NgajiShubuh.or.id — Pertahanan Iran menghadapi serangan Amerika Serikat (AS) dan entitas Zionis Yahudi memang tidak bisa diremehkan. Konflik Iran-Israel (2025—2026) adalah perang terbuka yang berawal dari ketegangan panjang, ditandai serangan udara Israel (Operasi Rising Lion) ke target nuklir/militer Iran pada Juni 2025, yang dibalas oleh Iran dengan rudal/drone. Kedua pihak saling serang, menyebabkan ratusan korban jiwa (600+ di Iran, puluhan di Israel) serta kerusakan infrastruktur militer dan sipil.
Tampak memang Israel ingin melumpuhkan Iran dengan menyerang pusat penelitian nuklirnya. Akhir Februari 2026, Israel kolaborasi dengan AS menyerang Iran. AS dan Israel melancarkan serangan udara gabungan yang menargetkan fasilitas militer dan kepemimpinan Iran (Operasi Lion’s Roar). Iran melancarkan serangan balasan besar-besaran (serangan ke-88/89) ke Israel dan pangkalan AS di Timur Tengah (Maret—April 2026) menggunakan ratusan drone dan rudal (Emad, Fattah, Khorramshahr). Serangan ini menargetkan situs militer, Tel Aviv, dan pangkalan AS di negara Teluk, diklaim melumpuhkan pertahanan Iron Dome.
Hari ini Iran menunjukkan kepada dunia, negeri Muslim tidak selalu lemah sebagaimana yang mereka lakukan kepada negeri-negeri Muslim yang lain. Iran dengan tangguh mampu membalas serangan AS-Israel. Hal ini telah menunjukkan, AS tidak sesuperior yang selama ini digembar-gemborkan. Bahkan, kekuatan AS-Israel adalah kekuatan semu yang akan menghancurkan mereka karena hanya dibalut dengan kesombongan dan keserakahan.
Seharusnya seluruh negeri-negeri Muslim sadar betul, AS tidak sesuperior itu. Tetaplah kalah jika ada persatuan melawan mereka. Menyorot ketangguhan Iran dalam menghadapi serangan AS-Israel mampukah Iran menjadi negara adidaya? Mampu dan sangat mampu, tapi ada syaratnya. Syarat pertama adalah Iran harus menjadikan Islam sebagai ideologi negaranya. Kedua, Iran harus menerapkan Islam dalam aspek kehidupan dan tidak membiarkan sedikit pun hukum kafir penjajah masuk ke dalam sistem kenegaraan Iran. Tidak boleh ada demokrasi dalam mengatur negara di Iran. Ketiga, Iran harus menjadikan Islam sebagai qiyadah fikriyah (kepemimpinan berpikir) dan qaidah fikriyah (landasan berpikir) di setiap aktivitas dalam mengelola negaranya. Negara adidaya (superpower) adalah negara yang mampu mendominasi dan memberikan pengaruh di dunia. Dia disegani dan ditakuti karena ketangguhan dari aspek ekonomi, militer, politik, budaya, dalam skala global.
Negara adidaya yang mendatangkan rahmat seluruh alam adalah negara yang mau menerapkan Islam secara sempurna dan totalitas dari aspek individu, masyarakat, dan negara. Inilah yang akan mengantarkan Iran menjadi negara adidaya, yakni adidaya dengan sistem pemerintahan Khilafah Islam. Jika Iran masih seperti ini, posisinya di dunia hanya sebagai negara yang melakukan pertahanan akan kejahatan internasional AS-Israel. Namun, jika Iran mau menerapkan Islam dalam sistem politik Islam, Iran akan mendominasi dunia dan akan menyatukan negeri-negeri Muslim di bawah payung keselamatan yang akan membawa kesejahteraan. [] Ika Mawarningtyas
