Dalam perjalanan dakwah para nabi dan rasul, mereka tidak pernah sepi dari para penentang dakwah. Sudah menjadi sunnatullah dakwah, setiap dakwah para nabi dan rasul mendapatkan ujian tersebut. Sebagaimana Fir’aun, seorang raja sombong yang mengaku dirinya Tuhan telah menjadi penghalang dakwah Nabi Musa as., hingga jasadnya menjadi bukti kekafiran dan kezalimannya. Begitu pun dengan nabi-nabi lainnya yang mendapatkan halangan luar biasa dari musuh-musuh Allah Swt.
Sementara itu, menentang dakwah Allah Swt. ibarat seseorang yang mencoba memadamkan api matahari dengan tiupan mulutnya. Bukan apinya yang padam, melainkan orang tersebut yang akan kehabisan napas dan binasa dalam kesia-siaan. Bukannya apinya yang padam, justru mereka yang akan dilahap panasnya api matahari. Perbuatan yang mengundang murka Allah Swt. hingga telah disiapkan neraka yang membara untuk mereka yang membangkang perintah-Nya.
Para penentang di zaman Nabi Muhammad saw. seperti Al-Walid bin Al-Mughirah, Abu Jahal, dan Al-As bin Wail, tidak hanya menolak secara pasif, tetapi juga melakukan stigma negatif dan framing jahat. Mereka menyebut Al-Qur’an sebagai dongeng orang terdahulu (asatirul awalin), syair, bahkan mantra sihir untuk menjauhkan masyarakat dari kebenaran. Dalam Surah Al-Furqan ayat 30, terekam sebuah pengaduan memilukan dari Rasulullah ﷺ: “Wahai Rabbku, sesungguhnya kaumku telah menjadikan Al-Qur’an ini sesuatu yang diabaikan”. Pengaduan seorang Rasul kepada Tuhannya merupakan pertanda kebinasaan bagi kaum tersebut.
Salah satu tokoh penentang yang paling keras adalah Al-As bin Wail. Ia pernah melakukan olok-olok terhadap konsep hari kebangkitan saat ditagih utang oleh sahabat Khabbab bin al-Aratt. Al-As dengan sombongnya berkata bahwa ia akan membayar utangnya di akhirat nanti setelah ia diberi harta dan anak, sebuah ucapan yang murni bertujuan untuk menghina akidah Islam. Selain itu, Al-As bin Wail adalah orang yang menyebut Rasulullah ﷺ sebagai abtar (orang yang terputus nasab dan kebaikannya) ketika putra Nabi, Al-Qasim, wafat. Allah SWT kemudian membantah hinaan ini melalui Surah Al-Kautsar, menegaskan bahwa justru para pembenci itulah yang sebenarnya terputus dari segala rahmat dan kebaikan.
Kisah-kisah ini bukan sekadar narasi masa lalu, melainkan cermin bagi masa sekarang. Para penentang dakwah di zaman modern sering kali menggunakan cara-cara serupa, seperti persekusi fisik maupun lisan (stigma radikal dan lain-lain). Hal ini mengingatkan bahwa siapa pun yang menentang jalannya Allah, pada akhirnya akan menghadapi kerugian besar di dunia dan akhirat. Penting untuk diingat bahwa dakwah Rasulullah ﷺ mencakup seluruh aspek kehidupan, termasuk politik dan kepemimpinan negara di Madinah, yang Beliau saw. gunakan sebagai sarana untuk memperkuat penyebaran Islam.[] AIK
Resume Kajian YouTube Ngaji Shubuh TV
