Dalam bentangan sejarah manusia, miliaran jiwa telah datang dan pergi, namun hanya segelintir yang meninggalkan jejak hingga ke langit tertinggi. Bayangkan sebuah pemandangan yang melampaui nalar: kematian seorang lelaki yang membuat Arsy—Singgasana Allah yang Maha Agung—bergetar karena cinta dan penyambutan. Lelaki itu adalah Sa’ad bin Mu’adz.
Keistimewaan ini menjadi kian mencengangkan saat kita menyadari bahwa Sa’ad hanya mengecap manisnya iman selama enam tahun saja. Namun, dalam waktu sesingkat itu, ia mengukir integritas yang begitu kokoh hingga mengguncang semesta. Di era modern yang sering kali mengalami krisis keteladanan, menelusuri jejak Sa’ad bin Mu’adz bukan sekadar membaca biografi lama, melainkan sebuah perenungan tentang bagaimana kepemimpinan sejati lahir dari kemurnian tauhid dan keberanian prinsip.
Kekuatan Pengaruh: Satu Orang Berislam, Seluruh Suku Mengikuti
Keislaman Sa’ad bin Mu’adz bukanlah perpindahan keyakinan yang sunyi. Sebagai pemimpin utama kabilah Bani Abdul Asyhal dari suku Aus, ia memahami bahwa setiap langkahnya adalah arah bagi kaumnya. Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah pernah memberikan sintesis yang sangat tajam mengenai kedudukan lelaki ini: bahwa posisi Sa’ad bin Mu’adz di kalangan kaum Anshar setara dengan posisi Abu Bakar Ash-Shiddiq di kalangan Muhajirin. Ia adalah poros kekuatan dan pusat ketaatan.
Setelah memeluk Islam, Sa’ad kembali ke kaumnya tidak dengan paksaan, melainkan dengan strategi validasi kepemimpinan yang cerdas. Ia bertanya kepada kabilahnya, “Wahai Bani Abdul Asyhal, bagaimana kedudukanku di tengah kalian?” Ketika mereka menjawab bahwa ia adalah pemimpin yang paling utama pendapatnya dan paling bijak, Sa’ad mengunci komitmen mereka dengan sebuah pernyataan prinsipil yang melegenda:
“Maka sungguh ucapan laki-laki dan perempuan dari kalian haram bagiku sampai kalian beriman pada Allah dan Rasul-Nya.”
Efek dari integritas ini sungguh masif. Belum tiba waktu petang, seluruh anggota kabilah Bani Abdul Asyhal telah menyatakan keislaman mereka. Ini adalah bukti nyata bahwa ketika seorang pemimpin memiliki trust yang mutlak dari rakyatnya, transformasi sosial yang besar dapat terjadi dalam hitungan jam.
Diplomasi di Ujung Tombak: Kematangan Emosional Sang Duta
Hidayah yang menyapa Sa’ad tidak datang secara kebetulan, melainkan melalui sebuah proses rekayasa strategis yang melibatkan sahabat dekatnya, Usaid bin Hudhair. Awalnya, Sa’ad merasa segan untuk mengusir Mus’ab bin Umair karena sang duta dakwah itu didampingi oleh sepupunya sendiri, As’ad bin Zurarah.
Usaid bin Hudhair, yang awalnya diutus Sa’ad untuk mengusir Mus’ab, justru luluh oleh kematangan emosional Mus’ab bin Umair. Saat diancam dengan tombak, Mus’ab tetap tenang dan menawarkan dialog yang adil: “Duduklah dan dengarkan. Jika engkau rida, terimalah. Jika tidak, kami akan pergi.” Pendekatan yang tenang ini lebih efektif meruntuhkan ego Usaid dibandingkan konfrontasi.
Setelah Usaid berislam, ia merancang taktik agar Sa’ad juga menemui Mus’ab. Usaid kembali ke Sa’ad dengan kabar bahwa Bani Haritsah hendak membunuh As’ad bin Zurarah untuk mengkhianati perlindungan Sa’ad. Terpancing oleh ghirah (rasa solidaritas) kesukuan, Sa’ad bergegas menuju lokasi dengan tombak di tangan. Namun, sesampainya di sana, ia justru mendapati suasana yang tenang. Ia segera menyadari bahwa ini adalah cara Usaid agar ia mau mendengar kebenaran. Di hadapan Mus’ab, Sa’ad menanggalkan amarahnya, duduk, mendengar, dan akhirnya menyerahkan hatinya pada Islam.
Loyalitas tanpa Syarat: Melampaui Batas Perjanjian
Ujian loyalitas Sa’ad terlihat paling nyata menjelang Perang Badar. Rasulullah SAW saat itu meminta pendapat para sahabat, khususnya kaum Anshar, karena secara teknis Baiat Aqabah hanya mewajibkan mereka melindungi Nabi di dalam kota Madinah.
Memahami kegelisahan tersebut, Sa’ad bin Mu’adz berdiri mewakili kaum Anshar dengan pernyataan yang meluluhkan hati Nabi. Ia menegaskan bahwa janji setia mereka bukan sekadar formalitas geografis, melainkan ikatan ruhani yang tak terbatas:
“Demi Dzat yang telah mengutusmu dengan membawa kebenaran, seandainya engkau mengajak kami untuk mengarungi lautan sekalipun, maka kami akan mengarunginya bersamamu, ya Rasulullah. Tidak ada seorang pun dari kami yang akan tertinggal.”
Pernyataan ini memberikan ketenangan luar biasa bagi Rasulullah. Sa’ad menunjukkan bahwa kepemimpinan yang setia tidak akan berhitung untung rugi saat kebenaran sedang dipertaruhkan.
Izzah dan Kedaulatan: Diplomasi Kurma di Perang Ahzab
Puncak ketegasan prinsip Sa’ad bin Mu’adz terjadi saat Madinah dikepung oleh 10.000 pasukan Ahzab. Di tengah situasi yang sangat genting, Rasulullah SAW mencoba memecah koalisi musuh dengan menawarkan kesepakatan damai kepada pemimpin suku Ghatafan, yakni Uyainah bin Hisn dan Harith bin Auf. Tawaran itu berupa sepertiga hasil panen kurma Madinah asalkan mereka mundur dari pengepungan.
Sebelum mengetuk palu, Rasulullah meminta pendapat Sa’ad bin Mu’adz dan Sa’ad bin Ubadah. Di sinilah Sa’ad menunjukkan izzah (harga diri) yang luar biasa. Ia bertanya apakah tawaran itu adalah perintah Allah atau sekadar ijtihad Nabi untuk menyelamatkan mereka. Saat Nabi menjawab bahwa itu adalah ijtihad demi meringankan beban mereka, Sa’ad mengeluarkan argumen yang sangat tajam:
“Wahai Rasulullah, dahulu saat kami masih musyrik dan menyembah berhala, mereka tidak pernah berani memakan kurma kami kecuali dengan membeli atau sebagai jamuan tamu. Lalu, apakah setelah Allah memuliakan kami dengan Islam dan dengan kehadiranmu, kami harus memberikan harta kami kepada mereka secara cuma-cuma? Demi Allah, kami tidak akan memberikan apa pun selain tebasan pedang!”
Bagi Sa’ad, pilihannya hanya dua: kurma melalui perdagangan yang bermartabat atau pedang untuk mempertahankan kedaulatan. Ketegasan ini membakar semangat kaum Muslim bahwa kemuliaan iman tidak boleh ditukar dengan ketakutan akan kemiskinan atau ancaman musuh.
***
Warisan Sang Lelaki Sejati
Kisah Sa’ad bin Mu’adz adalah anomali yang indah dalam sejarah. Ia masuk Islam dengan wajah penuh amarah, namun kembali kepada kaumnya dengan raut wajah yang berbeda—sebuah wajah yang disinari cahaya hidayah. Meskipun ia wafat tak lama setelah Perang Khandaq akibat luka panah, dampak kepemimpinannya abadi.
Kehebatan Sa’ad bukan terletak pada lamanya ia menjabat, melainkan pada kemurnian imannya, kejujuran sikapnya, dan kemampuannya menjaga kehormatan keyakinannya di bawah tekanan yang paling berat sekalipun. Jika Arsy Allah saja bisa bergetar karena kematiannya, itu adalah tanda bahwa ia telah menyelesaikan tugasnya di bumi dengan tuntas.[]
Disarikan dari kajian dengan tema tersebut di NSTV:
