
Oleh: Resti Yuslita, S.S
Apa kabar generasi kita hari ini? Sepertinya mereka tidak sedang baik-baik saja. Setidaknya kita dapat menilainya dari fenomena yang akrab disebut dengan istilah duck syndrome. Istilah duck syndrome atau diterjemahkan sebagai sindrom bebek dipahami sebagai kondisi seseorang yang terlihat tenang di luar namun sesungguhnya sedang merasakan adanya tekanan dalam hidupnya. Seperti halnya seekor bebek yang nampak tenang ketika berenang akan tetapi kakinya terus mendayung tanpa henti. Kondisi semacam ini kerap diidentikkan dengan para mahasiswa yang harus memaksakan diri mereka agar selalu bisa memenuhi apa yang menjadi harapan orang-orang yang ada di sekitarnya. Adanya perasaan khawatir dicap negatif karena pilihan yang diambil tidak mewakili pilihan mayoritas, maka kemudian muncul tekanan. Berpura-pura bahagia meski realitanya tertekan, citra diri adalah tuntutan yang ingin diraih, serta tingkat perfeksionisme yang tinggi (kompas.com, 22/8/2025).
Duck syndrome adalah potret buram generasi dalam sistem kapitalisme. Di tengah gempuran kehidupan yang mengedepankan capaian materi, maka pencitraan menjadi kebutuhan tersendiri. Generasi muda dihadapkan pada tuntutan di sekitarnya yang menginginkan kesempurnaan, sedangkan kapitalisme tidak akan pernah mewujudkan konsep tersebut. Kapitalisme akan meniscayakan adanya ketimpangan, ketidakadilan, serta himpitan hidup, karena asas materialistik yang tidak sesuai dengan fitrah manusia. Akan tetapi dengan segala kerusakan yang telah terjadi di segala lini disebabkan penerapan sistem kapitalisme kita masih bisa berharap adanya perbaikan pada generasi mendatang. Setidaknya kita bisa banyak belajar dari ketangguhan anak-anak dan para pemuda Gaza.
Tidak berlebihan jika kita bertanya seperti apa gambaran generasi tangguh itu, mungkin Gaza adalah pabrik terbesarnya. Sebagaimana kita ketahui Gaza masih terus bergejolak hingga hari ini. Begitu banyak korban jiwa yang berjatuhan, bangunan tempat tinggal dan segala bentuk fasilitas umum dihancurkan secara brutal oleh zionis Israel. Akses terhadap pasokan bahan makanan serta obat-obatan dibatasi bahkan tenda pengungsian juga ikut menjadi target pengeboman. Perempuan dan anak-anak yang tidak berdosa menjadi korban, termasuk para jurnalis yang seharusnya dilindungi tak luput menjadi sasaran kebiadaban militer Israel. Kelaparan telah berubah menjadi pelaparan sehingga Gaza seolah ingin dibinasakan secara sistematis oleh penjajah dan keterdiaman para penguasa negeri Muslim yang ada di sekitarnya. Namun dari semua kepiluan yang terjadi tidak lantas membunuh mental generasi muda Gaza, justru jiwa militansi mereka seperti terlahir kembali.
Anak-anak dan generasi muda Gaza adalah inspirasi bagi kita semua. Bagaimana kesulitan dan penderitaan hidup yang mereka alami tidak menyurutkan semangat mereka untuk tetap belajar, menghafalkan Al-Qur’an, dan menuntut ilmu dengan segala keterbatasan yang ada. Itu semua mereka lakukan semata-mata karena dorongan keimanan dan meyakini bahwa merekalah para generasi penjaga Al-Quds. Sebaliknya, generasi yang diasuh dalam sistem kapitalisme sedemikian rapuh dan rentan mengalami stres akibat rusaknya tatanan kehidupan di tengah masyarakat. Oleh karenanya jika kita menginginkan adanya perbaikan di tengah generasi, maka asas yang melatari pembentukan kepribadian mereka haruslah akidah Islam. Keberadaan akidah Islam saja tanpa ditopang oleh penerapan syariat dalam bingkai negara juga akan timpang.
Ketangguhan generasi akan lahir manakala Islam diajarkan dan diperjuangkan sebagai sebuah ideologi yang melandasi setiap sendi kehidupan masyarakat. Maka, dakwah Islam ideologis menjadi jawaban atas kegusaran nasib generasi negeri ini ke depannya. Sudah saatnya generasi muda terlibat dalam perjuangan menegakkan agama Allah agar masa muda mereka menjadi mulia dan berkontribusi bagi kebangkitan umat. Allahu Akbar![]