Mengapa Harta Bertambah tapi Hati Gelisah?
Kita hidup di zaman di mana kesuksesan diukur dari deretan angka di saldo rekening dan luasnya ekspansi bisnis. Namun, ada fenomena ganjil yang menyelimuti masyarakat modern: harta terus bertambah, namun hati semakin gelisah; omset melonjak tajam, tetapi ketenangan justru menjauh. Mengapa demikian?
Realitas pahitnya adalah tidak semua rezeki berupa harta membawa ketenangan. Ada harta yang membawa berkah, namun ada pula harta yang hanya memicu kekhawatiran tanpa henti. Ekonomi bukan sekadar persoalan teknis tentang bagaimana mengumpulkan materi, melainkan persoalan eksistensial tentang bagaimana kita berhubungan dengan Sang Pemberi Rezeki. Kita akan membedah falsafah ekonomi Islam yang melampaui statistik dan strategi, untuk mengungkap mengapa sistem yang kita jalani saat ini seringkali justru menjauhkan kita dari hakikat kebahagiaan.
Bisnis adalah Ketaatan, Bukan Sekadar Strategi
Saat ini, banyak orang rela merogoh kocek dalam-dalam untuk mengikuti workshop bisnis yang menjanjikan cara cepat menjadi kaya. Mereka mengejar strategi cuan yang agresif, namun ironisnya, kelas-kelas fikih muamalah yang mengajarkan cara berbisnis yang halal justru sepi peminat. Padahal, dalam Islam, pondasi bisnis dimulai dari iman, bukan statistik.
Bisnis bukan sekadar soal bagaimana memenangkan persaingan, tetapi tentang ketaatan. Ini mencakup niat yang lurus, cara yang benar sesuai syariat, dan akad yang sah. Ketika orientasi bergeser dari sekadar “angka” menuju “berkah,” seorang pengusaha tidak akan lagi terobsesi pada kuantitas keuntungan, melainkan pada kehalalan setiap rupiah yang diraih. Pergeseran ini krusial bagi kesehatan mental; ketenangan batin hanya akan hadir saat kita yakin bahwa bisnis kita tidak sedang mengundang murka Allah.
“Bisnis dalam Islam tidak langsung bicara tentang profit. Ia dimulai dari orientasi bisnis yang benar, pemahaman konsep rezeki sebagai hak prerogatif Allah, dan penerapan adab pengusaha Muslim sebelum menyentuh aspek teknis muamalah.”
Bukan Kelangkaan, tapi Ketamakan Manusia yang Menjadi Masalah
Ekonomi konvensional dibangun di atas asumsi kelangkaan (scarcity). Mereka mengklaim bahwa barang terbatas sementara keinginan manusia tidak terbatas. Namun, Islam melihat dari sudut pandang berbeda: masalah asasi ekonomi bukanlah kelangkaan barang yang disediakan alam, melainkan buruknya distribusi akibat pengaturan interaksi manusia yang zalim.
Lihatlah perbedaan antara hewan dan manusia. Seekor singa, meskipun buas, hanya akan membunuh satu atau dua kijang untuk mengenyangkan perutnya karena ia tidak memiliki akal—ia bergerak murni berdasarkan insting lapar. Sebaliknya, manusia yang dibekali akal dan gharizatul baqa (naluri mempertahankan diri) tanpa tuntunan agama, mampu menghabisi seluruh isi hutan demi kepuasan pribadinya.
Ketamakan manusia inilah yang memicu perselisihan. Dan celakanya, manusia sering mencoba menyelesaikan masalah ini melalui hukum buatan parlemen yang inheren dengan bias kepentingan. Orang-orang di parlemen seringkali tidak mewakili rakyat, melainkan mewakili diri sendiri, keluarga, atau kelompok bisnis mereka. Inilah mengapa kita membutuhkan Al-Qur’an sebagai pemutus hukum yang objektif (liyahkuma bainannas), agar distribusi harta tidak hanya berputar di lingkaran elit yang serakah.
Jebakan Angka
Pemerintah sering membanggakan angka pertumbuhan ekonomi (GDP/GNP) sebagai indikator kesuksesan. Namun, ini adalah “permainan angka” (main-main angka) yang menipu. Angka rata-rata seringkali menutupi kesenjangan yang sangat menyakitkan.
Bayangkan jika ada 10 orang: 9 orang berpenghasilan 1 juta rupiah, dan 1 orang berpenghasilan 1 miliar rupiah. Secara statistik, rata-rata pendapatan mereka terlihat sangat tinggi, padahal 9 orang di antaranya tetap hidup melarat. Inilah manipulasi statistik yang terjadi saat ini. Di Indonesia, jika kita menggunakan standar BPS (garis kemiskinan sekitar Rp600.000/bulan), angka kemiskinan tampak kecil, sekitar 10%. Namun, jika kita menggunakan standar Bank Dunia yang lebih manusiawi ($3 per hari atau sekitar Rp1,5 juta/bulan), terungkap fakta pahit bahwa 60% atau sekitar 194 juta rakyat Indonesia sebenarnya hidup di bawah garis kemiskinan.
- Ukuran Kesuksesan Kapitalis: Fokus pada pertumbuhan angka makro dan akumulasi kekayaan di tangan segelintir elit (1%).
- Ukuran Kesuksesan Islam: Fokus pada terpenuhinya kebutuhan pokok (sandang, pangan, papan) serta kebutuhan publik (pendidikan, kesehatan, keamanan) bagi setiap individu per orang tanpa kecuali.
Pentingnya Kompas Syariat
Menjalani ekonomi tanpa syariat ibarat pesawat yang jatuh di tengah hutan belantara yang gelap gulita. Kita tidak tahu mana jalan setapak yang aman dan mana jurang yang curam. Al-Qur’an diturunkan sebagai peta dan kompas agar manusia bisa keluar dari kegelapan tersebut.
Ironisnya, banyak orang modern saat ini menolak peta tersebut dengan alasan bahwa Al-Qur’an adalah produk abad ke-14 yang sudah usang dan tidak relevan. Mereka lebih percaya pada kecerdasan modern mereka sendiri, padahal mereka sedang tersesat di tengah hutan yang mematikan. Mengikuti syariat bukanlah pilihan gaya hidup yang bebas tanpa risiko; mengabaikannya berarti memilih jalan kesengsaraan. Allah telah memperingatkan bahwa berpaling dari petunjuk-Nya akan berujung pada ma’isyatan dhanka—penghidupan yang sempit, sesak, dan menderita, baik di dunia maupun di akhirat.
Dosa Investasi
Banyak dari kita merasa sudah aman karena telah salat, puasa, dan berzakat secara individu. Namun, ada ancaman besar bernama “Dosa Investasi” atau “Dosa Kifayah” bagi mereka yang saleh secara pribadi tetapi diam terhadap sistem ekonomi yang zalim dan ribawi.
Siksaan Allah tidak hanya ditujukan kepada para koruptor atau pelaku riba secara langsung. Siksaan itu juga akan menimpa orang-orang baik yang cuek dan tidak peduli terhadap penerapan syariat dalam kehidupan publik. Diamnya kita terhadap tidak diterapkannya aturan Allah dalam ekonomi adalah sebuah bentuk kontribusi pada kezaliman sistemik.
“Dan peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak hanya menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Ketahuilah bahwa Allah sangat keras siksaan-Nya.” (QS. Al-Anfal: 25)
***
Memilih Jalan menuju Berkah
Memperbaiki ekonomi bangsa tidak bisa dilakukan hanya dengan otak-atik angka statistik atau kebijakan moneter yang semu. Ia harus dimulai dengan kembali kepada Fikih Muamalah, memastikan setiap langkah bisnis kita sinkron dengan kehendak Sang Pencipta. Kesuksesan sejati bukan terletak pada seberapa besar “kerajaan” yang kita bangun, melainkan pada seberapa berkah harta yang kita miliki untuk membawa kita selamat di pengadilan akhirat nanti.[]
Disarikan dari kajian dengan tema tersebut di NSTV:
