
Bersungguh-sungguh dalam Beramal: Kunci Menuai Hasil di Akhirat
Dalam kehidupan, sangat mudah bagi kita untuk terjebak dalam sikap berleha-leha atau merasa cukup dengan apa yang telah kita capai. Seringkali, kaum Muslim merasa puas hanya dengan menjalankan ibadah dasar seperti salat atau puasa, tanpa ada upaya untuk terus meningkatkan diri dalam amal saleh, apalagi dalam aktivitas dakwah. Padahal, kondisi kaum Muslim saat ini berada dalam pemahaman dan cara berpikir yang rendah, menjadi korban kehidupan sekuler dan kapitalistik, serta banyak yang menyepelekan perkara agama, bahkan yang mendasar sekalipun seperti aurat.
Di tengah tantangan ini, para pengemban dakwah kerap menghadapi gangguan dan bahkan penangkapan. Setan juga tidak henti-hentinya menggoda kita dengan pikiran negatif, seperti merasa bahwa musuh-musuh Allah semakin kuat, atau bahwa Allah tidak adil karena mereka yang zalim dan munafik tampak menikmati kehidupan yang bergelimang kemewahan, sementara kita yang berupaya mengamalkan Islam justru seringkali berada dalam kesulitan.
Memahami Istidraj: Kenikmatan yang Menipu
Penting untuk memahami bahwa kenikmatan dan kelapangan hidup yang diberikan kepada orang-orang kafir, zalim, atau munafik, bukanlah tanda kebaikan atau rida Allah bagi mereka. Justru, ini adalah apa yang disebut sebagai istidraj. Allah berfirman di dalam surah Ali Imran ayat 178, “Dan janganlah sekali-kali orang-orang kafir itu menyangka bahwa penangguhan yang Kami berikan kepada mereka itu lebih baik bagi mereka. Sesungguhnya Kami menangguhkan mereka hanyalah supaya dosa mereka bertambah; dan bagi mereka azab yang menghinakan.”
Ini berarti, kenikmatan yang mereka dapatkan hanyalah untuk menambah dosa-dosa mereka, dan Allah menarik mereka sedikit demi sedikit menuju kebinasaan dari arah yang tidak mereka ketahui. Mereka menyangka itu nikmat, padahal itu tipuan yang akan berujung pada penyesalan abadi. Contoh-contoh seperti Firaun dan Namrud di masa lalu, atau penguasa zalim di masa kini, menunjukkan bahwa kekuasaan mereka tidak abadi dan Allah akan membinasakan mereka.
Ujian sebagai Kesempatan untuk Beramal Saleh
Sebaliknya, bagi orang beriman, cobaan dan ujian hidup adalah kesempatan besar untuk beramal saleh, mengumpulkan pahala, membersihkan dosa, dan berintrospeksi diri. Kisah seorang sahabat Nabi yang buta, tak bertangan dan berkaki, namun tetap bersyukur atas segala nikmat yang tersisa, bahkan saat anaknya meninggal dunia, menunjukkan tingkat kesabaran dan pemahaman yang luar biasa terhadap ujian sebagai ladang pahala.
Hidup di dunia ini sangatlah singkat. Dalam sebuah riwayat disebutkan, bahwa satu hari di akhirat setara dengan seribu tahun di dunia. Jika umur rata-rata manusia hanya sekitar 60-70 tahun, maka waktu kita di dunia jika dibandingkan dengan akhirat, mungkin hanya sekitar dua setengah jam saja, bahkan kurang dari itu jika dipotong waktu tidur dan masa sebelum akil baligh. Imam Nawawi bahkan dikisahkan rela tidur dalam posisi duduk agar tidak membuang waktu dalam membaca kitab dan mengkaji ilmu.
Maka, seperti seorang buruh yang masa kerjanya tidak lama dan harus bersabar, kita di dunia ini adalah para pekerja. Dunia adalah ladang amal, ladang tanam, ladang dakwah. Siapa yang berleha-leha saat bekerja, akan menyesal saat “pembagian gaji” di akhirat dan dihukum karena kelambanan tugas. Pesannya jelas: “Biarkan orang lain mengambil dunia, bagi kita cukuplah akhirat.” Jadikan dunia di tanganmu, dan akhirat di hatimu.
Kiat-kiat Istiqamah di Tengah Tantangan Dakwah
Untuk bersungguh-sungguh dan tetap istiqamah di jalan dakwah, terdapat beberapa kiat yang bisa kita lakukan. Di antaranya:
- Pahami Risiko Dakwah: Sadari bahwa dakwah adalah sunnatullah yang pasti akan menghadapi gangguan, ancaman, dan tantangan. Para nabi, sahabat, tabi’in, dan ulama besar pun menghadapi cobaan serupa, bahkan dipenjara atau dibunuh.
- Jangan Berhenti Mengkaji Islam: Teruslah belajar dan mencari ilmu dari guru-guru, jangan pernah merasa cukup dengan ilmu yang dimiliki. Ini penting untuk meruntuhkan kesombongan dan menjaga hati.
- Berkumpul dengan Orang-Orang Saleh: Berjemaah dan sering berkunjung dengan orang-orang saleh, termasuk guru-guru, akan memberikan kekuatan dan nasihat yang saling mengingatkan. Analogi dokter yang mengobati umat yang sakit sangat relevan di sini: kita adalah dokter yang mengemban amanah untuk mengobati umat, dan tidak boleh menolak apalagi membiarkan pasien yang sakit.
***
Kemampuan untuk membedakan antara istidraj dan nikmat sejati, serta memahami ujian sebagai ladang pahala, hanya dimiliki oleh mereka yang benar-benar beriman, beramal saleh, dan mengenal Tuhan mereka dengan baik.
Oleh karena itu, jangan sampai kita berleha-leha atau meremehkan amal sekecil apapun, karena bisa jadi amal kecil itulah yang menjadi timbangan pahala kita di akhirat. Bersabarlah menghadapi musibah dan ujian, karena itu adalah balasan dari Allah untuk membersihkan dosa dan kesempatan untuk meraih pahala.
Kehidupan dunia ini ibarat sesi latihan singkat untuk sebuah peperangan. Mereka yang berleha-leha selama latihan akan kaget saat perang sesungguhnya datang tanpa persiapan. Namun, bagi mereka yang bersungguh-sungguh berlatih, setiap tantangan yang mereka hadapi selama latihan adalah kesempatan untuk menguatkan diri dan mengasah kemampuan, sehingga mereka siap sepenuhnya untuk meraih kemenangan di medan perang yang abadi.[]
Disarikan dari kajian dengan tema tersebut di NSTV: