NgajiShubuh.or.id — Cemburu sering menjadi warna tersendiri dalam hubungan pernikahan. Cemburu adalah emosi kompleks berupa rasa tidak senang, curiga, takut kehilangan, atau marah, yang muncul akibat perasaan terancam akan kehilangan kasih sayang, perhatian, atau kedekatan dengan seseorang karena pihak ketiga. Cemburu ini bisa menghancurkan sebuah hubungan jika disikapi berlebihan dan tidak pada tempatnya.
Menyoal hal tersebut, mengapa seseorang merasa cemburu berlebihan? Pertama, karena dia merasa memiliki pasangannya. Menganggap pasangannya adalah miliknya. Sehingga memberikan batasan berdasarkan keinginannya untuk menguasai pasangannya. Kedua, karena prasangka-prasangka yang berlebihan dan tidak terkendali. Ketiga, belum adanya rasa percaya kepada pasangannya. Sehingga, ada curiga-curiga yang tidak berdasar.
Mari dibahas satu-satu. Penyebab pertama, terkait kepemilikan. Sebenarnya dunia dan seisinya termasuk manusia atau pasangan halal kita adalah milik Allah Swt., bukan milik pribadi. Sehingga, rasa cemburu itu seharusnya muncul ketika pasangan tidak melaksanakan kewajibannya atau tanggung jawabnya sebagai hamba Allah Swt. Kecemburuan harus datang ketika ada pelanggaran syariat sehingga menyebabkan terjerumus ke dalam perbuatan maksiat.
Sebagai contoh, seorang suami melihat istrinya tidak menutup aurat dengan benar. Lalu ia cemburu, marah, atau tidak senang karena pasangannya tidak menjaga auratnya dengan benar. Sehingga untuk cemburu pun sebenarnya perlu dasar ketaatan kepada Allah Swt. Bukan karena pasangan milik kita, tetapi pasangan kita adalah milik Allah yang harus kita jaga ketaatannya kepada Allah Swt.
Alasan kedua, karena prasangka. Berprasangka memang boleh-boleh saja, tapi alangkah baiknya prasangka tetap dikendalikan berdasarkan fakta yang ditemui. Ketika suami pergi bekerja dan telat pulang langsung berprasangka suami selingkuh, padahal semua bisa diklarifikasi dan dikonfirmasi. Sekalipun pada saat itu belum ada kejelasan terkait keterlambatan pulangnya karena apa, sebaiknya mendahulukan prasangka baik. Sehingga prasangka baik ini bisa merawat hubungan dengan harmonis.
Sebenarnya, prasangka berlebihan dan tidak berdasar, bisa jadi itu dari bisikan setan agar terjadi kekisruhan atau tidak adanya ketakwaan di sana. Oleh karena itu, prasangka pun perlu ditata supaya tidak melebar ke mana-mana dengan tabayun dan saling percaya. Ketiga, kurangnya saling percaya. Rasa saling percaya ini tidak berdiri sendiri sehingga kita percaya dengan manusia, tapi saling percaya tersebut dilandasi dengan tawakal kepada Allah Swt, yakni kita pasrahkan dan titipkan pasangan kita kepada Allah Swt.
***
Mendudukkan perkara cemburu karena Allah Swt. akan mengantarkan kita untuk menjadi hamba yang kuat akidahnya dan senantiasa dalam ketaatan. Faktanya memang kita manusia biasa yang tidak bisa mengawasi pasangan selama 24 jam nonstop. Namun, di sinilah keyakinan kita diuji. Oleh karena itu, membina rumah tangga yang utuh dibutuhkan akidah yang kuat dan ketakwaan yang sempurna. Sehingga bisa menempatkan rasa cemburu pada posisi yang pas.[] Ika Mawarningtyas
