Tragedi ini bukan sebatas rentetan musibah yang kebetulan terjadi bersamaan; ini adalah simfoni duka dari sebuah sistem yang gagal melindungi rahim peradaban. Belum kering air mata kita menyaksikan rekaman memilukan dari sebuah daycare di Yogyakarta—di mana bayi-bayi diperlakukan layaknya komoditas tak bernyawa dengan kaki dan tangan terikat—kita kembali dihantam kabar duka dari perkeretaapian tanah air. Di antara puing-puing kecelakaan gerbong khusus wanita, ditemukan tas pendingin ASI (cooler bag) yang masih utuh, kontras dengan nyawa pemiliknya yang telah tiada. Salah satu korban bahkan dilaporkan baru menjalani hari pertamanya bekerja setelah cuti melahirkan berakhir.
Ada getaran empati yang kuat saat kita membayangkan para ibu ini: mereka yang bertaruh nyawa di jalanan dan menitipkan jantung hatinya di tangan institusi yang sering kali asing. Kita harus berani mengajukan pertanyaan kritis: mengapa di era yang mengagungkan kemajuan ini, seorang ibu seolah tidak memiliki pilihan selain mempertaruhkan keamanan diri dan anaknya demi sekadar menjaga tungku dapur tetap mengepul?
Benang Merah Dua Tragedi: Eksploitasi Struktural yang Tak Terelakkan
Jika kita menyingkap tabir di balik dua peristiwa ini, kita akan menemukan sebuah realitas sosiologis yang seragam. Mayoritas korban adalah wanita, khususnya ibu bekerja yang terjepit dalam pusaran ekonomi. Statistik menunjukkan bahwa 51,4% pengguna commuter line adalah perempuan, yang sebagian besar adalah pegawai swasta. Mereka adalah pejuang subuh yang mengejar transportasi massal paling terjangkau demi efisiensi upah yang sering kali hanya cukup untuk bertahan hidup.
Fenomena ini mencerminkan rendahnya upah kepala keluarga (ayah) yang memaksa ibu keluar dari zona domestiknya. Di atas kertas, standar UMR yang berlaku saat ini hanya dirancang untuk kebutuhan individu lajang, bukan untuk kehidupan layak sebuah keluarga dengan anak-anak yang membutuhkan nutrisi dan pendidikan berkualitas.
“Garis atau benang merah di antara dua tragedi ini adalah realitas pahit yang menimpa ibu bekerja; mereka yang terpaksa keluar dari zona domestik demi menambal lubang ekonomi yang gagal dipenuhi oleh sistem upah yang timpang.”
Dejavu Abad ke-19: Komodifikasi Pengasuhan dalam Sejarah yang Terulang
Sejarah daycare sebenarnya berakar pada kemiskinan sistemik. Konsep ini lahir pada pertengahan abad ke-19 (sekitar 1840-an) di tengah badai Revolusi Prancis. Saat itu, para ibu terpaksa turun ke pabrik-pabrik karena upah suami yang sangat rendah, menyebabkan balita-balita terlantar dan meninggal karena kurangnya perawatan. Para perawat kemudian menginisiasi tempat penitipan sebagai solusi darurat atas krisis kemanusiaan tersebut.
Ironisnya, dua abad telah berlalu, namun motif di balik menjamurnya 197.000 daycare di Indonesia tetap sama: tuntutan ekonomi. Di wilayah urban, di mana struktur keluarga inti (nuclear family) telah terpisah dari dukungan keluarga besar (kakek-nenek atau kerabat), daycare menjadi solusi bagi ibu yang terpaksa bekerja. Fakta mengejutkan dari kasus Yogyakarta menunjukkan bahwa kekerasan tersebut bukan sekadar ulah “oknum”, melainkan bagian dari SOP (Standard Operating Procedure) institusi tersebut demi efisiensi operasional. Ini adalah bukti betapa “pengasuhan” telah mengalami komodifikasi yang tidak manusiawi.
Mitos “Pilihan” dalam Sistem yang Tidak Ramah Ibu
Dalam kacamata kapitalisme, bekerja sering dicitrasosialkan sebagai “pilihan karier” yang tulus atau wujud kemandirian perempuan. Namun, bagi mayoritas ibu, bekerja adalah paksaan sistemik. Ibu modern memikul beban ganda (double burden): dituntut profesional dan tanpa celah di kantor, namun tetap diharapkan sempurna dalam mengelola urusan domestik tanpa dukungan sistemik yang memadai.
Jika kita membedah perspektif Islam, peran perempuan di ruang publik sesungguhnya bersifat pilihan dan berbasis pada kemaslahatan umat (fardlu kifayah). Islam tidak melarang perempuan menjadi dokter kandungan, bidan, peneliti, penulis, hingga ahli fikih. Namun, peran-peran ini seharusnya diambil karena dedikasi ilmu, bukan karena paksaan mencari sesuap nasi akibat sistem yang gagal menjamin nafkah ayah. Saat ini, fungsi ibu telah bergeser dari pendidik generasi menjadi sekadar penggerak roda ekonomi yang bisa digaji murah.
Harga Mahal yang Dibayar oleh Generasi Masa Depan
Terpasungnya peran ibu dalam struktur ekonomi memiliki konsekuensi jangka panjang terhadap kualitas generasi. Ketika ikatan emosional (bonding) antara ibu dan anak melemah karena kelelahan fisik dan mental, yang lahir adalah generasi yang rapuh secara mental, krisis identitas, dan ketergantungan akut pada gadget sebagai pengganti kehadiran orangtua.
Kerugian emosional ini juga merobek hati sang ibu. Banyak ibu bekerja yang hidup dalam rasa bersalah yang kronis karena kehilangan momen-momen pertumbuhan emas anaknya—langkah kaki pertama, tumbuhnya gigi pertama, hingga kata pertama yang terucap. Momen-momen yang merupakan “upah batin” tertinggi bagi seorang ibu kini telah terenggut oleh absensi kantor dan rutinitas mengejar kereta malam.
Standar Sukses yang Terdistorsi Materi dan Marjinalisasi Domestik
Peradaban sekuler-kapitalis saat ini telah mendistorsi definisi “wanita sukses”. Kesuksesan kini diukur dari produktivitas ekonomi: jabatan mentereng, kepemilikan barang branded, hingga gaya hidup yang bisa dipamerkan di media sosial. Sebaliknya, peran ibu rumah tangga sebagai Al-Umm Madrasatul Ula (ibu sebagai sekolah pertama) sering dipandang sebelah mata, tidak produktif, bahkan membuat banyak perempuan merasa rendah diri (minder) secara sosial.
Paradigma ini sangat berbahaya, karena menggeser fokus keberhasilan dari kualitas karakter anak menjadi sekadar angka-angka kontribusi material. Padahal, mendidik seorang ibu jauh lebih strategis bagi masa depan bangsa dibandingkan kontribusi ekonomi sesaat.
“Jika Anda mendidik seorang pria, Anda mendidik seorang individu, tapi jika Anda mendidik seorang wanita atau ibu, Anda sedang mendidik sebuah bangsa.”
***
Menuju Perubahan Sistemik
Solusi bagi tragedi daycare dan keselamatan gerbong wanita tidak bisa hanya bersifat individual, seperti sekadar menambah pengamanan kereta atau memperbaiki regulasi penitipan anak. Kita membutuhkan transformasi paradigma yang radikal. Negara harus hadir menjamin kesejahteraan keluarga melalui penyediaan lapangan kerja bagi para ayah dengan upah yang layak, sehingga para ibu tidak lagi dipaksa keluar rumah hanya untuk memenuhi kebutuhan dasar.
Kemuliaan ibu harus dikembalikan sebagai profesi yang paling mulia dan strategis. Kita perlu menciptakan lingkungan yang menghargai peran domestik, bukan sebagai beban sosial, melainkan sebagai investasi peradaban.
Akankah kita terus membiarkan ibu-ibu kita terpasung dalam roda ekonomi yang eksploitatif, atau sudah saatnya kita berjuang bersama untuk mengembalikan mereka ke tahta mulianya sebagai pendidik generasi utama?[]
Disarikan dari kajian dengan tema tersebut di NSTV:























