NgajiShubuh.or.id — Hari ini dunia sedang ketar-ketir dengan kecanggihan artificial intelligence (AI). Dalam sebuah riset, AI dikhawatirkan dapat menjalankan tenaga kerja yang setara dengan jutaan peneliti terbaik karena otomatisasi penelitian dan pengembangan oleh AI itu sendiri.
Ada beberapa hal yang perlu disorot dalam pengembangan AI. Pertama, pengembangan AI dan mesin-mesin AI membutuhkan sumber daya energi yang sangat banyak. Sebagai contoh untuk menghidupkan mesin-mesin AI membutuhkan daya listrik yang sangat besar. Daya listrik dibangkitkan dari energi seperti batu bara atau minyak bumi lainnya.
Komponen seperti RAM, VRAM, dan HBM (High Bandwidth Memory) untuk menyimpan data yang sedang diproses juga membutuhkan komponen seperti tembaga, emas, dan sebagainya yang diambil dari sumber daya mineral. Pengembangan AI yang setara dengan jutaan ilmuwan terbaik membutuhkan energi yang sangat banyak dan besar. Ini yang berpotensi merusak keseimbangan alam jika sumber daya alam dieksploitasi untuk pengembangan AI.
Kedua, mesin AI yang sangat panas ketika menjalankan prosesnya butuh didinginkan oleh sumber air murni. Hal yang perlu dipikirkan ke depan, pendinginan mesi AI jangan sampai menjadikan umat manusia mengalami krisis air bersih. AI diciptakan untuk membantu pekerjaan umat manusia, bukan untuk merusak alam dan saingan dengan manusia untuk mendapatkan air bersih.
Ketiga, pengembangan AI harus tetap berdasarkan konsep kemaslahatan umat. Pengembangan AI jika berpotensi merusak alam, yakni menyebabkan krisis air, eksploitasi sumber daya alam masif, bahkan polisi suara dan sebagainya, maka harus dipikirkan dan dilakukan penelitian ulang supaya kondisi umat manusia dan alam tidak rusak.
Pengembangan AI memang tidak bisa ditolak, tugas umat manusia adalah memikirkan bagaimana pengembangan teknologi seperti AI tidak dijadikan alat untuk menciptakan kerusakan sistematis. Di sinilah perlu dibahas di bawah ideologi apa AI ini akan berkembang?
Dalam konsep kehidupan kapitalisme, kecanggihan AI digunakan untuk mengeliminasi tugas yang seharusnya dijalankan manusia. Kapitalisme memang tidak membutuhkan nilai, yang mereka kejar adalah dengan modal sekecil-kecilnya tetapi mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya.
Tidak hanya itu, konsep kapitalisme adalah mengendalikan manusia di bawah kepentingan segelintir kapitalis. AI mampu mewujudkan ambisi kapitalisme untuk menguasai dunia. Tidak perlu berdiskusi dengan banyak manusia atau mempertimbangkan pendapat atau nasib mereka. Yang terpenting adalah ambisi mereka menguasai dunia dan seisinya terpenuhi.
Mereka akan mengeksploitasi alam untuk memberi makan mesin-mesin AI agar terus berjalan. Selain itu, krisis air bersih, polusi, dan kerusakan alam berpotensi terjadi demi menghidupi mesin-mesin AI tersebut. Inilah kezaliman yang tercipta jika teknologi AI berkembang di bawah ideologi kapitalisme. AI akan berkembang pesat memenuhi ambisi kapitalisme dengan menciptakan kerusakan alam.
Boleh-boleh saja AI terus dikembangkan tetapi ideologi yang menaungi AI tidak boleh dilepaskan. Walaupun AI itu canggih dan cerdas, dia tetap membutuhkan manusia untuk mengisi bahan bakar mesin-mesin AI bekerja dan sistem kerja yang benar. Oleh karena itu, pengembangan AI yang membawa kemaslahatan umat harus dikembangkan di bawah ideologi Islam bukan kapitalisme yang serakah.
Kaum Muslim harus bangkit, bersatu, dan mewujudkan kehidupan Islam. Sehingga keserakahan kapitalisme tidak terus menerus dilegitimasi dengan kecanggihan AI. Kaum muslim harus segera menyelamatkan dunia dengan penerapan Islam secara sempurna dan paripurna. Sehingga kecanggihan AI berada dalam koridor Islam sebagai rahmat untuk seluruh alam.[] Ika Mawarningtyas



























