Pemuda memiliki peran yang sangat penting dalam menggerakkan roda perubahan sepanjang sejarah peradaban manusia. Energi, semangat, dan kebebasan pemikiran yang dimiliki kalangan muda membuat mereka senantiasa tampil di barisan terdepan dalam merespons berbagai dinamika sosial. Pada awal abad kedua puluh, arus pemikiran global mulai masuk dan memengaruhi pergerakan pemuda di wilayah tanah air. Salah satu gagasan besar yang berkembang pada masa itu adalah Pan-Islamisme atau persatuan Islam global yang dicanangkan di Istanbul. Gagasan persatuan ini disambut hangat oleh berbagai elemen pergerakan di tanah air, seperti lembaga pendidikan Jamiatul Khair, Al-Irsyad, Syarikat Islam, dan Muhammadiyah.
Di sisi lain, pemerintah kolonial menerapkan kebijakan politik etis dalam bidang pendidikan. Pola pendidikan kolonial ini dirancang untuk membentuk kelompok terpelajar pribumi yang berpandangan sekuler dan menjauhkan nilai keagamaan dari kehidupan publik. Pendekatan ini menghasilkan kelompok pemuda terpelajar yang bersikap netral bahkan cenderung menolak pembentukan karakter berbasis syariat. Kondisi tersebut tecermin dalam organisasi pemuda seperti Jong Java yang menjadi wadah berhimpun bagi kalangan pemuda terpelajar pada masa itu.
Perpecahan dalam organisasi pemuda mulai memuncak pada pertengahan bulan Desember tahun 1924 saat digelar kongres Jong Java di Yogyakarta. Ketua umum terpilih, Raden Samsoeridzal, bersama Raden Wiwoho mengusulkan agar organisasi memberikan kursus keagamaan Islam yang sifatnya sukarela bagi anggota yang beragama Islam. Usulan ini diajukan karena pembelajaran agama lain sudah difasilitasi, sedangkan bimbingan bagi anggota Muslim belum tersedia. Namun, usulan tersebut mendapat penolakan keras melalui pemungutan suara oleh mayoritas anggota yang berpandangan sekuler. Merasa bahwa aspirasi keagamaan tidak lagi dihargai, Raden Samsoeridzal beserta kawan-kawannya memilih untuk mengundurkan diri dari organisasi tersebut.
Para pemuda yang mengundurkan diri tersebut segera melakukan konsolidasi dan menggelar rapat darurat. Dengan bimbingan dan dukungan para tokoh pergerakan Islam seperti Haji Agus Salim, Haji Omar Said Tjokroaminoto, dan KH Ahmad Dahlan, mereka sepakat mendirikan wadah baru. Pada tanggal 31 Desember 1924, berdiri organisasi Jong Islamieten Bond atau Perhimpunan Pemuda Islam yang secara resmi diakui pada awal tahun 1925. Tepat satu tahun kemudian, pada tanggal 25 hingga 27 Desember 1925, Jong Islamieten Bond menggelar Kongres Pemuda Islam pertama.
Kongres Pemuda Islam tahun 1925 ini berhasil merumuskan kesepakatan penting mengenai cita-cita perjuangan bangsa. Para peserta kongres menyepakati bahwa arah gerakan pemuda adalah mewujudkan persatuan dan kemerdekaan Indonesia yang berlandaskan pada ajaran Islam. Untuk menyebarkan pemikiran dan memperjuangkan gagasannya, mereka juga menerbitkan media publikasi bernama Het Licht yang berarti cahaya. Peristiwa ini menunjukkan bahwa kesadaran akan persatuan nasional berbasis nilai-nilai Islam telah digelorakan oleh kalangan pemuda Islam jauh sebelum peristiwa pemuda kebangsaan lainnya diselenggarakan.
Perkembangan narasi sejarah persatuan pemuda kemudian mengalami pergeseran di masa-masa berikutnya. Kongres-kongres pemuda yang digelar pada tahun 1926 dan 1928 menjadi kelanjutan dari dinamika pergerakan pemuda kebangsaan. Pada penutupan kongres tahun 1928, disusun sebuah nota atau resolusi tertulis yang kemudian dibacakan di hadapan para peserta. Penetapan tanggal peristiwa tersebut sebagai Hari Sumpah Pemuda secara resmi baru diresmikan oleh pemerintah pada era tahun 1950-an sebagai bagian dari pembentukan karakter kebangsaan. Rekonstruksi sejarah ini menegaskan betapa besarnya sumbangsih pemuda Islam dalam meletakkan fondasi awal persatuan dan perjuangan kemerdekaan tanah air.[]
Simak kajian lengkapnya secara mendalam di NSTV:


























