NSnews Network by Ngaji Shubuh - Nutrisi Ruh di Setiap Shubuh | Saksikan tayangan livestreaming setiap hari dan nantikan artikel-artikel menarik dari kami. | Bergabung bersama puluhan ribu anggota, dapatkan informasi bermanfaat setiap harinya, dapatkan pula softcopy kajian yang bermanfaat untuk anda, dan bagikan kebaikan ini ke seluruh keluarga serta sahabat anda.

Benang Merah Geopolitik: Lingkaran Oligarki Karhutla, Gejolak Eropa, hingga Tekanan Pasar Modal

Isu-isu global dan nasional saat ini tidak berdiri sendiri, tapi saling berkaitan sebagai cermin dari dinamika tata kelola ekonomi dan politik dunia. Setidaknya ada tiga persoalan utama yang harus dicermati baru-baru ini: (1) strategi di balik asap kebakaran hutan (Karhutla) dan Singapura, (2) krisis politik yang melanda Perancis dan Eropa, serta (3) tekanan finansial global dari lembaga MSCI terhadap pasar saham Indonesia.

Karhutla dan Strategi Licik Perlindungan Taipan di Singapura

Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Indonesia adalah masalah tahunan yang akar utamanya bersumber dari penyerahan hak konsesi lahan raksasa kepada segelintir konglomerat atau oligarki.

Di balik musibah asap ini, terdapat ketimpangan penegakan hukum dan strategi bisnis yang merugikan Indonesia:

  • Pengerukan Keuntungan dan Pemindahan Risiko: Para taipan meminjam modal triliunan rupiah dari perbankan di Indonesia untuk menguasai konsesi lahan sawit dan kayu. Namun, mereka mendirikan perusahaan induk (holding) serta fasilitas family office di Singapura untuk mencatatkan saham (listing) dan menikmati pajak yang sangat murah.
  • Perlindungan Hukum di Singapura: Pemerintah Singapura dikenal sangat tegas terhadap warga biasa, tetapi sangat lunak dan melindungi para konglomerat ini. Walaupun Singapura memiliki Undang-Undang Pencemaran Asap Lintas Batas (Transboundary Haze Pollution Act), aturan tersebut tidak dipakai untuk menjerat para taipan di kantor pusat mereka di Singapura. Singapura hanya mengirimkan surat peringatan formal kepada beberapa perusahaan pemasok kayu/sawit tanpa ada tuntutan pidana sama sekali.
  • Dampak Nyata bagi Rakyat Indonesia: Ketika lahan terbakar, risiko dan dampak buruknya ditanggung sepenuhnya oleh masyarakat Indonesia. Data mencatat lebih dari 202.000 hektar lahan terbakar, kerugian ekonomi mencapai Rp123,1 triliun, lebih dari 306.000 kasus ISPA (termasuk puluhan ribu anak-anak), hingga 10 relawan pemadam kebakaran yang gugur di lapangan.
  • Krisis Kredibilitas Internal: Di dalam negeri, masalah diperparah oleh kebijakan penanganan yang lambat, penolakan status bencana nasional, hingga kasus korupsi anggaran penanggulangan bencana di tubuh BNPB sebesar Rp148 miliar.

 

Gejolak Sosial dan Krisis Politik Pertengahan di Perancis serta Eropa

Tidak hanya di Asia Tenggara, gejolak besar juga tengah mengguncang Eropa, khususnya Perancis:

  • Gelombang Protes Massal: Sekitar 550.000 demonstran turun ke jalan di Perancis. Protes ini dimotori oleh para pelajar yang mengeluhkan buruknya fasilitas dan kekurangan tenaga pengajar, kelompok Rompi Kuning (Gilets Jaunes) yang tercekik kenaikan biaya hidup, serta serikat pekerja yang menuntut kenaikan upah di tengah laju inflasi.
  • Kegagalan Eksperimen Macronisme: Kebijakan haluan tengah Presiden Emmanuel Macron dinilai gagal memberikan solusi riil bagi krisis perumahan, kemiskinan massal, dan lonjakan utang nasional. Kegagalan ini menciptakan kekosongan politik yang mendorong pemilih bergerak ke kutub politik ekstrem—baik kiri radikal maupun kanan jauh—menjelang Pemilu 2027.
  • Krisis Multidimensi di Negara Eropa Lain: Masalah serupa menjalar ke berbagai negara tetangga. Krisis perumahan dan upah murah melanda Spanyol, Portugal, dan Italia; mahasiswa di Belgia memprotes tingginya biaya pendaftaran kampus; sementara rakyat Albania menuntut penuntasan kasus korupsi pemerintah dan pengangguran.

 

Ancaman MSCI dan Tekanan Finansial Global terhadap Indonesia

Di sektor keuangan, pasar modal Indonesia sedang menghadapi ancaman serius dari lembaga pemeringkat global MSCI (Morgan Stanley Capital International):

  • Ancaman Turun Kasta: MSCI mengancam akan menurunkan status pasar saham Indonesia dari Emerging Market langsung melompati Frontier Market menuju Stand Alone Market (pasar terisolasi). Jika terjadi, Indonesia akan disejajarkan dengan negara-negara terisolasi seperti Zimbabwe, Nigeria, dan Libanon, yang berisiko memicu penarikan modal asing (capital flight) secara masif.
  • Alasan Teknis vs. Realitas Geopolitik: MSCI berdalih ancaman ini dipicu oleh minimnya transparansi kepemilikan saham serta dugaan manipulasi harga saham di bursa domestik. Namun secara makro, manuver ini dinilai sebagai instrumen tekanan finansial (financial squeeze) dari hegemoni modal global. Langkah ini bertepatan dengan arah kebijakan luar negeri Indonesia yang semakin dekat dengan aliansi BRICS serta keterlibatan aktif dalam upaya pengurangan ketergantungan pada mata uang Dolar AS (dedolarisasi).

 

Solusi Sistemik

Keseluruhan peristiwa ini menunjukkan bahwa privatisasi sumber daya alam, hegemoni keuangan global, dan ketimpangan sosial merupakan buah dari kegagalan sistem ekonomi-politik kapitalisme sekuler. Sebagai solusinya, pentingnya harus diupayakan perubahan sistemik dan fundamental—yaitu mengembalikan pengelolaan kekayaan alam untuk sebesar-besarnya kemakmuran publik serta menerapkan tata kelola yang adil, mandiri, dan berdaulat berbasis pada prinsip dan syariat Islam.[]

 

Simak kajian lengkapnya secara mendalam di NSTV:

0Shares

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU 🔥