Dalam narasi kemajuan global kontemporer, sering kali muncul sebuah mitos yang dianggap sebagai kebenaran mutlak: bahwa kemajuan sains dan teknologi adalah anak kandung dari sekularisme dan demokrasi Barat. Kita seolah dipaksa percaya bahwa untuk mencapai puncak peradaban, sebuah bangsa harus menanggalkan identitas religiusnya dan mengadopsi cara hidup liberal. Namun, benarkah kemajuan intelektual harus dibayar dengan pengikisan iman?
Realitas sejarah dan peta kekuatan ekonomi hari ini menunjukkan pola yang jauh berbeda. Sains dan teknologi bukanlah properti eksklusif Barat, melainkan instrumen universal yang sering kali terhambat oleh bias ideologi.
Konflik Gereja vs Sains: Akar Trauma Sekularisme Barat
Pemisahan antara agama dan sains di Barat bukanlah fenomena alamiah, melainkan hasil dari trauma sejarah yang mendalam. Masalah utamanya berakar pada krisis otentisitas teks suci yang kemudian memicu benturan dengan fakta empiris.
Buku The Five Gospels mengungkapkan hasil penelitian yang mengejutkan: diyakini hanya sekitar 18% dari isi Injil yang benar-benar merupakan wahyu, sementara sisanya adalah perkataan manusia. Ketidakotentikan ini merembet pada kesalahan klaim sains yang dipaksakan oleh otoritas gereja, seperti teori Geosentris (bumi sebagai pusat semesta). Ketika Galileo Galilei dan Copernicus membuktikan teori Heliosentris (matahari sebagai pusat), gereja menanggapinya dengan represi, bukan diskusi.
“Masyarakat Barat masa itu dihadapkan pada pilihan eksistensial yang mustahil: setia pada doktrin gereja yang keliru, atau mengikuti fakta ilmiah namun dicap sebagai ‘infidel’ (kafir) dan menghadapi persekusi seperti tragedi Bartholomew’s Day Massacre.”
Trauma terhadap rezim agama yang represif inilah yang memaksa Barat membuang agama ke ranah privat (sekularisme) demi memberi ruang bagi akal untuk bernapas.
Universalitas Sains: Kemajuan tanpa Demokrasi
Sains pada dasarnya adalah hasil dari thariqah ilmiyah (metode ilmiah) yang bersifat universal. Fakta bahwa air mengalir dari tempat tinggi ke rendah atau hukum gravitasi berlaku sama bagi siapa pun, tanpa memandang apakah peneliti tersebut seorang Muslim, kapitalis, atau komunis.
Keberhasilan luar biasa Cina hari ini menjadi bukti tak terbantahkan bahwa kemajuan teknologi tidak membutuhkan demokrasi Barat. Cina menerapkan model yang unik: secara politik otoriter (komunis partai tunggal), namun secara ekonomi sangat materialistik (kapitalis). Dengan insentif materi sebagai penggerak, mereka berhasil melampaui raksasa Barat. Sebagai contoh, penjualan mobil listrik BYD mencapai 4,7 juta unit, meluluhlantakkan dominasi Tesla yang hanya mencatat 1,7 juta unit.
Namun, kita harus jeli membedakan antara Natural Science dan Social Science. Jika hukum alam bersifat netral, ilmu sosial (seperti Psikologi dan Sosiologi) sangat dipengaruhi oleh thariqah aqliyah (metode berpikir) dan maklumat sabiqah (informasi terdahulu). Di sinilah ideologi Barat menyusup, menafsirkan perilaku manusia melalui kacamata sekuler yang sering kali cacat secara nilai.
Ulil Albab: Kesadaran Intelektual yang Melampaui 9-to-5
Dalam Islam, akal tidak pernah diberangus; ia justru dimuliakan sebagai syarat taklif hukum. Al-Qur’an memperkenalkan profil Ulil Albab sebagai standar tertinggi seorang ilmuwan. Berdasarkan Surah Al-Imran, Ulil Albab bukanlah peneliti yang hanya bekerja di jam kantor, melainkan manusia dengan “kesadaran omnipresent” yang memadukan zikir dan fikir.
Profil ini ditandai dengan tiga posisi dasar manusia:
- Berdiri, Duduk, dan Berbaring: Simbol bahwa riset dan pengamatan ilmiah adalah bagian dari ibadah yang menyatu dalam seluruh helaan napas, bukan aktivitas sekuler yang terpisah dari ketuhanan.
- Fikir yang Transenden: Melakukan riset mendalam atas penciptaan langit dan bumi untuk menemukan kebenaran Sang Pencipta.
- Antitesis Arogansi: Hasil riset Ulil Albab selalu berujung pada doa, “Rabbana ma khalaqta hadza batila (Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia).”
Hal ini sangat kontras dengan arogansi industri Barat. Jika pembuat kapal Titanic dengan sombong mengklaim bahwa “Tuhan pun tidak bisa menenggelamkan kapal ini,” ilmuwan Muslim justru semakin merunduk dan takut kepada Allah seiring dengan semakin dalamnya ilmu yang mereka kuasai.
Mengapa Kita Harus “Merebut” Teknologi
Umat Islam perlu menyadari strategi hegemonik Barat: mereka sangat agresif mengekspor “produk pemikiran yang rusak” seperti liberalisme dan sekularisme untuk merusak cara pandang kita, namun sangat protektif terhadap sains dan teknologi.
Pengalaman dalam desain engineering PLTP Lahendong di Sulawesi Utara menjadi pelajaran pahit. Bermitra dengan perusahaan Prancis dengan janji “alih teknologi” ternyata hanya isapan jempol. Para insinyur lokal hanya dijadikan penonton, sementara desain dan perhitungan dasar tetap dirahasiakan sebagai komoditas komersial.
Barat tidak akan pernah memberikan kunci kekuatan mereka secara cuma-cuma. Karena itu, umat Islam harus berhenti menjadi konsumen pasif. Kita harus memiliki mentalitas untuk “merebut” teknologi—mempelajari, meniru, memodifikasi, dan melampaui—sebagaimana yang dilakukan oleh Cina. Kita harus menjadi “pemburu teknologi” bukan sekadar pemakai ideologi sampah.
Epistemologi dan Aksiologi: Syariah sebagai Pengendali Ilmu
Perbedaan mendasar antara sains Islam dan Barat terletak pada Aksiologi (pemanfaatan ilmu). Dalam Islam, teknologi adalah alat pengabdian, bukan instrumen hegemoni atau pemuas nafsu materialistik semata.
- Epistemologi (Basis Ilmu): Berakar pada Tauhid, di mana setiap penemuan sains adalah cara mengenal ayat-ayat Allah.
- Aksiologi (Tujuan Ilmu): Dikendalikan penuh oleh Syariah.
Contoh nyata terlihat pada teknologi Bayi Tabung. Islam menyambut teknologi ini sebagai solusi selama menjaga nasab (sperma dan sel telur suami-istri sah). Sebaliknya, Barat tanpa kendali aksiologi yang jelas menciptakan kekacauan melalui bank sperma dan penyewaan rahim (surrogacy) yang merusak tatanan keluarga. Demikian pula dalam teknologi persenjataan; bagi Barat itu adalah alat okupasi, bagi Islam itu adalah sarana futuhat dan menjaga kedaulatan untuk menyebarkan rahmat ke seluruh alam.
***
Menatap Masa Depan Intelektual Islam
Sains dan teknologi hanyalah alat. Tantangan terbesar kita hari ini bukanlah keterbatasan kecerdasan, melainkan hilangnya orientasi epistemologi Islam dalam institusi pendidikan kita. Kita telah lama mengekor pada cara pandang Barat yang memisahkan dunia dari akhirat, yang mengakibatkan kemajuan kita kehilangan ruh.
Untuk meraih kembali era keemasan Al-Khawarizmi dan Ibnu Sina, kita tidak membutuhkan sekularisme. Kita membutuhkan sebuah revolusi epistemologi—membangun kembali institusi pendidikan yang meletakkan Akidah Islam sebagai fondasi bagi penguasaan teknologi mutakhir.[]
Disarikan dari kajian dengan tema tersebut di NSTV:
