Saat Bumi Terasa Menghimpit
Dalam bentang sejarah kenabian, terdapat sebuah fragmen waktu yang begitu menyesakkan, yang kita kenal sebagai Tahun Kesedihan. Pada saat itu beliau baru saja kehilangan Abu Thalib, sang tameng fisik dari intimidasi kafir Quraisy, dan Sayyidah Khadijah, pelipur lara yang merupakan pilar spiritualitasnya. Di tengah desir angin sejarah yang kian dingin, beliau melangkah ke Thaif untuk mencari pertolongan (Thalab Nusrah), namun yang didapat justru lemparan batu dan penolakan kasar dari Bani Tsaqif.
Di titik nadir inilah, sebuah orkestrasi langit dimulai. Peristiwa Isra Mikraj hadir bukan sekadar hiburan ruhaniah, melainkan sebuah deklarasi bahwa ketika pintu bumi tertutup rapat, gerbang langit terbuka lebar. Ada sebuah paradoks kemenangan yang indah di sini: saat manusia (Bani Tsaqif) menolak, Allah menggerakkan Jin Nasibin dari Yaman untuk mendengarkan Al-Qur’an dan beriman. Ini adalah pesan bagi siapa pun yang merasa dunianya sedang menghimpit: kemenangan sering kali lahir dari rahim kesulitan yang paling kritis.
Subhaana: Bukti Bahwa Ini Bukan Sekadar Mimpi
Secara linguistik, ayat pertama surat Al-Isra adalah mahakarya Bara’atul Istihlal—keindahan awalan yang merangkum seluruh esensi pesan. Penggunaan kata Subhaana (Maha Suci) berfungsi untuk menyucikan Allah dari segala keterbatasan dimensi ruang dan waktu. Ini adalah bantahan telak bagi mereka yang menganggap Isra hanyalah mimpi. Jika itu sekadar mimpi, Allah tidak perlu mengawalinya dengan tasbih yang merujuk pada kemahakuasaan fisik yang melampaui logika manusia.
Keagungan ini semakin dipertegas dengan frasa bi’abdihi (hamba-Nya). Dalam kajian balaghah, penyandaran kata hamba kepada kata ganti Allah disebut sebagai Idhafatut Takrim wat-Tasyrif (penyandaran untuk memuliakan). Allah memanggil Nabi Muhammad dengan sebutan “hamba-Nya” untuk menunjukkan bahwa beliau telah mencapai puncak tujuan penciptaan manusia. Perjalanan ini melibatkan jasad dan ruh dalam keadaan sadar (yaqzhah), menembus kemustahilan materi.
“Peristiwa Isra Mikraj menunjukkan kemahakuasaan Allah yang menciptakan dimensi ruang dan waktu. Sebagai pencipta, Allah Maha Kuasa melampaui batas-batas kekuasaan manusia untuk menyingkat dimensi tersebut dalam sepotong malam yang singkat.”
Geopolitik Akhir Zaman: dari Masjidil Haram ke Al-Aqsa
Perjalanan dari Masjidil Haram (Makkah) ke Masjidil Aqsa (Palestina) adalah sebuah “inspeksi lokasi” strategis bagi peta kekuasaan masa depan. Saat itu, Makkah dikuasai oleh Kafir Quraisy dan Yerusalem berada dalam cengkeraman Imperium Bizantium. Dengan mengimami para nabi di Al-Aqsa, Nabi Muhammad ﷺ mendeklarasikan diri sebagai Sayyidul Anbiya (pemimpin para nabi), sekaligus memberikan isyarat bahwa kepemimpinan dunia akan berpindah ke tangan umat Islam.
Jarak yang secara tradisional menempuh 1.460 km dan membutuhkan waktu 40 hari perjalanan darat, diringkas Allah hanya dalam waktu semalam (lailan). Secara geopolitik spiritual, ini menetapkan Palestina sebagai Ardlul Muqaddasah dan pusat kekuasaan Islam (Darul Islam) di akhir zaman. Sebagaimana disiratkan dalam hadits, ketika Khilafah tegak di bumi Al-Quds, itulah tanda kemenangan final yang dijanjikan.
Saat Allah Mengubah Cara-Nya Menyapa
Keindahan balaghah dalam ayat ini mencapai puncaknya pada teknik Iltifat, yakni perubahan kata ganti untuk memberikan penekanan emosional dan teologis. Perhatikan tiga pergeseran dinamis ini:
- Subhanalladzi (Maha Suci Dia): Menggunakan kata ganti orang ketiga (Ghaib) untuk menunjukkan keagungan Allah yang transenden.
- Barakna (Yang telah Kami berkahi): Tiba-tiba berubah menjadi kata ganti orang pertama jamak (Mutakallim). Perubahan ke “Kami” ini menunjukkan kedekatan dan keterlibatan langsung Allah dalam melimpahkan keberkahan di sekeliling Masjidil Aqsa, baik secara fisik (kesuburan tanah dan sungai) maupun maknawi (warisan para nabi).
- Innahu hua (Sesungguhnya Dia): Di akhir ayat, Allah kembali ke kata ganti orang ketiga. Penggunaan kata hua di sini disebut sebagai Dlamirul Fasl, yang berfungsi untuk taukid (penegasan) dan khususiyyah (eksklusivitas). Ini menegaskan bahwa hanya Allah semata yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat atas segala perjuangan dan doa hamba-Nya.
Kritik untuk Umat Hari Ini: Jangan Terjebak dalam Urusan Furu’
Merenungkan Isra Mikraj seharusnya melahirkan kesadaran politik yang luas, namun ironisnya, umat hari ini sering kali terjebak dalam labirin perdebatan furu’ (cabang). Ada jurang pemisah yang tragis antara apa yang kita perdebatkan dengan apa yang sedang terjadi di dunia nyata:
- Kesibukan Umat: Masih terjebak dalam perselisihan tanpa ujung mengenai panjang jenggot, isbal, tahlilan, atau bidah-tidaknya sebuah perayaan.
- Realitas yang Memanggil: Penindasan sistematis di Palestina, hilangnya kedaulatan syariat secara kaffah, dan urgensi persatuan politik umat.
Kita harus jujur pada diri sendiri: saat kita masih sibuk berdebat soal urusan jenggot, saudara-saudara kita di Palestina sedang kehilangan nyawa dan kepala mereka. Ketajaman kritik ini bertujuan untuk menyadarkan kita dari tipu daya yang melalaikan.
“Seringkali umat disibukkan oleh setan dengan perkara-perkara kecil agar mereka lupa pada kewajiban besar. Ini adalah tipu daya setan untuk menyibukkan manusia dengan ilmu yang bukan ilmu hal (ilmu yang mendesak untuk diamalkan), sehingga mereka abai terhadap urusan utama umat.”
***
Menanti Titik Balik Kemenangan
Isra Mikraj mengajarkan bahwa fajar kemenangan sering kali terbit tepat setelah malam mencapai titik tergelapnya. Tahun kesedihan dan penolakan di Thaif bukanlah akhir, melainkan pengantar menuju perjalanan langit yang megah dan berdirinya Daulah Islamiyyah di Madinah. Peta kemenangan itu nyata, dan ia dimulai dari keteguhan memegang prinsip di tengah himpitan.
Kini, peta itu ada di hadapan kita. Namun, apakah kita akan terus membiarkan diri kita terfragmentasi dalam perselisihan kecil yang tidak produktif, ataukah kita akan mulai berkontribusi nyata untuk melukis kembali garis-garis kemenangan Islam di bumi Al-Quds?[]
Disarikan dari kajian dengan tema tersebut di NSTV:
