Berjalan menyusuri sisi timur Alun-alun Kota Bandung, kita akan disambut oleh sebuah ruang pedestrian yang tertata anggun bernama “Palestine Walk: Road to Freedom”. Diresmikan pada 13 Oktober 2018 oleh Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi bersama Menteri Luar Negeri Palestina Riyad Malki dan mendiang Walikota Oded M. Danial, jalan ini membentang indah menghubungkan area Balai Kota menuju Jalan Asia Afrika.
Namun, sejarah menyimpan getaran persaudaraan yang melampaui samudera. Jalur pedestrian ini bukan hiasan kota semata; ia mengikuti jejak langkah historis yang pernah ditempuh oleh Habib Utsman bin Husein Al-Idrus pada tahun 1955. Kala itu, sang Habib berjalan dari kediamannya di Sasak Gantung menuju Masjid Raya untuk menjemput dan menyapa sang Mufti Besar Palestina. Keberadaan jalan ini adalah jembatan memori yang mengingatkan kita bahwa napas perjuangan Bandung dan Palestina telah berpadu jauh sebelum kata merdeka diteriakkan secara resmi.
Jejak “Al-Quds” di Tanah Jawa
Hubungan spiritual antara Palestina dan Nusantara sesungguhnya adalah sebuah “utang sejarah” yang bermula dari fajar penyebaran Islam. Identitas “Kudus” di Jawa Tengah bukan sebuah kebetulan, tapi cerminan kerinduan terhadap Al-Quds di Palestina. Tokoh sentralnya, Sunan Kudus (Sayyid Maulana Ja’far Shadiq), lahir di Baitul Maqdis pada awal tahun 1500-an. Ayahnya, Sunan Ngudung (Maulana Utsman Haji), dan ibunya, Siti Syarifah Arrahil (putri Sunan Bonang), sempat bermukim di Yerusalem sebelum akhirnya membawa sang putra kembali ke Jawa.
Warisan ini begitu fisik; Sunan Kudus membawa batu dari kompleks Masjidil Aqsa untuk ditanamkan sebagai salah satu pilar Masjid di Kudus—yang juga dinamai Masjidil Aqsa—sebagai simbol persambungan berkah. Selain beliau, ulama besar seperti Syekh Qura (Maulana Hasanuddin) dari Karawang juga merupakan putra asli Baitul Maqdis. Hubungan nasab dan ilmu ini menegaskan bahwa Islamisasi di Nusantara adalah buah khidmah para ulama Palestina yang menanam benih iman di tanah Jawa.
Suara dari Berlin: Ketika Palestina Mendahului Proklamasi
Fakta yang sering terlupakan adalah dukungan Palestina untuk Indonesia sudah membara bahkan sebelum proklamasi 17 Agustus 1945. Segera setelah Perdana Menteri Jepang Jenderal Koiso Kuniaki menjanjikan kemerdekaan Indonesia pada 7 September 1944, Syekh Muhammad Amin Al-Husaini—Mufti Besar Palestina yang kala itu berada dalam pengasingan di Berlin—langsung menyuarakan dukungan penuhnya melalui pemancar radio internasional selama dua hari berturut-turut.
Dukungan ini bukan retorika politik. Sang Mufti bersama koleganya, Muhammad Thahir Ali—seorang bangsawan dan konglomerat dermawan dari Baitul Maqdis—menggalang dana besar-besaran untuk menyokong finansial perjuangan Indonesia. Di Bandung, kabar ini disambut dengan haru. Pada 7 September 1944, Habib Utsman bin Husein Al-Idrus memimpin massa di Lapangan Tegalega untuk melakukan istighasah. Di bawah pengawasan intelijen Jepang (Kempeitai), mereka berdoa agar kemerdekaan Indonesia segera terwujud sebagai “Rahmat Allah” yang hakiki, bukan sekadar hadiah atau pemberian dari penjajah. Ini adalah bentuk solidaritas “saudara jauh” yang melintasi batas geografis sebelum Indonesia resmi diakui dunia.
