Kisah-kisah dalam Al-Quran menyimpan pelajaran penting tentang bagaimana manusia seharusnya bersikap saat menghadapi situasi sulit atau jalan buntu. Salah satu momen bersejarah adalah ketika Nabi Musa AS berada dalam kondisi buntu total: di depannya membentang lautan yang dalam, sementara di belakangnya pasukan Firaun bergerak mengejarnya semakin dekat.
Secara logika dan perhitungan matematis manusia, memukulkan tongkat kayu ke permukaan air tidak mungkin bisa membelah lautan. Namun, Allah SWT tetap memerintahkan Nabi Musa untuk melakukannya. Peristiwa serupa juga dialami oleh Siti Maryam. Dengan kondisi tubuh yang sangat lemah setelah melahirkan, secara rasional hampir mustahil baginya untuk menggoyangkan batang pohon kurma yang besar. Meski demikian, Allah tetap memerintahkannya untuk menggoyangkan pohon tersebut hingga buah kurma matang (ruthab) jatuh sebagai rezekinya.
Mengapa Allah Memerintahkan Usaha yang Tampak Mustahil?
Apakah Allah benar-benar membutuhkan pukulan tongkat Nabi Musa atau dorongan tangan Siti Maryam? Sama sekali tidak. Allah Maha Kuasa dan mampu menghadirkan pertolongan tanpa perantara apa pun.
Namun melalui peristiwa ini, Allah ingin mengajarkan manusia tentang adab ikhtiar. Perintah berusaha tersebut bertujuan untuk menghancurkan dua sikap ekstrem yang keliru dalam hidup:
- Fatalisme: Sikap diam memangku tangan dan menyerah begitu saja tanpa mau berusaha.
- Materialisme: Sikap merasa bahwa keberhasilan semata-mata ditentukan oleh kehebatan dan kerja keras diri sendiri.
Melalui dua kisah tersebut, kita diajarkan bahwa ikhtiar adalah bentuk ibadah dan kewajiban manusia, sedangkan hasil akhir sepenuhnya merupakan hak dan kehendak Allah SWT.
***
Dalam konteks dakwah dan perjuangan hidup, kata “utopia” (sesuatu yang mustahil) harus dijauhkan. Walaupun secara perhitungan manusia sebuah peluang tampak seperti nol, manusia tidak boleh berhenti melangkah.
Tugas manusia adalah terus bergerak dan berjuang menggunakan argumen yang menggugah akal, menyentuh perasaan, serta menggetarkan jiwa. Selama manusia menjalankan tugasnya dengan sungguh-sungguh, pertolongan Allah (nashrullah) pasti hadir sesuai ketetapan-Nya, termasuk janji tegaknya syariah yang sama sekali bukanlah hal yang utopis.[]

























