Membela Nabi Muhammad ﷺ, kepribadian beliau, serta sunah-sunahnya merupakan kewajiban utama umat Islam yang bersumber dari pengagungan terhadap syiar-syiar agama Allah. Para ulama tafsir menjelaskan bahwa Rasulullah ﷺ merupakan cerminan dan representasi dari ajaran Islam itu sendiri, sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an bahwa beliau berada di atas akhlak yang agung (QS. Al-Qalam: 4). Oleh karena itu, setiap bentuk perendahan, celaan, atau hinaan terhadap kedudukan Rasulullah ﷺ pada hakikatnya merupakan serangan langsung terhadap syariat Islam. Mengagungkan dan memuliakan beliau merupakan bentuk pengagungan terhadap syiar agama Allah yang paling utama.
Para ulama, seperti Qadhi ‘Iyad dalam Kitab Asy-Syifa dan Syaikh Nawawi Banten, menekankan pentingnya menjaga adab yang sangat tinggi ketika berbicara atau menuliskan hal-hal yang berkaitan dengan Rasulullah ﷺ. Setiap pembahasan mengenai Nabi hendaknya menggunakan redaksi atau diksi yang paling sopan (ahsanul lafzhi) serta menghindari ungkapan buruk yang berpotensi merendahkan. Menjadikan nama mulia Nabi Muhammad ﷺ atau simbol agama sebagai bahan gurauan, konten media sosial demi mengejar popularitas, maupun pemilihan judul karya yang berkonotasi negatif merupakan bentuk pelanggaran adab yang serius. Bahkan ketika ada nama pelaku kejahatan yang kebetulan sama dengan nama Nabi, para ulama menyarankan untuk menyebut nama panggilannya agar nama mulia Rasulullah ﷺ tetap terjaga.
Al-Qur’an memberikan teladan nyata bahwa Allah SWT sendiri yang membela kedudukan para nabi-Nya dari celaan musuh-musuh Islam. Ketika Abu Lahab mencela Rasulullah ﷺ dengan ucapan “tabban laka” saat Nabi menyampaikan dakwah di bukit, Allah membela Nabi dengan menurunkan Surah Al-Masad yang membalas celaka tersebut kepada Abu Lahab. Ketika Al-Ash bin Wail mengejek Rasulullah ﷺ sebagai orang yang terputus dari kebaikan (al-abtar) setelah wafatnya putra beliau, Allah membela Nabi melalui Surah Al-Kautsar dan menegaskan bahwa justru pencelanya yang terputus dari kebaikan. Saat An-Nadhar mencoba berpaling dari dakwah Nabi dengan menyebarkan dongeng raja-raja Persia dan mengklaim kisahnya lebih baik, Allah memperingatkan azab yang pedih baginya dalam Surah Luqman ayat 6. Al-Qur’an pun merekam kelakuan orang-orang Yahudi yang memplesetkan kata “rai’na” menjadi kata celaan “ru’unah”, sehingga Allah melarang umat Islam menirunya dan memerintahkan penggunaan kata “unzhurna” (QS. Al-Baqarah: 104).
Sejarah mencatat bahwa para penista Nabi pada akhirnya dibalas dan dibinasakan oleh Allah, baik yang tewas dalam pertempuran seperti Abu Jahal maupun yang mati mengenaskan akibat penyakit seperti Abu Lahab dan Al-Ash bin Wail.
Sikap dan Langkah Nyata Umat Islam
Umat Islam diimbau untuk tidak sembarangan bertanya atau mengambil pemahaman agama dari sosok influencer atau selebriti yang tidak memiliki landasan ilmu dan adab yang kuat. Allah telah memerintahkan umat Islam untuk bertanya kepada ahludz dzikr atau para ulama yang alim dan kompeten di bidangnya (QS. An-Nahl: 43). Wujud nyata dari rasa cinta kepada Rasulullah ﷺ adalah dengan menghidupkan sunah-sunah beliau secara menyeluruh, menyebarkannya, serta membentengi ajaran agama dari penyimpangan kaum yang ingin merendahkannya.[]
Simak kajian lengkapnya secara mendalam di NSTV:


























