
Memahami Mabda Islam: Akidah sebagai Fondasi Segala Sesuatunya
Mabda Islam didefinisikan sebagai aqidah aqliyah (akidah yang terbukti secara akal) yang memancarkan sistem kehidupan. Akidah itu sendiri adalah fikrah kuliyyah lil ‘alam wal insan wal haya (pemikiran menyeluruh tentang alam semesta, manusia, dan kehidupan). Pemikiran menyeluruh ini jelas berbeda dengan akidah lain, dan perbedaan akidah inilah yang membedakan satu mabda dengan mabda lainnya. Oleh karena itu, jika sebuah partai atau kelompok mengklaim sebagai partai Islam, maka mereka harus berdasar pada Islam dan terikat pada hukum Islam itu sendiri.
Islam sebagai sebuah risalah adalah bangunan yang lengkap dan sempurna, tanpa kekurangan sedikit pun, sebagaimana firman Allah, “Pada hari ini Aku sempurnakan bagimu agamamu.” Kesempurnaan ini berarti Islam relevan sepanjang masa, untuk setiap tempat dan waktu. Manusia, dengan sifat kemanusiaannya yang tetap (hajatul udhawiyah dan gharizah), tidak berubah, menjadikan risalah Islam selalu sesuai. Ini berbeda dengan aturan buatan manusia yang harus terus berubah menyesuaikan zaman; risalah Islam datang dari Allah, Sang Pencipta, yang paling tahu tentang manusia dan manual hidupnya.
Konsistensi dalam Berislam: Rida Allah sebagai Kunci Kebahagiaan
Penting bagi jemaah untuk berpegang teguh pada mabda Islam dan menjadikan halal serta haram sebagai tolok ukur perbuatan. Kebahagiaan seorang Muslim sejati adalah mendapatkan rida dari Allah SWT, terlepas dari apakah ketaatan itu tampak “menggembirakan” atau “merugikan” secara lahiriah. Contohnya, dalam penerapan hukum potong tangan bagi pencuri, atau kehilangan harta dan nyawa dalam jihad; bagi yang beriman, ini adalah jalan menuju rida Allah dan kebahagiaan hakiki, bukan kesengsaraan. Kelezatan yang didapat dengan cara haram bukanlah kebahagiaan, melainkan kesengsaraan.
Jemaah atau individu yang menerima suatu asas akan menerima segala yang terpancar dari asas tersebut. Oleh karena itu, dakwah yang bersifat ideologis harus menjadi titik tolak sebuah jemaah, yaitu berjuang untuk mengubah asas atau fondasi masyarakat dan negara. Tidak bisa diterima adanya pencampuradukan antara Islam dengan selain Islam, baik dalam asas maupun sistemnya, karena hal itu akan menimbulkan kekacauan dan tidak akan mendapatkan rida Allah. Allah melarang mencampuradukkan kebenaran dengan kebatilan.
Sebuah jemaah yang berasaskan Laa Ilasha Illallaah Muhammad Rasulullah tidak boleh condong ke Barat (kapitalis sekuler) atau ke Timur (sosialis/komunis sekuler) dalam pengambilan hukum. Bagaimana mungkin Laa Ilaaha Illallaah sejalan dengan:
- Sosialisme, yang berasas tidak ada Tuhan dan kehidupan hanyalah materi?
- Sekularisme, yang memisahkan agama dari kehidupan?
- Nasionalisme/kesukuan, yang bertentangan dengan persaudaraan universal dalam Islam?
- Kedaulatan rakyat, yang menempatkan manusia sebagai penetap hukum, sejajar dengan Allah sebagai musyarik, padahal kita seharusnya hanya munafizh (pelaksana) syariah Allah?
- Kebebasan mutlak, yang menolak ketundukan kepada Allah, menjadikan manusia tuan atas dirinya sendiri, bahkan terhadap jasadnya setelah mati, yang bertentangan dengan ketentuan syara?
Berpegang teguh pada akidah Islam berimplikasi pada berpegang teguh pada segala sesuatu yang terpancar darinya. Ketidakkonsistenan akan menghilangkan kepribadian jemaah dan tidak akan diridai Allah. Rida Allah membawa keberkahan (ziadatul khair wal ajri – bertambahnya kebaikan dan pahala). Permasalahan yang tak berkesudahan dalam kehidupan menunjukkan tidak adanya keberkahan, yang berarti tidak ada rida Allah karena ketiadaan ketaatan.
Menjaga Pemikiran dari Realita yang Menghanyutkan dan Thariqah Dakwah Nabi
Jemaah wajib menjaga pemikiran agar tetap jernih dan cemerlang dengan menjauhkannya dari realita yang menghanyutkan. Menjadi realistis berarti menyadari realita, bukan mengorbankan syariah untuk mengikutinya. Jemaah tidak boleh menyerah pada situasi dan kondisi, mengganti proses dakwah dengan alasan “sesuai realitas”, karena ini akan menggerus kekuatan jemaah dan menghalanginya melakukan perubahan sejati.
Mengenai thariqah (metode) dakwah, kita harus kembali pada apa yang selalu ditempuh oleh Nabi Muhammad SAW. Dakwah Nabi dilakukan melalui tiga fase:
- Fase pembinaan dan pengkaderan; dakwah dilakukan secara diam-diam.
- Fase interaksi dengan umat); dakwah diserukan secara terbuka, untuk membentuk opini umum tentang Islam.
- Fase penyerahan kekuasaan, yaitu saat Nabi hijrah ke Madinah melalui metode thalabun nushra (mencari dukungan kekuasaan). Nabi melakukan thalabun nushra berulang kali kepada berbagai kabilah, menunjukkan bahwa ini adalah ketentuan syariah, bukan pertimbangan teknis sesaat.
Jihad (defensif atau ofensif) baru dilakukan setelah Islam tegak sebagai sebuah negara, seperti Perang Badar, Uhud, Khandaq (defensif), dan Mu’tah (ofensif). Metode seperti kudeta atau demokrasi sebagai jalan menegakkan daulah Islam justru tidak dilakukan Nabi pada fase awal dakwahnya. Pemahaman yang keliru terhadap thariqah ini seringkali disebabkan oleh kelemahan dalam memahami sirah dakwah Nabi dan pengaruh realitas empiris yang ada.
Faktor-faktor Pencampuradukan Akidah dan Pentingnya Kesabaran dalam Dakwah
Ada dua faktor utama yang menyebabkan seseorang mencampuradukkan akidahnya dengan kapitalisme atau sosialisme:
- Rapuhnya pemahaman terhadap akidah Islam dan keterikatan pada syariah.
- Terjebak dalam lingkungan kapitalistik yang begitu lama, yang menyebabkan lumrah-isasi kemaksiatan (normalisasi dosa), seperti masuk bank konvensional tidak lagi dianggap maksiat sebagaimana masuk tempat judi.
***
Konsistensi terhadap mabda sangat penting bagi individu dan jemaah. Tujuan utama kita adalah rida Allah dan pahala, bukan sekadar kemenangan duniawi. Ada kemenangan hakiki di akhirat (terhindar dari neraka dan masuk surga) dan kekalahan semu di dunia (gagal mencapai tujuan duniawi namun meraih rida Allah). Kita harus berhati-hati agar tidak terpesona oleh “kemenangan semu” di dunia yang tidak berasaskan Islam, karena itu justru akan mengantarkan pada kekalahan hakiki di akhirat. Kerinduan pada syariah dan akhirat adalah kekuatan yang menjaga kita tetap konsisten.[]
Disarikan dari kajian dengan tema tersebut di NSTV: