Pernahkah Anda bertanya-tanya mengapa banyak orang yang bisnisnya raksasa dan hartanya melimpah, namun hidupnya tetap diliputi kegelisahan? Di sisi lain, kita melihat angka keuntungan terus meroket, tetapi ketimpangan sosial justru semakin tajam. Kita akan menyadari bahwa fenomena ini berakar pada satu kata kunci: keberkahan. Bisnis bukan sekadar strategi pemasaran, melainkan tentang niat, cara, dan ketaatan yang membawa ketenangan batin.
Masalah Ekonomi Bukanlah Kelangkaan Barang
Selama ini, teori ekonomi konvensional mendoktrin kita bahwa masalah utama ekonomi adalah kelangkaan (scarcity). Namun, dalam kajian ekonomi Islam, terdapat argumen yang mematahkan asumsi tersebut.
Masalah asasi ekonomi bukan pada produksi. Teknologi modern saat ini sudah mampu memproduksi barang jauh melampaui jumlah manusia. Kita bisa memproduksi mobil dan smartphone melebihi jumlah penduduk bumi. Secara faktual, sumber daya alam kita mampu menopang hingga 50 miliar manusia, sementara penduduk bumi saat ini hanya sekitar 8 miliar. Menariknya, pertumbuhan penduduk dunia justru sedang mengalami tren penurunan (negatif), terutama di Eropa, Amerika, dan Jepang, akibat gaya hidup bebas dan keengganan berkeluarga.
Masalah sebenarnya adalah distribusi. Kelaparan terjadi bukan karena bumi berhenti menghasilkan pangan, melainkan karena ada sumbatan dalam cara barang tersebut sampai ke tangan manusia.
“Problem asasi dari ekonomi adalah masalah interaksi manusia yang terkait dengan barang dan jasa di tengah-tengah manusia… Bumi ini sudah disediakan oleh Allah SWT menghasilkan barang dan jasa yang sangat melimpah ruah.”
Ilusi Keadilan: Mengapa Akal Manusia Gagal Membagi Rata
Jika masalah utamanya adalah distribusi, mengapa kita tidak bisa membuat aturan yang adil? Jawabannya terletak pada keterbatasan akal manusia yang cenderung manipulatif.
Bayangkan para pembuat hukum yang duduk di parlemen. Untuk mencapai kursi tersebut, mereka seringkali membutuhkan biaya politik yang sangat besar. Akibatnya, saat membuat regulasi, prioritas mereka bukan lagi rakyat, melainkan bagaimana mengembalikan modal atau mengamankan perusahaan mereka sendiri. Inilah mengapa sering terjadi anomali: rakyat di negeri yang kaya batu bara dan gas justru harus membeli energi dengan harga mahal, sementara ekspor ke luar negeri justru jauh lebih murah. Keadilan versi manusia akan selalu relatif dan rentan ditumpangi kepentingan kelompok atau pemilik modal.
Manual Book Kehidupan: Tiga Dimensi Interaksi Manusia
Agar berfungsi optimal, manusia membutuhkan panduan dari Penciptanya. Analoginya seperti mobil Honda; jika Anda ingin mesinnya awet, Anda harus mengikuti manual book dari pabrikan Honda, bukan merek lain. Islam menyediakan panduan hidup yang mencakup tiga dimensi aturan atau nizham (peraturan/undang-undang):
- Dimensi 1: Hubungan manusia dengan Tuhan (Ibadah). Mengatur bagaimana kita menyembah Allah agar sesuai dengan rida-Nya.
- Dimensi 2: Hubungan manusia dengan dirinya sendiri. Mencakup aturan makan, minum, pakaian, dan akhlak. Mengapa Akhlak masuk dimensi individu? Karena akhlak (seperti jujur atau menghormati tamu) adalah perintah yang ditujukan pada diri sendiri secara sepihak, berbeda dengan perdagangan yang membutuhkan aturan dua belah pihak.
- Dimensi 3: Hubungan manusia dengan manusia lain. Inilah simpul sistem kehidupan yang terdiri dari Nizham Hukmi (Sistem Pemerintahan), Nizham Iqtishadi (Sistem Ekonomi), dan Nizham Ijtima’i (Sistem Sosial).
Nizham Iqtishadi hanyalah satu bagian dari ekosistem besar yang tidak bisa dipisahkan dari aturan lainnya.
Bahaya Penerapan Islam Secara Parsial
Menerapkan sistem ekonomi Islam harus dilakukan secara kaffah (menyeluruh). Mengambil Islam secara sepotong-sepotong justru sangat berbahaya dan bisa menimbulkan fitnah terhadap agama itu sendiri.
Sebagai contoh, bayangkan jika hukum sanksi Islam (seperti potong tangan bagi pencuri) diterapkan di tengah sistem ekonomi kapitalis yang membuat rakyat susah mencari kerja dan kelaparan. Ketika orang terpaksa mencuri demi menyambung hidup, lalu dihukum secara keras, maka Islam akan tampak “biadab” atau kejam di mata dunia. Keadilan Islam hanya akan bersinar jika sistem ekonominya menjamin distribusi kekayaan secara adil, sehingga tidak ada lagi alasan bagi seseorang untuk mencuri.
Senjata Rahasia: Tawakal Sebagai Strategi, Bukan Kepasrahan
Dalam menghadapi persaingan global yang berat, pengusaha Muslim memiliki “senjata rahasia”: tawakal. Ini bukan kepasrahan buta, melainkan sebuah strategi mental yang dahsyat. Tawakal yang benar membutuhkan tiga syarat:
- Visi Hidup yang Benar: Menyelaraskan seluruh tujuan bisnis hanya untuk mencari rida Allah.
- Keterikatan pada Syariah: Memastikan setiap akad dan cara mencari keuntungan tidak melanggar aturan-Nya.
- Memenuhi Sunnatullah (Ikhtiar Maksimal): Menjalankan strategi bisnis terbaik dan teknologi terbaru.
Dengan tawakal, seorang pengusaha tidak akan gentar menghadapi kekuatan duniawi manapun. Jika Amerika bisa bangga dengan satu kapal induk yang mengangkut 150 jet tempur, pengusaha Muslim memiliki “backing” berupa Sang Pencipta alam semesta. Selama syarat-syarat tawakal dipenuhi, pertolongan Allah adalah kepastian.
***
Kembali ke Panduan Sang Pencipta
Membangun bisnis di masa depan bukan lagi sekadar adu angka, melainkan adu ketaatan. Jika sistem buatan manusia saat ini terbukti terus melahirkan ketimpangan dan kegelisahan, mengapa kita masih ragu? Jika manual book yang kita gunakan sekarang jelas-jelas membuat mesin kehidupan kita rusak, sudah siapkah kita membuka kembali manual book yang telah disediakan oleh Sang Produsen Kehidupan, yaitu Islam?[]
Disarikan dari kajian dengan tema tersebut di NSTV:
