Memaknai Syukur

NgajiShubuh.or.id — Ada dua yang didapatkan ketika hidup; kalau tidak nikmat, maka akan mendapatkan ujian. Oleh karena itu, respons seorang Muslim terhadap itu semua kalau tidak bersyukur, ya bersabar. Seorang Muslim diperintahkan untuk bersyukur ketika mereka diberi nikmat oleh Allah Swt. dan diperintahkan untuk bersabar ketika mendapatkan ujian kehidupan. Secara makna bahasa, syukur berasal dari bahasa Arab (asy-syukr) artinya berterima kasih atau mengapresiasi. Dalam makna Islam, bersyukur adalah bentuk terima kasih atas apa-apa yang Allah Swt. berikan kepada kita. Selain itu, Allah Swt. berjanji akan menambah nikmat kepada mereka yang senantiasa bersyukur.

وَاِذْ تَاَذَّنَ رَبُّكُمْ لَىِٕنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ وَلَىِٕنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya azab-Ku benar-benar sangat keras.” (TQS. Ibrahim: 7)

Mengapa kita harus bersyukur? Pertama, bersyukur adalah tanda keimanan seseorang. Allah secara tegas memerintahkan hamba-Nya untuk bersyukur. Mereka yang tidak mau bersyukur dikatakan telah kufur nikmat, karena tidak menyadari dan meyakini kenikmatan yang diberikan berasal dari keagungan Allah SWT. Ketika seseorang mendapatkan kesuksesan, sebenarnya bukan karena dia hebat, tapi karena Allah telah memberikan nikmat kesuksesan hidupnya. Sebagai hamba, tidak boleh lupa daratan dan sombong, lantaran memuji kehebatan dirinya.

Allah Ta’ala berfirman,

وَلَقَدْ آَتَيْنَا لُقْمَانَ الْحِكْمَةَ أَنِ اشْكُرْ لِلَّهِ وَمَنْ يَشْكُرْ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ حَمِيدٌ

“Dan sesungguhnya telah Kami sampaikan hikmah kepada Lukman, yaitu: ‘Bersyukurlah kepada Allah. Dan barang siapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barang siapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Mahakaya lagi Maha Terpuji.’” (QS. Luqman: 12)

Kedua, bersyukur adalah kewajiban kaum Muslim. Mereka yang enggan bersyukur mudah sekali terjerumus ke jurang kesombongan dan keangkuhan. Oleh karena itu, dianjurkan bersyukur di setiap mendapatkan nikmat kecil apalagi besar. Apabila nikmat yang kecil tidak disyukuri, lalu bagaimana ia akan mampu mensyukuri nikmat yang banyak? Ketiga, untuk mendapatkan kebahagiaan. Tolok ukur kebahagiaan seorang Muslim adalah ketika ia bisa mensyukuri akan apa pun yang ia dapatkan. Walaupun faktanya, terkadang mendapatkan kegagalan bukan kesuksesan. Di sinilah seni bersyukur kepada Allah, yakni ketika bisa bersyukur meskipun tidak dikabulkan keinginannya, karena kita punya keyakinan bahwa Allah Swt. selalu memberikan apa yang kita butuhkan.

Keempat, bersyukur adalah tanda iman kepada qada dan qadar. Apa pun ketetapan Allah (qada dan qadar), seorang Muslim harus bisa bersyukur dan tidak menggerutu. Banyak sekali orang-orang yang stres, depresi, atau frustasi karena tidak bisa menerima ketetapan Allah SWT. Mereka menganggap keinginannya adalah sumber kebahagiaan, sehingga tidak bisa menyukuri bahkan marah dengan ketetapan Allah Swt. Padahal kita diperintahkan untuk mengimani ketetapan Allah yakni qada dan qadar, baik atau buruknya semuanya dari Allah Swt. Oleh karena itu, penting kita menyadari, apa-apa yang telah ditetapkan Allah terhadap hamba-Nya adalah yang terbaik.

Kelima, bersyukur adalah tanda ketaatan. Syukur tidak hanya diucapkan, tetapi juga butuh pengakuan batin akan nikmat Allah SWT, dan diwujudkan dalam bentuk ketakwaan. Ibnu Taimiyah rahimahullah menyatakan,

الشُّكْرُ يَكُوْنُ بِالقَلْبِ وَاللِّسَانُ وَالجَوَارِحُ وَالحَمْدُ لاَ يَكُوْنُ إِلاَّ بِاللِّسَانِ

“Syukur haruslah dijalani dengan hati, lisan, dan anggota badan. Sedangkan al-hamdu hanyalah di lisan.” (Majmu’ah Al-Fatawa, 11: 135)

Bentuk rasa syukur paling tepat setelah diucapkan dan diyakini dalam hati adalah dengan perbuatan, yakni taat. Ketaatan yang diperintahkan Allah tidak hanya ketaatan secara personal semata. Namun juga dengan ketaatan kolektif dalam lingkup jemaah dan negara secara keseluruhan. Bersyukur akan sumber daya alam yang ada adalah dengan mengelola berdasarkan syariat Islam, tidak dengan kapitalisasi atau swastanisasi. Begitu pun dalam mengatur negara, membuat undang-undang, bahkan memutuskan apa saja, bentuk syukurnya adalah dengan melakukan ketaatan kolektif dalam bingkai negara. Membuat aturan berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah, memimpin dengan meneladan Rasulullah saw., dan menyelesaikan problematik kehidupan berlandaskan Islam. Inilah ungkapan rasa syukur, yakni dengan ketaatan totalitas dari aspek individu, kelompok, negara hingga membawa kesejahteraan untuk dunia. Wallahu’alam.[] Ika Mawarningtyas

0Shares

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *