Ketika kita menyingkap tirai masa lalu, kita akan menemukan sebuah rahasia besar tentang bagaimana peradaban manusia menjaga keadilan melalui nilai harta mereka. Di tengah badai inflasi modern yang terus menggerus hasil jerih payah kita, lembaran sejarah seolah membisikkan sebuah solusi yang telah teruji oleh zaman. Bukan soal kepingan logam, tapi tentang jejak integritas yang menjaga kestabilan ekonomi selama ribuan tahun.
Filosofi Logam Mulia: Keadilan yang Terukur
Emas dan perak bukanlah pilihan acak yang muncul dari sekadar kesepakatan manusia. Dalam pandangan Islam, kedua logam ini memiliki kedudukan filosofis sebagai standar keadilan dalam bermuamalah. Sejarawan dan sosiolog besar, Ibnu Khaldun, melihat hal ini sebagai sebuah ketetapan yang melampaui logika ekonomi semata.
Ibnu Khaldun dalam karya monumentalnya, Al-Muqaddimah, menegaskan bahwa emas dan perak adalah pengukur nilai yang bersifat fitrah.
“Allah Subhanahu wa taala telah menciptakan dua logam mulia itu yaitu emas dan perak untuk menjadi alat pengukur nilai atau harga atau measure of value bagi segala sesuatu.”
Kehancuran ekonomi sering kali bermula ketika manusia meninggalkan “ukuran yang adil” ini. Saat mata uang kertas (fiat) dapat dicetak tanpa batas, nilai kejujuran dalam bertukar pun sering kali hilang, berbeda dengan emas yang nilainya terjaga secara intrinsik oleh Sang Pencipta.
Nubuatan Dua Perbendaharaan: Merah dan Putih
Dalam lintasan sejarah, kekuatan ekonomi dunia sering kali disimbolkan dengan warna logam mulianya. Ada sebuah nubuatan mendalam yang disampaikan Rasulullah SAW mengenai masa depan kekuatan global melalui konsep Al-Kanzaini (dua perbendaharaan besar).
“Sesungguhnya Allah SWT menghamparkan bumi kepada kami… dan kami pun telah dianugerahi perbendaharaan bumi Al-Ahmar (Merah) dan Al-Abyad (Putih).”
Simbolisme ini merujuk pada keagungan Dinar emas dari Romawi Bizantium yang berkilau kemerahan, serta Dirham perak dari Sasaniyah Persia yang putih cemerlang. Hal ini menandakan bahwa sejak awal, Islam telah memposisikan logam mulia sebagai pilar peradaban yang harus dikuasai untuk menebarkan rahmat bagi semesta.
Uji Kesaktian Dinar: Stabilitas tanpa Tanding
Salah satu fakta paling mencengangkan yang membuat para ekonom modern tertegun adalah konsistensi daya beli emas. Bayangkan sebuah mata uang yang nilai intrinsiknya tidak berubah meski zaman telah berganti dari unta menjadi pesawat terbang.
- Berat Standar: 1 Dinar emas memiliki berat tetap yakni 4,25 gram emas murni.
- Fakta Sejarah: Di era Rasulullah SAW, 1 Dinar adalah harga rata-rata untuk seekor kambing.
- Realitas Modern: Hingga detik ini, nilai 4,25 gram emas di pasar dunia masih setara dengan harga seekor kambing berkualitas baik.
Fakta ini membuktikan bahwa emas adalah penyimpan nilai yang paling jujur. Ia tidak memakan harta pemiliknya melalui inflasi, sebuah pencapaian yang mustahil ditiru oleh sistem mata uang berbasis kertas mana pun di dunia.
Integritas Ka’bah: Pembangunan di Atas Dana Halal
Pada tahun 605 Masehi, sebuah drama moral terjadi di Darun Nadwah, parlemen Quraisy. Setelah banjir besar merusak Ka’bah, para pemuka Quraisy membuat keputusan radikal: mereka hanya akan menggunakan harta yang benar-benar suci untuk merenovasi Baitullah.
Suasana mencekam saat Walid bin Mughirah pertama kali menghantamkan palunya ke dinding Ka’bah untuk membuktikan rida Allah. Namun, sebuah realitas pahit muncul; ternyata jumlah koin emas dan perak yang bersih dari praktik riba, penipuan, dan cara batil sangatlah terbatas.
Akibat seleksi harta yang begitu ketat, dana yang terkumpul tidak mencukupi untuk membangun Ka’bah sesuai pondasi aslinya. Area Hijir Ismail terpaksa dibiarkan rendah tanpa atap sebagai bukti sejarah bahwa bagi mereka, integritas harta jauh lebih penting daripada kemegahan fisik bangunan.
Mansa Musa: Kedermawanan yang Mengguncang Kairo
Sejarah juga mencatat kisah kemegahan Mansa Musa, penguasa Imperium Mali yang melintasi benua untuk berhaji ke Makkah. Ia membawa berton-ton emas dan membagikannya secara masif sebagai hadiah dan sedekah di sepanjang jalan yang ia lalui.
Di Kairo, Mesir, kedermawanan yang luar biasa ini sempat memicu fenomena ekonomi yang unik. Begitu banyaknya emas yang diberikan Mansa Musa kepada penduduk lokal membuat ketersediaan logam mulia melimpah ruah, yang secara tak sengaja menyebabkan harga emas jatuh dan memicu inflasi regional selama satu dekade. Kisah ini menggambarkan betapa besarnya pengaruh satu individu yang menguasai sumber daya logam mulia terhadap peta ekonomi dunia.
Osmanli Hilafeti Zarafiti: Diplomasi Emas yang Anggun
Kekhalifahan Utsmaniyah (Osmanli) membawa penggunaan emas ke tingkat yang lebih tinggi melalui konsep Zarafiti—sebuah keanggunan dan kehalusan budi dalam berbagi rahmat. Emas bukan lagi sekadar alat transaksi, melainkan instrumen bantuan kemanusiaan global.
- Bantuan Kelaparan Irlandia: Sultan Abdul Majid I mengirimkan koin emas dan bahan pangan untuk menyelamatkan warga Drogheda yang sedang sekarat akibat gagal panen umbi-umbian.
- Dukungan untuk Amerika Serikat: Sultan Abdul Aziz dan Sultan Abdul Hamid II mengirimkan bantuan finansial saat Amerika dilanda perang sipil serta bencana besar sebagai bentuk persahabatan antarmanusia.
- Banjir Batavia 1916: Meski sedang didera tekanan Perang Dunia I, Sultan Mehmed V mengirimkan 2.500 koin emas untuk korban banjir di Batavia (Jakarta).
Bantuan ke Batavia tersebut adalah sebuah aksi yang sangat masif dan penuh empati.
“Bayangkan, 2.500 koin emas itu setara dengan 106 kilogram lebih emas murni yang dikirimkan untuk meringankan penderitaan di tanah Hindia Belanda.”
***
Warisan Nilai di Balik Kepingan Logam
Perjalanan sejarah dinar dan dirham mengajarkan kita bahwa emas dan perak bukanlah sekadar komoditas dagang. Mereka adalah instrumen keadilan yang menjaga keringat manusia dari pencurian nilai, serta alat diplomasi yang mewujudkan rahmatan lil alamin.
Kestabilan nilai 1 dinar selama 1.400 tahun adalah teguran bagi sistem ekonomi hari ini yang sering kali rapuh dan tidak adil. Jika emas mampu menjaga amanah nilai selama ribuan tahun, muncul sebuah pertanyaan: apakah kita sudah cukup bijak dalam mengelola bekal kekayaan kita, ataukah kita masih terbuai dalam sistem yang pelan-pelan menghancurkan nilai kerja keras kita sendiri?[]
Disarikan dari kajian dengan tema tersebut di NSTV:
