NSnews Network by Ngaji Shubuh - Nutrisi Ruh di Setiap Shubuh | Saksikan tayangan livestreaming setiap hari dan nantikan artikel-artikel menarik dari kami. | Bergabung bersama puluhan ribu anggota, dapatkan informasi bermanfaat setiap harinya, dapatkan pula softcopy kajian yang bermanfaat untuk anda, dan bagikan kebaikan ini ke seluruh keluarga serta sahabat anda.

Menyembuhkan Luka

NgajiShubuh.or.id — “Luka ini ibarat paku yang sudah menancap di tembok. Jika pakunya dicabut, bekas lukanya masih ada di dinding tembok,” ujarnya sambil menyimpan luka batinnya. Pernyataan ini seolah menjadi pembenaran untuk menyimpan luka dan memendam kemarahan karena luka batinnya. Dalam kehidupan, namanya kecewa, marah, dan jengkel sering menyelimuti. Begitu juga ketika berinteraksi dengan sesama manusia tentunya akan ada gesekan maupun benturan yang bisa membuat luka. Entah luka fisik maupun luka batin. Namun bagaimana sih menyembuhkan luka itu? Apakah luka itu bisa sembuh?

Jika luka diibaratkan paku yang menancap di tembok, maka mereka sama saja mengibaratkan hati manusia ini sekeras batu/tembok. Tembok yang apabila retak atau rapuh, maka akan ambruk juga. Padahal hati manusia tidak serapuh itu. Oleh karena itu, jangan mengibaratkan hati seperti batu atau tembok yang tidak bisa sembuh dari luka, karena semua orang pasti bisa sembuh dari luka batinnya. Kapan sih manusia itu akan terluka? Tentunya ketika kenyataan tidak sesuai dengan harapan mereka. Inilah sumber luka manusia hari ini. Ketika belum bisa menerima kenyataan yang tidak sesuai dengan keinginannya. Di sinilah peran akidah membimbing hatinya supaya tetap dalam koridor keimanan kepada Allah Swt.

Ada dua hal yang harus dimengerti, manusia hidup di dua daerah. Pertama, daerah yang dikuasainya, sehingga dalam ranah ini manusia akan mempertanggungjawabkan semua perbuatannya. Setiap pilihan yang mereka pilih akan dipertanggungjawabkan. Kedua, daerah yang menguasai manusia alias dikuasai Allah Swt, di ranah qada dan qadar. Inilah ujian manusia setiap hari, yakni bisa beriman kepada qada dan qadar baik-buruknya datang dari Allah Swt. Sehingga ketika yakin bahwa takdir itu datang dari Allah Swt., maka mau menerima dengan legowo, ikhlas, dan dalam kondisi sadar dan sabar.

Oleh karena itu, tidak sepatunya manusia merasa superior bisa menjadi pengendali segalanya karena faktanya memang ada ranah yang tidak dikuasai manusia. Jika terus bersikap superior maka harus siap terluka, karena sejatinya manusia itu lemah dan hanya Allah Yang Mahakuat. Untuk sembuh dari luka salah, pertama, adalah dengan menyadari akan dua ranah tesebut yakni ranah yang dikuasai manusia dan menguasai manusia. Kedua, pasrah yakni tawakal kepada Allah Swt. Pasrah itu bukan tanda manusia lemah tapi tanda manusia itu sadar, tanpa pertolongan Allah Swt. dia tidak bisa apa-apa. Ketiga, terimalah dengan ikhlas segala ketetapan-Nya. Jika itu kebaikan maka bersyukur, jika itu keburukan maka bersabarlah.

لَهُ مُعَقِّبَاتٌ مِّن بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ يَحْفَظُونَهُ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنفُسِهِمْ ۗ وَإِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِقَوْمٍ سُوءًا فَلَا مَرَدَّ لَهُ ۚ وَمَا لَهُم مِّن دُونِهِ مِن وَالٍ

Artinya: “Baginya (manusia) ada malaikat-malaikat yang selalu menjaganya bergiliran, dari depan dan belakangnya. Mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya dan tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia.” (TQS. Ar-Ra’d: 11).[] Ika Mawar

0Shares

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU 🔥