NSnews Network by Ngaji Shubuh - Nutrisi Ruh di Setiap Shubuh | Saksikan tayangan livestreaming setiap hari dan nantikan artikel-artikel menarik dari kami. | Bergabung bersama puluhan ribu anggota, dapatkan informasi bermanfaat setiap harinya, dapatkan pula softcopy kajian yang bermanfaat untuk anda, dan bagikan kebaikan ini ke seluruh keluarga serta sahabat anda.

Ancaman Desakralisasi Pernikahan dan Bahaya Lonely Economy bagi Peradaban

Desakralisasi pernikahan merupakan fenomena kemerosotan pandangan masyarakat terhadap pernikahan, di mana ikatan yang dahulu dianggap suci kini dipandang sekadar formalitas biasa atau bahkan dihindari. Fenomena ini ditandai oleh penurunan drastis angka pernikahan serta lonjakan kasus perceraian di tengah masyarakat. Banyak generasi muda enggan menikah karena menganggap pernikahan membutuhkan biaya materi dan emosional yang terlalu tinggi, mengancam kebebasan pribadi, serta rentan memicu konflik. Citra negatif ini semakin diperparah oleh paparan media sosial yang lebih sering mengekspos penderitaan dan keretakan rumah tangga ketimbang keharmonisannya.

Kondisi tersebut dipicu oleh makin kuatnya cengkeraman paham sekularisme, liberalisme, materialisme, dan permisivisme dalam pola pikir masyarakat. Sekularisme menjauhkan aturan agama dari kehidupan, sementara liberalisme dan materialisme menjadikan kebebasan individu serta tolok ukur materi sebagai pusat kebahagiaan utama. Selain itu, gaya hidup permisif dan pergaulan bebas membuat pemenuhan kebutuhan biologis dilakukan di luar jalur pernikahan yang sah. Di sisi lain, pemahaman feminisme yang keliru turut membentuk persepsi seolah-olah pernikahan adalah beban yang mengebiri kebebasan serta karier perempuan.

Maraknya keputusan untuk melajang memicu lahirnya fenomena lonely economy (ekonomi kesepian), yaitu pergeseran tren konsumsi ke arah produk dan layanan berbasis gaya hidup tunggal. Meskipun dalam jangka pendek menguntungkan sektor bisnis tertentu, tren ini membawa dampak buruk secara makro bagi keberlanjutan perekonomian dan negara. Dalam jangka panjang, fenomena ini dapat menimbulkan krisis demografi dan depopulasi akibat merosotnya angka kelahiran. Selain itu, melajangnya populasi usia muda berpotensi menurunkan produktivitas kerja, membebankan anggaran kesehatan negara untuk penanganan masalah kesehatan mental, serta meretakkan ikatan sosial masyarakat.

Untuk menghentikan ancaman ini, persepsi masyarakat terhadap pernikahan harus dikembalikan pada landasan nilai Islam, yaitu sebagai ibadah mulia yang menjaga kehormatan, kesehatan fisik dan mental, serta kelestarian moral peradaban. Solusi atas krisis ini tidak cukup dibebankan pada individu, melainkan membutuhkan kehadiran dan peran aktif negara. Negara bertanggung jawab mengendalikan narasi media, memberikan edukasi berlandaskan akidah, serta menciptakan lapangan kerja yang layak bagi laki-laki. Dengan kebijakan dan jaminan sosial yang mendukung dari negara, generasi muda dapat membangun keluarga dengan tenang, kuat, dan penuh tanggung jawab.[]

Simak kajian lengkapnya secara mendalam di NSTV:

0Shares

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU 🔥