NASKAH KHUTBAH JUMAT (Edisi 26-2026)
DMDI (DEWAN MASJID DIGITAL INDONESIA)
https://seruanmasjid.com/
Versi Bahasa Indonesia
SOLUSI ISLAM MENGATASI KRISIS ENERGI
KHUTBAH PERTAMA
إِنَّ الْحَمْدَ لِلّٰهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، شَهَادَةً تُنْجِيْ قَائِلَهَا مِنَ النَّارِ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمُتَّصِفُ بِالْمَكَارِمِ كَبِيْرًا وَصَبِيًّا.
اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ النَّبِيِّ الْأُمِّيِّ، الصَّادِقِ الْأَمِيْنِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الَّذِيْنَ حَسُنَ إِسْلَامُهُمْ. أَمَّا بَعْدُ؛ فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ رَحِمَكُمُ اللهُ، أُوْصِيْ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى: *يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ ١٠٢ (آلِ عِمْرَانَ)*
Alhamdulillah, kita masih dipertemukan oleh Allah di hari mulia, hari Jumat. Di bulan mulia, Muharram. Di tempat yang dimuliakan, masjid. Bersama orang-orang yang insya Allah dimuliakan, orang-orang bertakwa. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan alam Nabi Besar Muhammad saw.
Pertama dan paling utama, mari tingkatkan takwa kita kepada Allah. Taati perintah-Nya dan jauhi larangan-Nya. Pesan Nabi Muhammad saw.;
اِتَّقِ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ
“Bertakwalah kepada Allah di mana pun engkau berada. Iringilah perbuatan buruk dengan perbuatan baik, niscaya kebaikan itu akan menghapus (kesalahan)nya. Dan bergaullah dengan manusia dengan akhlak yang baik.” (HR. Tirmidzi)
Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,
Listrik adalah kebutuhan dasar rakyat yang sangat vital. Saat listrik padam berjam-jam, rumah tangga terganggu, usaha merugi, dan banyak aktivitas masyarakat terhambat. Itulah yang terjadi belakangan ini. Pada Mei lalu hampir seluruh wilayah Sumatera mengalami blackout berjam-jam, bahkan ada yang nyaris 24 jam. Setelah itu, Jawa, Madura, dan Bali juga mengalami pemadaman bergilir. PLN mengakui penyebab utamanya adalah pasokan batubara ke PLTU yang tersendat karena produsen lebih tertarik menjual ke pasar ekspor. Hingga kini belum ada kepastian kapan krisis listrik ini berakhir, sementara rakyat terus menanggung dampaknya tanpa jaminan kompensasi.
Ironisnya, krisis listrik ini terjadi di negeri yang sangat kaya batubara. Pada 2025 Indonesia memproduksi sekitar 790 juta ton batubara, tetapi PLN tetap kesulitan mendapatkan pasokan untuk pembangkit listrik. Padahal kebutuhan batubara PLN sangat besar setiap tahun, sementara stok di sejumlah PLTU bahkan sempat berada pada level yang mengkhawatirkan. Salah satu penyebab utamanya adalah harga batubara untuk kebutuhan dalam negeri hanya sekitar 70 dolar AS per ton, jauh di bawah harga pasar dunia yang mencapai 121 dolar AS per ton. Akibatnya, para pengusaha tambang lebih memilih menjual batubara ke pasar ekspor daripada memasok ke PLN. Inilah yang kemudian mengganggu pasokan batubara ke PLTU dan berujung pada krisis listrik.
Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,
Kaum muslimin rahimakumullah, krisis listrik yang terjadi hari ini bukan sekadar masalah teknis, melainkan buah dari liberalisasi tambang dan kelistrikan. Sejak UU No. 11 Tahun 1967, sektor tambang dibuka lebar bagi swasta dan asing, lalu berbagai perubahan aturan makin mengokohkan dominasi mereka hingga BUMN kini hanya menguasai sekitar 5–10% sektor batubara. Liberalisasi juga masuk ke sektor listrik melalui pembangkit listrik swasta dan diperkuat oleh UU No. 30 Tahun 2009, yang membuat swasta bisa menjual listrik ke PLN dengan skema Take or Pay, sehingga PLN tetap harus membayar meski listrik belum dipakai.
Akibatnya, negara lemah mengendalikan pasokan batubara dan beban keuangan PLN makin berat, sementara oligarki yang dekat dengan kekuasaan justru diuntungkan. Inilah watak kapitalisme: kekayaan alam dan layanan vital seperti listrik dikuasai pemilik modal, sedangkan rakyat yang akhirnya menanggung akibatnya.
Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,
Kaum muslimin rahimakumullah, Islam tidak membiarkan kebutuhan vital rakyat seperti tambang dan listrik dikuasai segelintir pihak demi keuntungan. Islam menetapkan bahwa tambang dengan deposit besar serta sumber energi yang menjadi hajat hidup orang banyak termasuk kepemilikan umum (milkiyyah ‘âmmah) yang wajib dikelola negara, bukan diserahkan kepada swasta. Rasulullah saw. bersabda:
المُسْلِمُونَ شُرَكَاءُ فِي ثَلَاثٍ فِي المَاءِ وَالْكَلَإِ وَالنَّارِ، وَثَمَنُهُ حَرَامٌ
”Kaum Muslim berserikat dalam tiga hal: air, padang rumput, dan api. Dan harganya adalah haram.” (HR. Ibnu Majah)
Karena itu, tambang besar seperti batubara haram diprivatisasi, sebab hasilnya harus dikembalikan untuk kemaslahatan seluruh rakyat.
