Secara bahasa, ateisme dalam tradisi Islam diwakili oleh istilah ilhad (berasal dari kata alhada yulhidu), yang bermakna menyimpang atau berpaling dari jalan yang benar. Secara istilah, ilhad merujuk pada sikap menolak keberadaan Tuhan (metaphysical beliefs) serta mengingkari seluruh ajaran dan risalah agama.
Meskipun seorang ateis mengaku tidak percaya Tuhan, pada hakikatnya manusia memiliki dorongan alami (gharizah at-tadayyun) untuk menyucikan atau mengagungkan sesuatu. Ketika seseorang menolak Tuhan, ia sebenarnya sedang mempertuhankan akal, pikiran, dan hawa nafsunya sendiri. Kelemahan utama pemikiran ateis adalah menilai keberadaan Zat Yang Maha Gaib hanya berdasarkan keterbatasan panca indra manusia. Padahal dalam kehidupan sehari-hari, manusia memercayai hal-hal yang tidak kasat mata—seperti aliran listrik—karena dapat merasakan bukti dan dampaknya (atsar).
Wajah Ilhad: Era Jahiliyah Klasik vs Era Modern
Bentuk penyimpangan ilhad telah ada sejak masa lalu, namun sekarang hadir dalam bentuk yang berbeda:
- Era Jahiliyah Klasik: Tercermin dari tindakan kaum musyrik Quraisy yang memalingkan nama-nama Allah Yang Agung (Asmaul Husna) dan menyematkannya pada berhala sesembahan mereka (seperti nama Latta yang diambil dari Allah, Al-Uzza dari Al-Aziz, dan Manat dari Al-Manan). Mereka juga menganggap berhala-berhala tersebut sebagai anak perempuan Allah hanya berdasarkan prasangka dan hawa nafsu.
- Era Modern: Hadir dalam bentuk pengakuan terbuka di media sosial, komentar yang melecehkan ajaran agama, hingga adopsi pemikiran filsafat kufur dan ideologi sekuler. Peringatan para ulama klasik seperti Imam Asy-Syatibi menegaskan bahwa taklid (mengikuti secara buta) pada pemikiran filsafat yang menyelisihi Al-Qur’an dan Sunnah adalah kesalahan besar. Meyakini bahwa aturan buatan manusia (seperti demokrasi sekuler atau kapitalisme) lebih baik daripada hukum Allah juga merupakan bentuk penyimpangan yang sangat berbahaya bagi akidah.
Penyimpangan akidah sering dipicu oleh sifat sombong (al-kibr), sebagaimana kisah tragis Abdullah Al-Qasimi. Dulu, ia dikenal sebagai seorang alim yang sangat cerdas dan menulis karya besar membela Islam hingga mendapat pujian tinggi dari para ulama.
Namun, rasa bangga diri dan kesombongan mulai meracuni pikirannya. Melalui bait-bait syairnya, ia merasa ilmu dan keutamaannya membuat manusia tidak lagi membutuhkan para rasul, bahkan melontarkan ucapan yang merendahkan kedudukan Nabi Muhammad SAW. Sifat sombong ini sangat mirip dengan kesombongan Iblis yang menolak perintah Allah karena merasa diri lebih mulia daripada Nabi Adam. Akibat kesombongan tersebut, Al-Qasimi akhirnya murtad, menjadi ateis, dan menghabiskan sisa hidupnya menyerang ajaran Islam hingga akhir hayatnya.
Solusi Islam dalam Membentengi Akidah Umat
Untuk menghadapi ancaman ilhad dan pemikiran yang menyimpang, Islam memberikan panduan menyeluruh pada tiga tingkatan:
- Individu (Akidah Berbasis Proses Berpikir): Islam melarang umatnya berakidah secara taklid atau sekadar ikut-ikutan. Keimanan harus dibangun melalui proses berpikir rasional (Al-Aqidah Al-Aqliyah). Dengan memerhatikan keagungan dan keteraturan alam semesta, akal manusia secara logis akan menyimpulkan bahwa alam ini diciptakan dan diatur oleh Satu Pencipta Yang Maha Tunggal.
- Masyarakat: Masyarakat memiliki kewajiban untuk menjalankan amar ma’ruf nahi munkar dan tidak membiarkan penyimpangan pemikiran berkembang bebas di tengah umat.
- Negara/Pemimpin (Al-Imam): Berperan sebagai perisai (junnah) yang melindungi akidah masyarakat melalui sistem pendidikan berbasis akidah Islam, mengawasi dan menindak konten-konten pemikiran kufur di media, serta memberikan pembinaan dan sanksi yang tegas agar akidah umat tetap terjaga.[]
Simak kajian lengkapnya secara mendalam di NSTV:



