Kursi Pinjaman untuk Suara yang Menggetarkan Dunia di KAA 1955
Konferensi Asia Afrika (KAA) 1955 di Bandung secara resmi dihadiri oleh 29 negara. Namun, dunia menyaksikan kehadiran “Delegasi ke-30” yang paling dinamis: Palestina. Meski belum berdaulat penuh dan berstatus sebagai pengamat (observer), delegasi Palestina yang dipimpin oleh Syekh Muhammad Amin Al-Husaini berhasil mencuri panggung dunia.
Agar suara mereka tetap sah di podium formal, para tokoh Palestina menggunakan strategi diplomasi “kursi pinjaman”. Tokoh muda seperti Yasser Arafat—yang kelak menjadi wajah perjuangan Palestina—secara khusus berbicara di bawah payung delegasi Mesir berkat dukungan Jenderal Gamal Abdul Nasir. Sementara sang Mufti berbicara mewakili kepentingan Yaman dan Suriah. Strategi cerdik ini membuat isu penderitaan bangsa Palestina masuk ke dalam komunike bersama Dasasila Bandung pada 24 April 1955, yang menjadikannya pengakuan global pertama bagi perjuangan mereka di forum internasional.
Hotel Suara: Pilihan Strategis di Dekat Rakyat dan Menara Masjid
Selama perhelatan KAA 1955, ada pemandangan yang sangat kontras terkait pilihan akomodasi. Di saat delegasi negara-negara besar menikmati kemewahan Hotel Savoy Homann, delegasi Palestina justru memilih menginap di Hotel Suara. Pilihan ini didasari pada keinginan kuat sang Mufti untuk tetap berada di episentrum kehidupan umat.
Hotel Suara terletak persis di samping Masjid Raya Bandung. Posisi ini memungkinkan sang Mufti untuk “melangkah keluar” dan dengan mudah berinteraksi langsung dengan warga Bandung serta para ulama lokal, termasuk Habib Utsman Al-Idrus dari Yayasan Assalam. Melalui interaksi di sekitar area yang kini menjadi Palestine Walk inilah, pesan-pesan perjuangan Palestina disampaikan secara personal kepada rakyat Bandung. Pilihan ini menunjukkan karakter perjuangan mereka yang tak pernah terputus dari akar spiritual dan kedekatan dengan masyarakat bawah.
Sumpah Setia Bung Karno
Komitmen Indonesia mencapai puncaknya melalui sikap keras Presiden Soekarno. Pada tahun 1950, meskipun Israel telah mengirimkan telegram dukungan diplomatik atas kedaulatan Indonesia, Bung Karno dan Bung Hatta menanggapinya dengan sangat dingin. Indonesia menyadari bahwa mengakui Israel berarti mengabaikan nasib saudara-saudara di Palestina yang terusir dalam tragedi Nakba.
Secara kritis, kita melihat bagaimana solidaritas ini berkembang dari semangat “Pan-Islamisme” yang adaptif menuju perjuangan kenegaraan. Bung Karno memahami bahwa dukungan Palestina adalah fondasi moral bagi Indonesia. Hal ini melahirkan janji politik paling berwibawa dalam sejarah diplomasi kita:
“Selama hak-hak bangsa Palestina belum diberikan kepada bangsa Palestina, maka sampai kapan pun bangsa Indonesia tidak akan pernah menjalin hubungan apa pun dengan negara Israel.”
***
Sejarah panjang ini membuktikan bahwa “Palestine Walk” di jantung Bandung bukan sekadar monumen estetika atau objek wisata swafoto. Ia adalah pengingat akan “utang jasa” sejarah yang belum tuntas—mulai dari kedatangan para Wali, donasi finansial di masa revolusi, hingga panggung diplomasi KAA.
Hubungan ini adalah sebuah estafet komitmen. Jika di masa lalu para pendahulu kita menunjukkan dukungan melalui istighasah dan diplomasi, maka di era sekarang, api dukungan itu tidak boleh padam. “Palestine Walk” adalah jalan menuju kebebasan, sebuah pengingat bagi setiap kaki yang melangkah di sana bahwa perjuangan kemanusiaan masih harus terus berjalan hingga Baitul Maqdis benar-benar merdeka secara hakiki.[]
Disarikan dari kajian dengan tema tersebut di NSTV:
