NSnews Network by Ngaji Shubuh - Nutrisi Ruh di Setiap Shubuh | Saksikan tayangan livestreaming setiap hari dan nantikan artikel-artikel menarik dari kami. | Bergabung bersama puluhan ribu anggota, dapatkan informasi bermanfaat setiap harinya, dapatkan pula softcopy kajian yang bermanfaat untuk anda, dan bagikan kebaikan ini ke seluruh keluarga serta sahabat anda.

Peringatan Rasulullah tentang Kepemimpinan Bodoh dan Solusi Sistemiknya

Rasulullah SAW telah memperingatkan umat Islam akan datangnya masa imarat al-sufaha’ (kepemimpinan orang-orang bodoh) yang hadir di tengah masa mulkan jabriyatan atau era penguasa otoriter sebelum terbitnya kembali kepemimpinan di atas jalan kenabian. Istilah imarat al-sufaha’ merujuk pada para pemimpin (umara) yang tidak mengambil petunjuk (hadii) dan tidak mengamalkan sunnah kepemimpinan Nabi Muhammad SAW. Mereka dicirikan oleh pemikiran yang dangkal (khifaful ahlam) serta kebodohan baik dalam ilmu maupun amal (al-juhhal ilman wa amalan), sehingga menjalankan roda pemerintahan dengan tata nilai yang bertentangan dengan syariat Islam.

Dalam konteks modern, fenomena kepemimpinan ini bertumpu pada tata politik demokrasi sekuler yang memisahkan nilai-nilai agama dari pengaturan kehidupan masyarakat. Akibatnya, lahir berbagai kebijakan yang merugikan publik, seperti pelegalan sistem ekonomi ribawi, komersialisasi layanan dasar seperti pendidikan dan kesehatan, hingga pembiaran penyimpangan moral di tengah masyarakat. Kebijakan yang dikeluarkan kerap dibungkus dengan narasi kepentingan rakyat, namun pada kenyataannya lebih banyak melayani kepentingan lingkaran kekuasaan dan kelompok oligarki, yang berujung pada ketidakadilan hukum dan penderitaan masyarakat luas.

Hadits Nabi SAW memberikan peringatan keras kepada siapa saja yang membenarkan kebohongan para pemimpin tersebut (yushaddiquhum bikadzibihim) atau menyokong kezaliman mereka (yuinuhum ‘ala zhulmihim). Peringatan ini tidak hanya berlaku bagi penguasa itu sendiri, tetapi juga mencakup para pembuat opini (buzzer) hingga kalangan intelektual atau ulama yang bersedia memberikan legitimasi keagamaan atas kebijakan yang zalim. Rasulullah SAW secara tegas berlepas diri dari golongan tersebut (laisu minni wa lastu minhum) dan menegaskan bahwa mereka tidak akan mendatangi telaganya (al-haudh) di hari kiamat. Sebaliknya, jaminan keselamatan hanya diperuntukkan bagi mereka yang secara konsisten menolak membenarkan kebohongan dan tidak mendukung kezaliman penguasa.

Sebagai jalan keluar, masalah yang dihadapi masyarakat saat ini dinilai bersifat sistemik, sehingga tidak cukup hanya dengan mengganti sosok atau personel pemimpin semata. Solusi mendasarnya adalah mengganti sistem kepemimpinan yang rusak dengan kembali menerapkan sistem kepemimpinan Islam (khilafah ‘ala minhajin nubuwah) yang menjalankan syariat secara menyeluruh. Umat Islam diimbau untuk terus menjalankan amar ma’ruf nahi munkar serta mengoreksi penguasa (muhasabatul hukam), sebab menyampaikan kebenaran secara tegas di hadapan penguasa yang zalim merupakan salah satu bentuk jihad yang paling utama.[]

0Shares

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU 🔥