NgajiShubuh.or.id — Meskipun menjanjikan otonomi individu, ide kebebasan ini membawa dampak kerusakan yang nyata. Secara sosial, kebebasan berperilaku telah menyebabkan hancurnya institusi keluarga. Di negara-negara seperti Jepang dan Korea, terjadi krisis demografi yang mengkhawatirkan akibat fenomena free child marriage dan penurunan populasi yang drastis. Di bidang ekonomi, kebebasan kepemilikan melahirkan kapitalisme yang rakus (greedy). Kapitalisme memandang keuntungan material sebagai tujuan tertinggi, yang memicu eksploitasi, penjajahan, bahkan industri perang demi menjaga perputaran ekonomi.
Selain itu, terdapat standar ganda dalam penerapan kebebasan di Barat. Sebagai contoh, meski mengagungkan kebebasan, negara seperti Prancis melarang penggunaan purdah bagi Muslimah. Hal ini menunjukkan bahwa kebebasan di Barat sering kali dibatasi jika berhadapan dengan nilai-nilai Islam yang dianggap sebagai tantangan masa depan mereka. Munculnya ide kebebasan di Barat tidak terlepas dari lahirnya sekularisme. Sekularisme dipandang sebagai konsekuensi logis dari krisis internal yang dialami masyarakat Barat di masa lalu, yang mencakup persoalan otentisitas kitab suci, problematika teologis, konflik antara agama dan sains, serta trauma terhadap rezim agama di abad pertengahan.
Tidak ada sekularisme tanpa liberalisme, karena ketika manusia melepaskan diri dari ikatan agama, mereka secara otomatis menuntut kebebasan absolut. Ide kebebasan di Barat setidaknya bertumpu pada empat pilar utama. Pertama, kebebasan berpikir (hurriyatul fikriah), memberikan hak bagi individu untuk menyampaikan pendapat apa pun, benar atau salah, tanpa sanksi. Kedua, kebebasan berakidah, membolehkan individu berpindah agama atau bahkan tidak beragama (ateis/agnostik).
Ketiga, kebebasan berperilaku (hurriyatul syakhsiyah), memberikan ruang bagi individu untuk bertingkah laku sesuka hati tanpa memedulikan nilai moral atau agama, yang kemudian memicu fenomena seperti LGBT. Keempat, kebebasan kepemilikan (hurriyatul tamaluk), dasar dari sistem kapitalisme, di mana individu bebas memiliki dan membelanjakan harta dengan cara apa pun.
Berbeda dengan sistem Barat yang bersumber dari hawa nafsu manusia, Islam menawarkan tatanan yang berbasis pada wahyu dan nilai ibadah. Kehidupan seorang Muslim memiliki arah yang jelas, di mana setiap aktivitas—dari bangun tidur hingga membangun negara—bernilai ibadah. Dunia saat ini sedang mengalami “kekeringan spiritual” dan disorientasi arah hidup. Tantangan bagi umat Islam saat ini adalah melakukan dakwah, amar makruf nahi mungkar. Islam dapat hadir sebagai rahmat bagi semesta alam dan solusi atas kerusakan peradaban yang ditimbulkan oleh ide kebebasan liberal.[] AIK
Disarikan dari kajian YouTube Ngaji Shubuh TV:
