnya Nabi ﷺ biasa berkhutbah pada hari Jumat dalam keadaan berdiri. Lalu datanglah sebuah kafilah dagang dari Syam. Maka orang-orang pun bergegas menuju kafilah itu, hingga tidak tersisa bersama Nabi kecuali dua belas orang laki-laki. Kemudian Allah menurunkan ayat dalam Surah Al-Jumu’ah: ‘Dan apabila mereka melihat perdagangan atau permainan, mereka segera menuju kepadanya dan mereka meninggalkan engkau (Muhammad) sedang berdiri berkhutbah.’ (QS. Al-Jumu’ah: 11).”
Dalam riwayat lain disebutkan: Jabir berkata, “Rasulullah ﷺ sedang berkhutbah,” tanpa menyebutkan kata “dalam keadaan berdiri.” (HR. Muslim)
Imam Asy-Syaukani menjelaskan bahwa dua belas orang tersebut terdiri dari sepuluh sahabat yang mendapat kabar gembira masuk surga, ditambah Bilal dan Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhum.
Menurut madzhab Maliki, hadits ini menunjukkan bahwa Rasulullah ﷺ tetap melanjutkan shalat Jumat hingga selesai meskipun jamaah yang tersisa hanya dua belas orang, dan beliau tidak mengulanginya. Hal ini menunjukkan bahwa dua belas orang sudah mencukupi untuk keabsahan shalat Jumat.
Madzhab Syafi’i dan Hanbali berpendapat bahwa jumlah minimal jamaah shalat Jumat adalah empat puluh orang. Pendapat ini didasarkan pada hadits Ka’ab bin Malik radhiyallahu ‘anhu:
نه كان إذا سمع النداء يوم الجمعة ترحم لأسعد بن زرارة، فقلت له: إذا سمعت النداء ترحمت لأسعد بن زرارة، قال: ” لأنه أول من جمع بنا في هزم النبيت من حرة بني بياضة في نقيع، يقال له: نقيع الخضمات “، قلت: كم أنتم يومئذ، قال: أربعون
“Sesungguhnya Ka’ab bin Malik radhiyallahu ‘anhu apabila mendengar azan Jumat, beliau mendoakan rahmat untuk As’ad bin Zurarah. Aku bertanya, ‘Mengapa setiap kali engkau mendengar azan Jumat engkau mendoakan rahmat bagi As’ad bin Zurarah?’ Beliau menjawab, ‘Karena dialah orang pertama yang mengumpulkan kami untuk melaksanakan shalat Jumat di Hazm an-Nabit, yaitu suatu tempat di Harrah Bani Bayadhah, di sebuah lembah yang disebut Naqi’ al-Khadhamat.’ Aku bertanya, ‘Berapa jumlah kalian saat itu?’ Beliau menjawab, ‘Empat puluh orang.'” (HR. Abu Dawud)
Menurut mereka, hadits ini menunjukkan adanya tawqif (ketetapan syariat) mengenai jumlah jamaah shalat Jumat, yaitu empat puluh orang. Sebab, penetapan jumlah dalam ibadah tidak boleh ditentukan berdasarkan logika semata, tetapi harus berdasarkan dalil syariat.
Adapun menurut sebagian ulama, seperti Imam Asy-Syaukani dan Imam As-Suyuthi, pendapat yang lebih kuat adalah tidak disyaratkannya jumlah tertentu untuk sahnya shalat Jumat. Sebab, tidak terdapat satu pun nash yang secara tegas menetapkan jumlah minimal jamaah shalat Jumat.
Yang disyaratkan oleh syariat hanyalah bahwa shalat Jumat dilaksanakan secara berjamaah. Sedangkan batas minimal berjamaah adalah dua orang: seorang imam dan seorang makmum.
Mereka berdalil dengan sabda Rasulullah ﷺ:
الجمعةُ حقٌّ واجبٌ على كلِّ مسلمٍ في جماعةٍ إلاَّ أربعةً عبدٌ مملوكٌ أوِ امرأةٌ أو صبيٌّ أو مريضٌ
“Shalat Jumat adalah hak yang wajib atas setiap Muslim yang dilaksanakan secara berjamaah, kecuali empat golongan: seorang budak, seorang perempuan, seorang anak kecil, dan seorang yang sakit.” (HR. Abu Dawud)
Adapun dalil yang digunakan oleh Imam Abu Hanifah dinilai kurang tepat karena bersandar pada pendekatan bahasa dalam menentukan jumlah, padahal penetapan bilangan dalam ibadah memerlukan dalil yang bersifat khusus.
Demikian pula dalil yang digunakan oleh madzhab Maliki, Syafi’i, dan Hanbali tidak secara tegas menunjukkan adanya syarat jumlah tertentu. Hadits-hadits tersebut hanya menceritakan peristiwa yang terjadi (وقائع الأعيان / waqā’i’ al-a’yān), bukan menetapkan ketentuan umum.
Sebagaimana kaidah yang masyhur dalam ushul fikih, “peristiwa yang bersifat khusus tidak dapat dijadikan dalil untuk menetapkan hukum yang bersifat umum”, kecuali terdapat qarinah (indikasi) yang menunjukkan adanya pensyariatan. Wallāhu a’lam bish-shawāb.[]
Referensi
* Fadhā’il al-Jumu’ah wa Aḥkāmuhā wa Khaṣā’iṣuhā – Syaikh Muhammad Zhahir Asadullah.
* Al-Fiqh al-Islāmī wa Adillatuhu – Syaikh Wahbah Az-Zuhaili.
* Aḥkām aṣ-Ṣalāh – Syaikh ‘Ali Raghib.
____________________
Yuk gabung di channel Tanya Fikih untuk bertanya masalah apapun seputar fikih dalam keseharian.

























