Belakangan ini, kita menyaksikan fenomena menarik di berbagai penjuru Indonesia, seperti pameran artefak yang marak digelar di Gelora Pakansari, Cibinong, hingga kota-kota besar lainnya. Ribuan umat berbondong-bondong hadir dengan antusiasme emosional yang meluap demi melihat benda-benda yang diklaim sebagai peninggalan Nabi Muhammad SAW: mulai dari pedang, sorban, sehelai rambut, hingga botol kaca kecil berisi darah bekam atau keringat Rasulullah.
Fenomena ini sering dibingkai dalam narasi kecintaan (tabarruk) dan pelestarian sejarah. Namun, sebagai masyarakat yang mewarisi salah satu tradisi intelektual paling ketat di dunia, kita harus berani bertanya secara kritis: apakah mengoleksi dan menyakralkan benda fisik merupakan kelanjutan tradisi asli Islam klasik, ataukah ini sekadar adopsi dari paradigma modernitas Barat yang kita tiru tanpa sadar? Mengapa peradaban yang dulunya dibangun di atas kekuatan ilmu kini seolah merosot menjadi sekadar pemuja bayang-bayang material dalam kotak kaca?
Modernitas Defensif di Balik Koleksi Artefak
Museumisasi sejarah dalam dunia Islam bukanlah praktik alami yang muncul dari masa keemasan. Ia adalah produk dari apa yang disebut sebagai modernitas defensif yang muncul pada abad ke-19, khususnya di era Kesultanan Utsmani.
Saat itu, dunia Islam berada di bawah tekanan hebat geopolitik, militer, dan teknologi Barat pasca-Revolusi Industri. Sebagai respons terhadap ketertinggalan tersebut, muncul upaya sistematis untuk membangun identitas melalui monumen. Di Madinah, misalnya, pemerintah Utsmani membangun masjid-masjid monumen seperti Masjid Ghamamah, Masjid Abu Bakar, Masjid Ali, hingga Masjid Umar.
Masjid-masjid ini dibangun berdekatan, namun bukan untuk fungsi salat jamaah—karena jaraknya hanya beberapa langkah dari Masjid Nabawi—melainkan sebagai marka sejarah untuk memonumentalkan tempat di mana para tokoh tersebut pernah berdiri atau berkhotbah. Ini adalah tanda sebuah peradaban yang mulai ragu akan masa depannya sehingga ia memoles masa lalunya secara berlebihan sebagai kompensasi atas rasa inferioritas global.
Islam sebagai Peradaban Sanad, Bukan Material
Jika kita kembali ke masa Nabi hingga puncak kejayaan Abbasiyah, kita tidak akan menemukan satu pun museum atau galeri artefak. Hal ini bukan karena umat Islam saat itu miskin peninggalan fisik, melainkan karena otoritas kebenaran dalam Islam dibangun di atas Epistemologi Relasional—sebuah transmisi yang bersifat manusiawi, bukan kebendaan.
Otoritas Islam tidak terletak pada tuanya sebuah kertas atau antik tidaknya sebuah pedang. Keaslian sebuah teks ditentukan melalui rantai periwayatan (sanad) yang hidup.
“Islam membangun otoritasnya bukan pada benda tetapi pada transmisi manusia dan ilmu.”
Peradaban Islam adalah peradaban halaqah, di mana ilmu ditransfer secara personal antara guru dan murid dalam interaksi sosial yang dinamis. Sebaliknya, museum adalah tempat di mana objek-objek diletakkan dalam kondisi bisu, terisolasi dari konteks hidupnya. Dalam tradisi sanad, sebuah hadits tidak diterima hanya karena ia tertulis pada kulit unta yang terlihat kuno, tetapi karena manusia-manusia yang membawanya memiliki integritas dan kapasitas intelektual yang terverifikasi.
Museum sebagai Alat Kekuasaan dan Kolonialisme
Kita harus menyadari bahwa arkeologi dan museum adalah anak kandung imperialisme Barat. Ketika Napoleon Bonaparte mendarat di Mesir pada akhir abad ke-18, ia tidak hanya membawa meriam, tetapi juga para arkeolog. Penemuan Batu Rosetta menjadi alat klaim superioritas bahwa bangsa Eropa lebih memahami sejarah Mesir kuno daripada penduduk lokalnya sendiri.
Hal serupa dilakukan oleh Thomas Stamford Raffles di Jawa. Dengan mengumpulkan naskah kuno, keris, dan mengekskavasi Borobudur, kolonial sedang membangun narasi kekuasaan: “Kami adalah pemegang kunci masa lalu kalian.”
Ada sebuah sindiran tajam di kalangan sejarawan: “Mengapa piramid-piramid itu masih ada di Mesir? Jawabannya sederhana, karena mereka terlalu berat untuk diangkut ke Paris atau London.” Jika saja piramid itu ringan, niscaya ia sudah menghuni museum-museum di Eropa, sebagaimana ribuan mumi dan artefak lainnya yang telah diekstraksi sebagai simbol kemenangan kolonial atas memori bangsa lain.
Krisis Verifikasi: Bahaya Epistemik Artefak Majhul
Ada ironi intelektual yang mengkhawatirkan hari ini. Umat Islam sangat disiplin dalam memverifikasi ucapan Nabi (hadits). Kita mengenal evaluasi biografi yang sangat rigorous. Misalnya, ada anekdot tentang seorang murid bergelar “212”—maksudnya dia absen dua kali dan hadir satu kali. Dalam tradisi sanad, integritas murid seperti ini akan dicatat; dia dianggap hanya mendengar sepertiga dari kitab gurunya.
Namun, kedisiplinan ini mendadak hilang saat kita berhadapan dengan artefak. Benda-benda seperti “keringat Nabi” atau “darah bekam” yang dipamerkan sering kali berstatus majhul (anonim/tidak jelas asal-usulnya). Secara saintifik dan metodologis, tidak ada “Chain of Custody” atau rantai kepemilikan yang tak terputus sejak masa Nabi hingga ke kotak kaca di Pakansari. Bagaimana mungkin keringat dalam botol kecil tidak menguap selama 1400 tahun? Siapa yang menampungnya dan bagaimana ia berpindah tangan lintas generasi? Ironisnya, kita sangat ketat terhadap satu perawi hadits yang lemah, namun sangat longgar dan mudah menangis di depan benda fisik yang asal-usulnya gelap.
Pergeseran dari Ittiba’ ke Romantisasi Simbolik
Sakralisasi artefak berisiko menggeser orientasi iman dari ittiba’ (mengikuti ajaran) menjadi romantisasi simbolik yang pasif. Sejarah mencatat kisah Khalifah Al-Ma’mun, seorang rasionalis dari kalangan Mu’tazilah. Suatu ketika, seorang Badui membawakannya sepasang sandal yang diklaim milik Nabi. Al-Ma’mun secara pribadi meragukan keasliannya, namun ia tetap membayar orang tersebut dengan harga tinggi.
Mengapa? Al-Ma’mun bertindak atas dasar pragmatisme politik. Ia tahu bahwa jika ia menolak sandal itu berdasarkan nalar kritisnya, masyarakat akan memfitnahnya sebagai pemimpin yang tidak mencintai Rasulullah. Inilah bahayanya ketika benda fisik dijadikan standar iman; ia menjadi alat politik dan emosional yang mematikan nalar kritis dan esensi ajaran.
Masa Depan adalah Artefak Sejati
Peradaban yang percaya diri tidak akan sibuk mengumpulkan sisa-sisa fisik yang meragukan, melainkan menunjukkan inovasi yang hidup. Di Jepang, terdapat museum bernama Miraikan (Museum Masa Depan) yang menyimpan gagasan dan teknologi masa depan.
Kita bisa melihat contoh kontras pada Iran. Saat memamerkan kemampuannya di forum internasional, mereka tidak hanya membawa sejarah masa lalu, tetapi juga miniatur satelit dan roket buatan sendiri sebagai bukti peradaban yang sedang bergerak. Begitu pula Indonesia pernah memiliki artefak masa depan berupa pesawat N250 karya BJ Habibie, meski kini ia harus berakhir di museum.
Artefak Islam yang sesungguhnya adalah Al-Qur’an dan Sunnah yang dipraktikkan, bukan yang disimpan di bawah lampu sorot. Keagungan Islam tidak butuh dibuktikan dengan potongan kain atau rambut jika metodologi berpikirnya telah hilang dari benak umatnya.
***
Menjadi Peradaban yang Percaya Diri
Menghargai sejarah adalah bentuk penghormatan, namun terjebak dalam nostalgia benda mati adalah tanda amnesia historis terhadap kekuatan metodologi kita sendiri. Kekuatan kita terletak pada sanad ilmu yang kritis, bukan pada pemujaan objek material yang tak bisa bicara.
Sudah saatnya kita berhenti mengekor pada gaya museum kolonial dan kembali menjadi peradaban sanad yang percaya diri. Memuja bayang-bayang fisik Nabi di dalam kotak kaca mungkin memberikan kehangatan emosional sesaat, namun menghidupkan kembali metodologi dan akhlak beliau adalah satu-satunya jalan menuju kemartabatan peradaban.
Kita harus menghidupkan ajaran Nabi dalam tindakan nyata, bukan justru lebih sibuk memuja bayang-bayang fisiknya yang tersimpan bisu di dalam museum.[]
Disarikan dari kajian dengan tema tersebut di NSTV:
