Bulan Agustus adalah momen kemerdekaan bagi bangsa Indonesia. Agustus juga menyimpan deretan peristiwa penting yang membentuk sejarah peradaban Islam di kancah dunia. Dari medan perang di Syam hingga meja diplomasi di Den Haag, semuanya terjadi di bulan kedelapan dalam tahun masehi ini.
Salah satu peristiwa penting adalah Perang Yarmuk yang memuncak pada 20 Agustus 636 M. Di bawah kepemimpinan Khalifah Umar bin Khattab dan panglima Khalid bin Walid, pasukan Muslim berhasil mengalahkan kekaisaran Romawi Bizantium, yang menjadi pembuka jalan bagi pembebasan wilayah Syam. Momen ikonik dalam perang ini adalah keberanian Ikrimah bin Abi Jahal yang memimpin 300 ksatria berkuda dalam “pasukan syahid” untuk memecah kebuntuan militer menghadapi pasukan elit Romawi.
Berabad-abad kemudian, pada 26 Agustus 1071 M, terjadi Perang Manzikert. Sultan Alp Arslan dari Turki Seljuk berhasil mengalahkan kaisar Romawi Bizantium; sebuah kemenangan yang menandai awal mula masuknya pengaruh Islam di wilayah Anatolia (Turki modern).
Pada 12 Agustus 1099 M, pasukan Daulah Ayyubiyah berhasil menguasai kota pelabuhan Asqalan (Ascalon) di Palestina. Bagi Salahuddin Al-Ayyubi, penguasaan wilayah ini sangat vital untuk menjaga kesucian Baitul Maqdis.
Sementara di era Kesultanan Utsmaniyah, Agustus mencatat beberapa ekspansi besar:
- 12 Agustus 1480 M: Penaklukan Kota Pelabuhan Otranto di Italia Selatan oleh Sultan Muhammad Al-Fatih sebagai upaya awal menuju Roma.
- 29 Agustus 1526 M: Kemenangan Sultan Sulaiman Al-Qanuni dalam Perang Mohac melawan kekaisaran Habsburg, yang memperluas pengaruh Islam hingga Eropa Tengah.
- 28 Agustus 1542 M: Sultan Sulaiman Al-Qanuni memaklumkan Jihadul Akbar atau perang raya global melawan imperium Portugis yang dianggap mengancam dunia Islam.
Sedangkan sejarah Islam di Nusantara juga tidak lepas dari peristiwa Agustus. Jatuhnya Malaka ke tangan Portugis pada 10 Agustus 1511 M memicu gelombang perlawanan dari berbagai kesultanan, termasuk Demak. Selain itu, pada 27 Agustus 1628 M, Sultan Agung dari Kesultanan Mataram memulai serangan pertama terhadap kedudukan VOC di Batavia.
Masa Senja Khilafah dan Kemerdekaan Indonesia
Pada 31 Agustus 1876 M, Sultan Abdul Hamid II dilantik sebagai khalifah, menjadi penjaga terakhir kedaulatan Islam sebelum kejatuhannya. Namun, pasca Perang Dunia I, tepatnya 10 Agustus 1920 M, wilayah Utsmaniyah dikerat-kerat melalui Perjanjian Sevres, yang melucuti kekuasaan khalifah atas wilayah Arab.
Memasuki era modern, peristiwa bom atom di Hiroshima (6 Agustus 1945) dan Nagasaki (9 Agustus 1945) memaksa Jepang menyerah tanpa syarat, yang kemudian membuka jalan bagi proklamasi kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945. Meskipun Indonesia merdeka, tantangan ideologi muncul pada 18 Agustus 1945 ketika tujuh kata dalam Piagam Jakarta yang mewajibkan syariat Islam bagi pemeluknya dihapuskan dari dasar negara.
Perjalanan panjang perjuangan Indonesia di bulan Agustus ditutup dengan dimulainya Konferensi Meja Bundar (KMB) pada 23 Agustus 1949 di Den Haag. Meskipun menghasilkan pengakuan kedaulatan, Indonesia harus menanggung beban utang kolonial sebesar 4,5 miliar gulden serta penangguhan status wilayah Papua.[]
Disarikan dari kajian dengan tema tersebut di NSTV:


























