NgajiShubuh.or.id — Dalam sejarah Islam, terdapat sosok luar biasa yang membuktikan bahwa kemuliaan seseorang tidak ditentukan oleh nasab atau status sosial, melainkan oleh ketakwaan dan ilmu. Sosok tersebut adalah Salim Maula Abi Hudzaifah, seorang sahabat Nabi yang awalnya adalah seorang hamba sahaya tapi berhasil mencapai kedudukan yang sangat tinggi di mata Rasulullah SAW dan para sahabat lainnya.
Asal-Usul dan Perjalanan Menuju Hidayah
Salim bukanlah berasal dari keturunan Arab, melainkan dari bangsa Ajam (non-Arab) yang diyakini berasal dari Persia. Ia datang ke Makkah sebagai seorang budak dan kemudian dimerdekakan oleh Abu Hudzaifah bin Utbah, seorang pemuda Quraisy yang masuk Islam lebih awal.
Hidayah Islam menyapa Salim melalui perantara majikannya. Ia sering mendengarkan ayat-ayat Al-Qur’an yang dibacakan berulang kali di rumah Abu Hudzaifah. Selain itu, Salim sangat terkesan dengan perubahan karakter Abu Hudzaifah setelah memeluk Islam, yang menjadi lebih jujur, lembut, dan memiliki integritas tinggi. Salim melihat bahwa Islam membawa prinsip kesamaan derajat di hadapan Allah, di mana tidak ada keutamaan antara orang Arab atas non-Arab kecuali karena ketakwaannya. Hal inilah yang membuat hati Salim mantap untuk memeluk Islam sebelum peristiwa hijrah.
Pakar Al-Qur’an
Ketekunan Salim dalam mempelajari Islam sangat luar biasa. Ketika sahabat lain berhijrah ke Habasyah, Salim memilih tetap di Makkah bersama Rasulullah SAW untuk menghafal Al-Qur’an dan menimba ilmu langsung dari beliau. Kegigihannya membuahkan hasil hingga ia dikenal sebagai salah satu perawi Al-Qur’an yang paling agung.
Rasulullah SAW bahkan memasukkan Salim ke dalam daftar empat orang utama yang direkomendasikan kepada umat Islam untuk diambil (dipelajari) ilmu Al-Qur’annya, bersanding dengan nama besar seperti Ibnu Mas’ud, Muadz bin Jabal, dan Ubay bin Ka’ab. Karena kedalaman ilmunya, Salim dipercaya menjadi imam salat bagi kaum Muhajirin di Masjid Quba, termasuk di antaranya menjadi imam bagi tokoh besar seperti Abu Bakar Ash-Shiddiq dan Umar bin Khattab. Rasulullah SAW pun pernah memuji keindahan bacaan Al-Qur’an Salim dengan menyebutnya sebagai salah satu kebanggaan umat.
Keberanian di Medan Perang
Hubungan antara Salim dan Abu Hudzaifah melampaui sekadar mantan budak dan majikan. Mereka memiliki ikatan batin yang sangat kuat atas dasar iman. Abu Hudzaifah bahkan sempat mengangkat Salim sebagai anak, meski kemudian aturan Islam mengubah statusnya menjadi “Maula” (saudara seagama/perwalian) untuk menjaga kejelasan nasab. Untuk mempererat kekeluargaan, Abu Hudzaifah menikahkan Salim dengan putri saudaranya, Fatimah binti Al-Walid.
Sebagai pejuang, Salim terlibat dalam berbagai peperangan penting, termasuk Perang Badr. Puncak kepahlawanannya terjadi pada Perang Yamamah (tahun 11 Hijriah) di masa Khalifah Abu Bakar, dalam misi menumpas nabi palsu Musailamah Al-Kadzab. Salim dipercaya memegang bendera (panji) kaum Muhajirin, sebuah tugas yang menuntut mentalitas syahid yang sangat kuat karena biasanya menjadi sasaran utama musuh.
Dalam pertempuran yang dahsyat tersebut, tangan kanan Salim terputus saat memegang bendera, namun ia segera menangkap bendera itu dengan tangan kirinya. Ketika tangan kirinya pun terputus, ia tetap memeluk bendera tersebut di dadanya sambil membacakan ayat-ayat Al-Qur’an hingga akhirnya ia gugur sebagai syahid.
Salim dan Abu Hudzaifah wafat bersamaan dalam Perang Yamamah. Jasad mereka ditemukan dalam keadaan yang saling berdekatan. Persaudaraan mereka benar-benar terjaga hingga maut menjemput, sebagaimana doa mereka yang ingin dipersatukan di surga sebagai saudara. Kedudukan Salim sangat mulia di mata para pemimpin Islam. Umar bin Khattab bahkan pernah menyatakan kekagumannya yang luar biasa dengan berucap bahwa jika ia memiliki harapan, ia berharap negerinya dipenuhi oleh orang-orang dengan integritas dan kealiman seperti Salim Maula Abi Hudzaifah.
Pelajaran Penting dari Kisah Salim
Berdasarkan ulasan sejarah ini, terdapat beberapa hikmah yang dapat dipetik. Pertama, kemuliaan tidak mengenal batas bangsa. Pejuang dan orang alim bisa berasal dari bangsa mana pun (non-Arab sekalipun). Kedua, ilmu mengangkat derajat. Status sebagai mantan budak tidak menghalangi Salim untuk menjadi imam dan rujukan utama bagi para sahabat besar karena penguasaan Al-Qur’annya. Ketiga, persaudaraan hakiki. Hubungan yang dilandasi perjuangan di jalan Allah akan menghasilkan persahabatan yang langgeng dunia hingga akhirat. Keempat, kematian terbaik. Mati dalam keadaan memperjuangkan kebenaran (syahid) adalah cita-cita tertinggi yang dibuktikan oleh Salim.[] AIK
Disarikan dari kajian YouTube Ngaji Shubuh TV:
