NSnews Network by Ngaji Shubuh - Nutrisi Ruh di Setiap Shubuh | Saksikan tayangan livestreaming setiap hari dan nantikan artikel-artikel menarik dari kami. | Bergabung bersama puluhan ribu anggota, dapatkan informasi bermanfaat setiap harinya, dapatkan pula softcopy kajian yang bermanfaat untuk anda, dan bagikan kebaikan ini ke seluruh keluarga serta sahabat anda.

Menyiapkan Bekal Utama untuk Perjalanan Terpanjang (Abadi) Kita

Saat seseorang hendak melakukan perjalanan jauh (safar) di dunia, seperti ibadah haji atau umrah, persiapan biasanya dilakukan secara matang jauh-jauh hari. Mulai dari menabung ongkos bertahun-tahun hingga mengecek paspor dan visa berulang kali agar tidak ada yang tertinggal. Kelalaian kecil saja bisa menggagalkan keberangkatan dan menyisakan penyesalan yang amat dalam.

Namun, jika persiapan untuk perjalanan dunia yang singkat bisa begitu optimal, bagaimana dengan persiapan kita menghadapi perjalanan terpanjang (abadi) di akhirat pasca kematian?

Realitasnya, tidak semua orang bersungguh-sungguh menyiapkan bekal untuk kehidupan akhiratnya. Padahal, satu-satunya bekal terbaik (khayr zaad) menuju Allah SWT adalah takwa, sebagaimana ditegaskan dalam Al-Quran surah Al-Baqarah ayat 197.

Apa yang Benar-Benar Menjadi Bekal Akhirat?

Banyak orang terkecoh dengan fokus mengumpulkan hal-hal yang tidak bisa menjadi bekal di akhirat kelak:

  • Harta, jabatan, dan kekuasaan tidak akan memberi manfaat di akhirat, kecuali jika harta tersebut disedekahkan/diwakafkan, serta jabatan dan kekuasaan digunakan untuk kemaslahatan umat, menegakkan syariah, dan memperjuangkan agama.
  • Takwa adalah “tiket” utama untuk bisa memasuki surga. Tanpa bekal takwa dan amal saleh, seseorang berisiko gagal masuk surga dan jatuh dalam penyesalan.

 

Penyesalan Orang yang Telah Meninggal

Orang-orang yang sudah meninggal baru menyadari betapa sedikitnya amal saleh dan betapa banyaknya dosa yang mereka perbuat semasa di dunia. Imam Ibnu Rajab al-Hanbali menjelaskan bahwa orang yang telah mati sangat berangan-angan bisa kembali hidup ke dunia walau hanya sesaat. Keinginan tersebut semata-mata agar mereka bisa bertobat dan bersungguh-sungguh melakukan ketaatan, meskipun hal itu sudah mustahil terjadi.

Kesadaran untuk tidak membawa dosa juga ditekankan oleh Imam Ibnu al-Jauzi. Beliau mengingatkan bahwa Nabi Adam AS pernah dikeluarkan dari surga hanya karena satu dosa; maka sangat tidak pantas jika seseorang berambisi masuk surga sementara ia membawa tumpukan dosa yang tidak ditobati.

Dua Langkah Penting Memupuk Takwa

Agar bekal takwa selalu terjaga hingga ajal menjemput, ada dua langkah utama yang perlu dibiasakan:

  1. Jangan Menunda-nunda Tobat
    Luqmanul Hakim menasihati anaknya untuk tidak menunda tobat karena kematian selalu datang secara tiba-tiba. Menunda tobat di usia muda adalah hal yang sangat buruk, dan menjadi jauh lebih buruk lagi jika dilakukan ketika sudah berusia tua.
  2. Jadikan Ketaatan sebagai “Perniagaan” Terbaik
    Malik bin Dinar mengingatkan agar kita menjadikan ketaatan kepada Allah sebagai bentuk “bisnis” atau perniagaan yang mendatangkan keuntungan melimpah di akhirat tanpa harus menjual barang dagangan.

 

***

Selalu bertobat dan bersungguh-sungguh taat menjalankan perintah Allah serta menjauhi larangan-Nya merupakan ciri utama orang yang bertakwa. Karena kematian tidak pernah menunggu seseorang untuk bertobat terlebih dahulu, hendaknya kita senantiasa bekerja keras mempersiapkan bekal takwa di mana pun dan kapan pun demi keselamatan perjalanan panjang kita di akhirat kelak.[]

0Shares

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU 🔥