NgajiShubuh.or.id — Agak syok ketika mendengar ungkapan Presiden Prabowo Subianto soal responsnya tentang dolar tembus Rp17.600,- yang disampaikan dalam Peresmian Museum Marsinah di Nganjuk, Jawa Timur, Sabtu (16/5). “Jadi saya yakin sekarang ada yang selalu sebentar-sebentar Indonesia akan collapse, akan chaos, akan apa rupiah begini, dolar begini, orang rakyat di desa nggak pake dolar, kok,” kata Prabowo dalam sambutannya saat meresmikan Museum Marsinah di Nganjuk, Sabtu (16/5). Seolah-olah yang diajak berbicara tidak ada yang paham soal dampak buruk dari kenaikan nilai tukar dolar saat ini.
Pernyataan tersebut perlu dikritisi sebagai berikut. Pertama, dampak dari melemahnya rupiah adalah akan terjadi inflasi yang menyebabkan harga barang impor naik tajam. Hal ini memengaruhi kondisi produksi dalam negeri yang otomatis menaikkan harga barang karena kenaikan nilai tukar dolar. Walaupun orang-orang di pasar transaksi dengan rupiah tapi mereka akan mendapatkan efek domino dari kenaikan nilai tukar rupiah tersebut terhadap dolar. Tidak selayaknya, pemerintah memberikan logika bodoh dengan mengatakan, orang-orang di pasar jual beli tidak pakai dolar tapi pakai rupiah. Padahal seluruh masyarakat mendapatkan efek domino akibat kenaikan nilai mata uang dolar. Walhasil, apa yang dilakukan pemerintah seperti “stand up comedy”, yakni hanya menghibur di kala beban hidup masyarakat makin berat.
Kedua, menaikkan beban utang negara. Ketika nilai tukar dolar naik, otomatis membuat beban pembayaran utang negara naik. Terlebih utang negara sudah hampir Rp10 ribu triliun. Posisi utang pemerintah Indonesia tercatat sebesar Rp9.920,42 triliun per akhir Maret 2026. Bayangkan ini angka yang fantastis yang harus dibayar menggunakan dolar ke depannya. Ketika dolar naik, beban negara untuk membayar utang juga makin naik. Masak hal sereceh ini, Prabowo tidak memahaminya? Ketika harga-harga naik otomatis ini menekan ekonomi masyarakat, sehingga berpotensi meningkatkan angka kriminalitas dan chaos.
Ketiga, Indonesia bisa collapse jika terus-menerus bergantung pada dolar. Dolar membuat sebuah negara tidak memiliki kemandirian ekonomi. Bahkan, dengan adanya dolar, Amerika Serikat bebas merampok kekayaan yang ada di negeri ini. Bayangkan nilai 1 tidak setara dengan 1, tapi 1 bernilai 17.600, bayangkan ada 17.599 kekayaan dicuri oleh AS dengan “skenario” nilai mata uang. Padahal sama-sama terbuat dari kertas, tapi AS mengeklaim 1 dolar senilai 17.600 rupiah. Inilah kezaliman yang nyata yang dilakukan oleh mata uang kertas (fiat money) hari ini. Oleh karena itu untuk terbebas dari jerat penjajahan mata uang dolar, harus ada keberanian untuk mengonversi mata uang Indonesia menjadi dinar dan dirham.
Beginilah kondisi negara ketika diatur dengan sistem ekonomi kapitalisme sekuler. Mereka dijajah secara sistematis dan terstruktur oleh sistem ini, tidak hanya lewat aturan-aturan yang mengizinkan asing mengekploitasi sumber daya alam, tetapi juga dengan mata uang yang mereka miliki. Apa pun mata uang kita, jika masih menggunakan mata uang kertas, penjajahan sedang berjalan terus-menerus. Perampokan terselubung terjadi dengan mekanisme mata uang ini, selain itu kenaikan dolar yang tidak bisa diturunkan akan menguras devisa negara. Inilah mengapa kenaikan nilai tukar dolar dianggap perampokan sistematis. Satu-satunya pilihan untuk menyelamatkan kondisi negara adalah menerapkan sistem Islam menyeluruh dalam bingkai negara, sehingga Indonesia bisa berdikari dalam mengatur perpolitikan dalam dan luar negeri. Pertanyaannya, beranikah pemimpin mengambil solusi tuntas ini?[] Ika Mawarningtyas























