NSnews Network by Ngaji Shubuh - Nutrisi Ruh di Setiap Shubuh | Saksikan tayangan livestreaming setiap hari dan nantikan artikel-artikel menarik dari kami. | Bergabung bersama puluhan ribu anggota, dapatkan informasi bermanfaat setiap harinya, dapatkan pula softcopy kajian yang bermanfaat untuk anda, dan bagikan kebaikan ini ke seluruh keluarga serta sahabat anda.

Ketika “Lifestyle Downgrade” Jadi Pilihan In This Economy

Istilah lifestyle downgrade (penurunan gaya hidup) kini menjadi perbincangan hangat di tengah masyarakat dan media sosial. Bagi sebagian besar keluarga, fenomena ini muncul bukan sekadar tren atau pilihan gaya hidup, melainkan bentuk adaptasi paksa dalam menghadapi tekanan finansial yang kian menjepit.

Kondisi ekonomi saat ini dirasakan kian memberatkan, terutama bagi kelompok masyarakat kelas menengah ke bawah.

  • Laju Inflasi dan Harga Pokok: Tingkat inflasi nasional berada pada kisaran 2,8% hingga 3,28%. Angka ini tampak kecil di atas kertas, namun jika kenaikan penghasilan tidak seimbang (minimal naik 3%), daya beli riil masyarakat otomatis merosot.
  • Lonjakan Komoditas Dasar: Di lapangan, kenaikan harga bahan baku kerap melampaui angka inflasi rata-rata. Sebagai contoh, harga tepung tapioka sempat melonjak hingga 100% (dari Rp8.000 menjadi Rp16.000 per kg), yang langsung memukul para pedagang kecil dan pelaku UMKM.
  • Jurang Kemiskinan Riil: Data menunjukkan sekitar 1,2 juta orang dari kelas menengah turun kelas menjadi kelompok rawan miskin setiap tahunnya. Apabila menggunakan batas kemiskinan standar Bank Dunia ($8,30/hari atau sekitar Rp132.000), sebanyak 64% atau 183,6 juta penduduk Indonesia sebetulnya tergolong miskin.

 

Dampak terhadap Kesehatan Mental dan Keharmonisan Keluarga

Tekanan biaya hidup yang terus melonjak berdampak langsung pada kesejahteraan emosional dan stabilitas rumah tangga. Hanya sekitar 14% masyarakat Indonesia yang merasa aman secara finansial, sedangkan 86% sisanya berada dalam ketidakpastian. Studi menunjukkan 44% hingga 60% responden mengalami kecemasan tinggi terkait pemenuhan kebutuhan bulanan dan biaya tak terduga. Tekanan ekonomi yang berkepanjangan memicu kekerasan dan penelantaran ekonomi dalam rumah tangga. Data Komnas Perempuan mencatat bahwa 89,76% kasus kekerasan terhadap perempuan terjadi di ranah domestik, di mana faktor krisis ekonomi sering menjadi pemicu pertengkaran, KDRT, hingga perceraian.

Bagi mayoritas keluarga, lifestyle downgrade sebenarnya bukan lagi soal mengurangi kemewahan, melainkan memasuki mode bertahan hidup (survival mode) untuk mencukupi kebutuhan paling mendasar. Penyesuaian ini terjadi di berbagai lini kehidupan:

  • Pangan dan Belanja Harian: Merek-merek premium digantikan oleh produk lokal atau curah. Pola belanja grosir bergeser menjadi eceran saset (sasetnomik). Frekuensi makan di luar berkurang, serta porsi dan jenis lauk-pauk disesuaikan dengan sisa anggaran.
  • Transportasi dan Hunian: Pemilik kendaraan pribadi beralih menggunakan transportasi publik seperti KRL atau MRT guna menghemat BBM, tol, dan parkir. Di sektor hunian, tingginya harga rumah membuat pasangan muda memilih tinggal bersama di rumah orangtua (co-living) atau pindah ke sewa kontrakan yang lebih kecil.
  • Pendidikan dan Pekerjaan: Orangtua terpaksa memindahkan anak dari sekolah swasta ke sekolah negeri atau menghentikan les tambahan. Di tingkat perguruan tinggi, sebagian lulusan sekolah menengah memilih menunda atau tidak melanjutkan kuliah untuk langsung bekerja di sektor informal. Di sisi lain, para sarjana menghadapi tantangan underemployment, yaitu bekerja di luar bidang keahliannya dengan gaji di bawah standar kompetensi.

 

Ketika penyesuaian gaya hidup belum cukup menutupi celah pengeluaran, pergeseran pola pembiayaan rumah tangga menjadi kian berisiko. Sejak pandemi, porsi simpanan masyarakat terus merosot karena dipakai untuk menutup biaya hidup harian (makan tabungan). Ketika simpanan habis, sebagian keluarga bergeser ke fenomena makan utang melalui pinjaman online (pinjol) dan paylater demi memenuhi kebutuhan dasar. Angka pinjaman online masyarakat tercatat mencapai Rp100 triliun dengan pertumbuhan 25,75% per tahun, sementara penggunaan paylater menembus Rp56,3 triliun.

 

Solusi Taktis Keluarga dan Harapan Perubahan Sistemik

Untuk menghadapi situasi ekonomi yang menantang ini, diperlukan penanganan baik dari skala individu maupun tataran kebijakan publik:

Langkah Taktis Keluarga:

  1. Evaluasi dan Pencatatan Keuangan: Menghitung secara rinci seluruh sumber pendapatan dan memetakan pengeluaran prioritas.
  2. Diversifikasi Penghasilan: Jika pengeluaran dasar tetap lebih besar dari pendapatan utama, solusinya adalah menambah keran penghasilan (seperti pekerjaan sampingan atau wirausaha).
  3. Pengelolaan Utang yang Bijak: Hindari utang konsumtif dan berisiko tinggi. Jika terpaksa berutang untuk kebutuhan pokok mendesak, usahakan rasio cicilan tetap di bawah 30% dari total pendapatan.
  4. Menjaga Solidaritas dan Kebersamaan: Membangun komunikasi yang harmonis antara suami dan istri serta saling mendukung dalam komunitas agar kesehatan mental dan keimanan tetap terjaga.

Langkah Strategis (Peran Negara & Sistem):

Secara makro, krisis ekonomi dan kemiskinan dinilai sebagai masalah struktural akibat penerapan sistem ekonomi yang kurang adil serta monopoli sumber daya alam oleh oligarki. Negara diharapkan hadir secara nyata melalui:

  • Menstabilkan harga bahan pokok dan mengendalikan inflasi.
  • Menyediakan lapangan kerja formal yang berkualitas sesuai kapasitas pendidikan masyarakat.
  • Mengelola sumber daya alam secara adil untuk kemakmuran rakyat serta menjamin pemenuhan hak-hak dasar (pendidikan, kesehatan, dan tempat tinggal) yang layak dan bermartabat.[]

 

Simak kajian lengkapnya secara mendalam di NSTV:

0Shares

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU 🔥