Prinsip ini juga tampak dari hadits riwayat Abu Dawud, ketika Rasulullah saw. menarik kembali pemberian tambang garam kepada Abyadh bin Hammal ra. setelah diketahui tambang itu memiliki deposit besar. Ini menunjukkan bahwa tambang besar adalah milik umum yang tidak boleh dikuasai individu. Jika dikelola negara, hasilnya akan menjadi pemasukan sangat besar bagi kas negara.
Sebagai gambaran, nilai ekspor batubara Indonesia Januari–November 2025 mencapai 22,17 miliar dolar AS atau sekitar Rp395 triliun. Dana sebesar itu bisa dipakai untuk membangun 1.300–2.000 sekolah berstandar tinggi atau hingga 500 rumah sakit grade A-B, bukan justru dinikmati segelintir korporasi.
Begitu pula sektor kelistrikan, dalam Islam ia termasuk milik umum yang wajib dikelola negara demi memenuhi kebutuhan rakyat di seluruh pelosok negeri, baik melalui PLTU, geothermal, maupun PLTN. Negara tidak boleh menjadikan layanan listrik sebagai ladang keuntungan, tetapi wajib menyediakan dengan biaya murah, bahkan gratis jika memungkinkan. Jika terjadi pemadaman akibat kelalaian negara hingga menimbulkan kerusakan dan kerugian bagi rakyat, negara wajib bertanggung jawab. Rasulullah saw. bersabda:
الإِمَامُ رَاعٍ وَهُوَ مَسْؤُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
“Imam (kepala negara) adalah pengurus rakyat dan bertanggung jawab atas urusan rakyatnya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,
Dari seluruh uraian ini menjadi jelas bahwa krisis listrik yang menimpa negeri ini bukanlah sekadar gangguan teknis, melainkan buah dari tata kelola yang rusak karena dibangun di atas asas kapitalisme-liberalisme. Selama tambang dan listrik diserahkan kepada kepentingan swasta dan oligarki, selama itu pula rakyat akan terus menjadi korban. Sebaliknya, Islam telah menetapkan bahwa tambang dan energi adalah milik umum yang wajib dikelola negara untuk kemaslahatan rakyat. Dengan penerapan syariah Islam secara kaffah, negara akan mampu mengurus kebutuhan listrik rakyat secara menyeluruh, dari penguasaan sumber daya hingga distribusinya, tanpa tunduk pada tekanan para pemilik modal.
Karena itu, wahai kaum muslimin, sudah saatnya kita menyadari bahwa solusi hakiki atas persoalan ini bukan sekadar ganti kebijakan atau ganti penguasa, tetapi kembali kepada hukum Allah SWT secara total dalam seluruh aspek kehidupan. Hanya dengan syariah Islam yang ditegakkan secara kaffah dalam institusi Khilafah, negeri ini akan benar-benar berdaulat, kekayaan alam terjaga untuk umat, dan rakyat terlayani dengan adil. Inilah jalan yang wajib diperjuangkan: agar kaum Muslim tidak terus-menerus hidup di bawah sistem yang melahirkan kerusakan, tetapi kembali hidup dalam naungan aturan Allah Yang Mahaadil dan Mahasempurna. Wallâhu a‘lam bish-shawâb. []
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِى الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ وَإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
KHUTBAH KEDUA
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ عَلَى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إِلَى رِضْوَانِهِ. اللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا.
أَمَّا بَعْدُ؛ فَياَ أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا اللّٰهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى، وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَنَّى بِمَلَائِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ، وَقَالَ تَعاَلَى: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.
اللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ، وَعَلَى أَنْبِيَائِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلَائِكَتِكَ الْمُقَرَّبِيْنَ، وَارْضَ اللّٰهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ، أَبِى بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ، وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ، وَالتَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. اللّٰهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ، وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ، وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ الْمُسْلِمِيْنَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ، وَأَعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.
اَللّٰهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ دَوْلَةَ الْخِلاَفَةِ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ تُعِزُّ بِهَا الْإِسْلَامَ وَاَهْلَهُ وَتُذِلُّ بِهَا الْكُفْرَ وَاَهْلَهُ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الْعَامِلِيْنَ الْمُخْلِصِيْنَ لِإِقَامَتِهَا بِإِذْنِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.
اللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْبَلاَءَ وَالْوَبَاءَ وَالزَّلَازِلَ وَالْمِحَنَ، وَسُوْءَ الْفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، عَنْ بَلَدِنَا إِنْدُوْنِيْسِيَا خَاصَّةً وَسَائِرِ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللهِ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشآءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، وَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ.


























