Krisis Kepemimpinan di Dunia yang Gelap
Dunia saat ini sedang berada dalam kondisi systemic vacuum atau kekosongan sistemik yang akut. Dari peperangan yang menghancurkan di Timur Tengah hingga ketimpangan ekonomi global yang menempatkan kesejahteraan hanya di tangan segelintir elit, peradaban manusia sedang tertatih di bawah kegelapan. Hegemoni kapitalisme global tidak lagi mampu memberikan jawaban atas kerusakan lingkungan dan krisis kemanusiaan yang semakin masif. Dalam diskursus kontemporer, muncul kerinduan akan hadirnya keadilan yang mampu melampaui kepentingan sempit bangsa-negara. Tesis utamanya jelas: Islam lahir dengan DNA kepemimpinan global yang dirancang bukan untuk melakukan eksploitasi, tapi sebagai rahmah (kasih sayang) yang membebaskan manusia dari penyembahan sesama makhluk menuju penghambaan kepada Sang Pencipta.
Visi Global Bukan Monopoli Barat
Narasi dominasi dunia sering kali dianggap sebagai hak eksklusif Barat melalui ideologi Kapitalisme-Demokrasinya. Amerika Serikat, sebagai pemegang tonggak kepemimpinan global hari ini, menjalankan visinya melalui metode al-istimar (penjajahan/imperialisme) demi mengamankan kepentingan energi dan politik. Namun, sejarah mencatat bahwa visi global adalah fitur inheren dari setiap ideologi besar. Sebagaimana Uni Soviet pernah memaksakan ideologi Komunisme sebelum akhirnya runtuh karena kerapuhan pondasinya, Kapitalisme kini sedang menunjukkan gejala serupa.
Berbeda dengan karakter ekspansi Kapitalisme yang didorong oleh sifat rakus untuk mengeruk sumber daya alam melalui hegemoni ekonomi, visi global Islam memiliki landasan yang bertolak belakang. Islam tidak bergerak untuk menindas, melainkan untuk melakukan emansipasi intelektual dan spiritual, memastikan bahwa risalah kebenaran sampai ke seluruh penjuru dunia tanpa tekanan fisik.
Gen Pemenang dalam DNA Islam
Islam tidak dirancang untuk menjadi agama ritual yang terisolasi di sudut masjid. Dalam kacamata sosiopolitik, Islam memiliki konsep izharuddin (memenangkan agama) sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an. Bukan tentang dominasi paksaan, tapi keunggulan paradigma dan sistem hidup yang memimpin peradaban manusia secara utuh (an-naas). Islam membawa “Gen Pemenang” yang menempatkan umatnya sebagai subjek pemimpin peradaban, bukan pengikut yang didikte oleh kepentingan asing.
“Dialah Allah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar Dia memenangkannya di atas semua agama. Dan cukuplah Allah sebagai saksi.” (QS. Al-Fath: 28)
Jebakan Nation-State dan Fragilitas Geopolitik
Kelemahan umat Islam saat ini adalah konsekuensi dari fragmentasi melalui sistem Nation-State (Negara Bangsa). Sekat-sekat yang lahir dari perjanjian kolonial seperti Sykes-Picot telah memecah kekuatan umat menjadi entitas kecil yang tidak berdaya secara geopolitik. Bayangkan betapa fragile dunia hari ini ketika stabilitas ekonomi global disandera oleh ketegangan di titik-titik strategis seperti Selat Hormuz.
Secara ideologis, konsep kepemimpinan tunggal (Khalifah) bukan hanya kebutuhan teologis, melainkan keharusan strategis. Tanpa satu komando, sumber daya energi dan jalur maritim yang melimpah di negeri-negeri Muslim tidak akan pernah bisa digunakan untuk mensejahterakan manusia secara universal. Visi Islam adalah menghapus ilusi perbatasan ini dan menyatukan kembali “negeri-negeri yang dihijaukan oleh Islam” dalam satu naungan politik yang kokoh.
Futuhat versus Imperialisme
Kita harus melakukan dekonstruksi terhadap istilah “penaklukan”. Dalam Islam, istilah yang benar adalah futuhat (pembukaan). Perbedaannya sangat mendasar: jika Imperialisme Barat datang untuk mengeruk sumber daya dan memiskinkan penduduk lokal, futuhat datang untuk membuka jalan bagi cahaya Islam agar sampai kepada masyarakat.
Hal ini tercermin dalam diplomasi Rasulullah SAW melalui surat-suratnya kepada Kaisar Romawi dan Kisra Persia, yang menawarkan Islam sebagai jalan keadilan. Di bawah naungan Islam, keadilan berlaku bagi siapa saja, termasuk non-Muslim (Ahlul Dzimmah). Bahkan, rahmah ini meluas hingga ke alam lingkungan; Islam menghentikan eksploitasi rakus terhadap hutan dan hewan yang saat ini hancur akibat kerakusan korporasi kapitalis. Keadilan Islam adalah perlindungan bagi seluruh makhluk hidup, bukan hanya manusia.
Kepemimpinan Islam tidak jatuh dari langit melalui doa ritual semata, melainkan harus diupayakan melalui metode (thariqah) kenabian. Hal ini mencakup aktivitas dakwah politik untuk membangun kesadaran umat dan mencari dukungan strategis dari para pemegang kekuatan (Ahlul Quwwah), sebagaimana Rasulullah SAW mendatangi puluhan suku kuat untuk mendapatkan dukungan (nusrah) bagi tegaknya institusi politik Islam.
Salah satu profil intelektual yang harus menjadi teladan adalah Zaid bin Tsabit. Di bawah asuhan Nabi, ia mampu menguasai berbagai bahasa asing seperti Suryani, Ibrani, dan Persia hanya dalam waktu singkat. Namun, intinya bukan pada kecerdasannya, tapi pada tujuan strategisnya: Rasulullah SAW membutuhkan komunikasi diplomatik yang independen. Nabi tidak ingin risalah Islam didistorsi oleh penerjemah asing yang mungkin memiliki agenda tersembunyi. Kapasitas intelektual dan kemandirian diplomasi seperti inilah yang mendesak untuk dimiliki oleh umat hari ini agar mampu memimpin di panggung internasional tanpa dipolitisasi oleh kepentingan hegemoni asing.
***
Masa Depan yang Adil
Sejarah kemanusiaan saat ini sedang melewati fase Mulkan Jabriyyan (era kepemimpinan yang memaksakan kehendak/zalim). Namun, fase ini tidak bersifat permanen. Kegagalan sistem global saat ini telah menciptakan ruang hampa yang menanti untuk diisi oleh sistem yang membawa keadilan hakiki. Kembalinya kepemimpinan Islam bukan lagi sekadar impian romantis, melainkan sebuah keniscayaan sosiologis dan eskatologis.
Jika dunia saat ini sedang hancur di bawah kepemimpinan yang tamak, kita harus mampu melepaskan mentalitas inferior dan mempersiapkan diri untuk menjadi bagian dari peradaban yang menjanjikan keadilan bagi seluruh alam. Masa depan tidak menunggu mereka yang diam, melainkan mereka yang bergerak menjemput janji Tuhan dengan kesadaran politik dan intelektual yang paripurna.[]
Disarikan dari kajian dengan tema tersebut di NSTV:
