NgajiShubuh.or.id — Dulu saat Nabi Ibrahim as. mendakwahkan din yang telah diturunkan padanya, ia berhadapan dengan para penyembah berhala di Babilonia. Mereka para penyembah patung sudah diseru untuk menyembah hanya kepada Allah Swt., tapi mereka tetap saja menyembah patung. Mereka berdalih ini adalah ajaran nenek moyangnya dan menganggap apa yang disampaikan Nabi Ibrahim as. adalah sebuah kebohongan dan kesesatan. Padahal, sejatinya siapa yang tengah tersesat?
Begitu pun ketika Nabi Muhammaad saw. membawa Islam di tengah kaum kafir Quraisy. Nabi Muhammad saw. dicap sebagai pembohong, tukang sihir, dan orang gila. Padahal yang Rasulullah saw. adalah agama yang benar yang diturunkan Allah Swt. untuk membebaskan umat manusia dari kegelapan. Mereka menghalangi dakwah Rasulullah saw. dan para sahabatnya dengan melakukan propaganda jahat dan pemboikotan yang begitu memilukan.
Ternyata hari ini, tidak jauh beda dengan yang terjadi pada zaman Nabi dan Rasul. Para pengemban dakwah yang menyerukan keagungan hukum Islam dan penerapannya dicap radikal, intoleran, dan teroris. Mereka menganggap sistem kehidupan warisan nenek moyang mereka sudah final dan tidak bisa diganggu gugat. Selain itu, mereka menganggap sistem Islam tidak relevan dan tidak boleh diterapkan. Bahkan, yang menyerukan sistem pemerintahan Islam yakni Khilafah Islamiah dicap sesat karena bertentangan dengan sistem hukum yang diterapkan hari ini.
Sementara itu, sistem dan hukum yang mereka bela mati-matian adalah sistem warisan penjajah dan sistem buatan orang-orang kafir seperti Aristoteles, John Locke, Adam Smith, dan sebagainya. Mereka menancapkan sistem sekuler kapitalisme demokrasi untuk disembah dan dijadikan panutan kehidupan. Bahkan, mereka lebih memilih diatur sistem sekuler tersebut, menolak, dan memusuhi sistem Islam.
Bahasan ajaran nenek moyang. Sebenarnya siapa yang lebih terdahulu daripada ajaran Islam yang dibawa Nabi Muhammad saw.? Daripada sistem hukum warisan penjajah lebih dulu aturan Islam yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. Begitu pun dengan ajaran Nabi Ibrahim as., nenek moyang manusia pertama kali di bumi adalah Nabi Adam as. dan Beliau as. menyerukan penyembahan kepada Allah Swt. bukan kepada berhala apalagi patung-patung yang tidak jelas bentuknya.
Hanya untuk menerima pemahaman ini saja, mereka belum mau. Mereka menganggap ajaran nenek moyang lebih tinggi daripada ajaran Nabi Muhammad saw. Walhasil kerusakan terjadi dan tercipta secara struktural dan sistematis di berbagai aspek kehidupan. Hal ini terbukti dengan merosotnya peradaban manusia dan rusaknya alam karena bencana yang mereka ciptakan sendiri. Siapa pun yang memimpin sebuah negara, kalau sistem yang digunakan adalah sekuler kapitalisme, ia hanya menciptakan kesengsaraan dan kezaliman berlapis-lapis.
Begitu pun bebalnya mereka menolak Islam, sampai pada tataran menghalangi dakwah penerapan hukum Islam dengan berbagai propaganda serta intimidasi yang dilakukan dengan tangan mereka. Hal ini seharusnya menyadarkan, dakwah Islam kafah yang sedang berjalan saat ini adalah dakwah kepanjangannya para Nabi dan Rasul. Mereka menyampaikan risalah Islam tidak hanya dalam hal ibadah tapi juga hidup bermasyarakat hingga bernegara. Sudah saatnya umat Islam berbenah sadar kembali kepada syariat Islam, menerapkan dan menyerukan penerapannya secara totalitas. [] Ika Mawarningtyas
